oleh

Kafir

TribunAsia.com

Oleh : Tendri

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Akhir- akhir ini kita berpolemik dan membahas kata kafir. Begitu pentingkah penggantian kata kafir itu ?, sehingga Said Agil syirad membawa- bawa NU dan dan keindonesiaan untuk menggantinya.  TGB pun bawa- bawa kepemimpinan Rasulullah di Madinah untuk membenarkan penggantian kata kafir itu.

Latar belakang penggantian kata kafir bukan karena permintaan saudara kita yang beragama bukan Islam. Tapi ada tujuaan politik terselip di sana.

Tuntutan kata kafir ini harus diganti karena kampanye dengan pendekatan agama Islam berhasil, terbukti dengan kemenangan Anis di DKI. Kata kafir jadi kekuatan yang menyatukan umat Islam, dan dipakai kembali dikampanye pilpres. Sepertinya berhasil, umat Islam banyak yang mendukung Prabowo. Kalaulah penggantian kata kafir itu digunakan untuk memecah dukungan Prabowo, maka terlambat; opini sudah terbentuk.

Penggantian kata kafir ini hanya usaha tanam saham politik, sebagai alat tawar menawar pembagian kue kekuasaan.

Kalau kata kafir ini bisa memecah belah bangsa sudah lama bangsa ini pecah, karena dari sejak Islam masuk ke Indonesia kata kafir ini telah digunakan.

Orang Islam pun jarang sekali memanggil temannya yang bukan beragama Islam, dengan panggilan kafir. Kata kafir itu dipakai diinternal orang Islam saja. Saya punya teman kristen bernama Ucok Bangun Sinaga, sejak tahun 1987 sampai sekarang saya tidak pernah panggil dia kafir. Jadi untuk apa kata kafir itu diganti ?. Banyak permasalahan bangsa yang lain perlu kita pikirkan. Untuk apa menghabiskan energi mengurusi kata kafir yg hanya dimanfaatkan masa kampanye pilpres.

Untuk Said Agil Syirad dan TGB jangan karena kepentingan pilpres kita seperti mengamandemen Al’quran. Kita semua mencintai negara ini, tetapi jangan kepentingan sesaat dan bawa- bawa keindonesiaan kita mendetorsi Alquran kita.

Ilmu agama saya jauh dibawah Said Agil syirad dan TGB, tetapi kata kafir itu ada dalam ayat-ayat Al’quran. Dan setiap tahun sebelum  sholat Idul Fitri dan Idul adha kita takbir. Dan ada kata kafirun dalam takbir itu. Bagaimana kita mentakbirkannya kalau kata kafirun itu kita ganti dengan non muslim ? .

Kata kafir ada dalam ayat-ayat Alquran yang artinya  untuk penyebutan orang- yang tidak percaya dengan ajaran Islam dan Rasulullah.

Kalau kata kafir itu ingin diganti non muslim. Kata muslim itu mempunyai arti selamat, jadi non muslim berarti tidak selamat. Lebih baik kata kafir dari pada non muslim.

Kata kafir menurut sebagian orang mengandung kebencian karena digunakan saat pilpres, dimana hanya ada dua calon yang saling berhadapan. Setelah pilpres kata kafir ini tidak akan dikampanyekan lagi, akan hilang dengan berakhirnya kampanye pilpres.

Tapi kata kafir akan tetap terdengar saat kita mengaji Al’quran, saat kita sholat dan saat kita takbir  sebelum sholat Ied. Kitapun kadang menangis mendengarkan kesyahduannya, karena disitu terdapat dimensi mengajak  orang yang membangkang untuk menyembah Allah dan masuk Islam.

Perlu diingat orang Islam tidak akan mau mengikuti ulama setinggi apapun ilmu agamanya kalau bertentangan dengan ajaran Islam, apalagi bertentangan dengan Al’quran. Kalaulah ingin menggunakan agama Islam dalam kampanye pilpres carilah yang tidak bertentangan dengan Alquran, biar bisa mengambil suara umat Islam.

Tinggalkanlah cara melihat Islam dengan kaca mata Indonesia. Mari melihat Indonesia dengan kaca mata agama Islam. Agama Islam diturunkan Allah ke dunia ini rahmatan lil alamin, untuk kebaikan semua manusia di dunia. Tidak akan bertentangan dengan Indonesia, selagi dijalan kebaikan dan untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *