oleh

Pemalsuan Akta Otentik, Majelis Hakim ke Saksi: Banyak yang Diurusi Jadi Nggak Ingat

Jakarta, TribunAsia.com – Sidang tindak pidana pemalsuan akta otentik dengan Terdakwa Tomy dengan pelapor Hon Khong pemilik 5 perusahaan dibidang tambang menghadirkan saksi-saksi di PN Jaktim. Dalam persidangan yang dipimpin oleh Majelis Hakim Tirolan Nainggolan SH bersama Tarigan Muda Limbong SH dan Antonius Simbolon SH MH mengatakan kepada saksi, tentang pekerjaan saksi dinilai penuh dengan kesibukan. Sehingga ketika dimintai keterangan saksi kerap mengutarakan jawaban “tidak ingat” atas pertanyaan-pertanyaan selama proses persidangan.

“Karena banyak yang diurusi jadi nggak ingat,” cetus Tirolan kepada saksi, Senin (4/3/2019).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Disamping itu, Tirolan bertanya kembali kepada saksi tentang sosok atas nama Joni. Lalu dia, pun mempertanyakan saksi lagi tentang pengalaman bertemu dengan Joni dan Surya dalam permasalahan akta yang mana dalam persidangan terkait surat-surat sedang diurus melalui Notaris yang ketahui sebelumnya bernama Rita Ginting.

“Saudara pernah tanya ke Joni kemana Joni, saudara pernah ketemu Pak Joni dan Pak Surya (suami notaris) ,” tanya majelis hakim.

Akan tetapi, saksi menjelaskan kepada Majelis Hakim pada saat itu, kata dia tugas yang dikerjakan terlalu banyak dan dia mengutarakan tidak ingat atas permasalahan yang berujung ke meja hijau. Ditambahkan saksi, dokumen tentang surat-surat untuk membuat sertifkat, yang diperintahkan oleh Joni dalam kesaksiannya selama dalam proses pembuatan surat tersebut persyaratan hendak dilengkapi. Terlebih, kata saksi atas nama Joni yang dimaksud telah meninggal karena sakit jantung.

“Karena banyak, saya nggak ingat aslinya sama Pak Joni nanti dilengkapi. Sudah meninggal karena jantung,” tandas saksi.

Diketahui, perkara tersebut terjadi pergeseran dilarang belakangi kepemilikan saham dari Chen Khai (Global Universe Enterprise Ltd) menjadi atas nama Terdakwa Tomy melalui Notaris Rita Imelda Ginting, SH.

Adapun ke-lima Perusahaan itu, PT Pertambangan Bumi Indonesia, PT Citra Bumi Minerindo, PT Eka Bumi Indonesia, PT Bumi Sulawesi Persada Mining dan PT Bumi Minerindo Ekatama. Keterangan singkat kronologis perkara, Hon Khong telah melepaskan sahamnya yang terdapat pada 5 Perusahaan tersebut kepada Mr Chen Kai ic, PT Global Universe Enterprise Ltd sebanyak 80 persen saham.

Selain itu, Jaksa Penutut Umum (JPU) tak lepas menggali informasi tentang berkas kelengkapan yang tengah diurus oleh saksi mulai dari notaris hingga proses di Kemenkum dan HAM. Kata JPU kepada saksi, penyerahkan berkas surat berupa akta dipertanyakan juga kelengkapan tanda tangan notaris.

“Masih inget nggak berapa kali atas permintaan kelengkapan berkas, saudara penuhi nggak. Apa tanggapan Gofil itu,” tanya Tri Wahyu.

“Penyerahan akte itu sudah jadi belum, ditanyakan tidak penghadap (yang bersangkutan) mana. Apakah diserahkan saudara apakah sudah ditandatangani notaris belum,” tanya JPU lagi kepada saksi.

Disela-sela pemeriksaan saksi-saksi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Law Office Sinurat-Simaremare dan Patners menyampaikan, jika kasus yang berjalan dipengadilan tidak terbukti, maka diharapkan kepolisian menangkap pelaku utama. Kata A. Hamonangan Sinurat SH MH, perkara pemalsuan akta otentik itu dinilai mempermalukan negara.

“Jadi pegawai Kumham Joni. Pesan saya Mabes Polri penyidik kasus ini harus sempurna melakukan penyidikan periksa kalau jika tidak terbukti tangkap itu semua. Memalukan Negara Republik Indonesia,” kata Sinurat selaku kuasa hukum terdakwa.

Kemudian, saksi yang dihadirkan diruang persidangan dicecar pertanyaan terkait rangkaian pembuatan akta dan biaya untuk mengurus surat dikantor notaris. Namun, Sinurat mengatakan, beberapa nama yang terlibat dalam perkara yang berujung kliennya menjadi Terdakwa di PN Jaktim seperti perantara (calo) dan lembaga Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum dan HAM) turut disebut-sebut dalam pemeriksaan saksi-saksi.

“20 M (miliar) katanya biaya calo dari 5 PT (Perusahaan) itu. Bagio calo (perantara), Subagio masuk kepada Gofir tarif masuk. Kelalaian Kumham itu pasif dia, inilah pelaku-pelaku Kumham hanya mengesahkan saja. Dia sifatnya pasif iyakan ?. Tapi bagaimana mungkin akte bisa berubah tangkap itu semua jangan mempermalukan orang asing nanti saham orang asing nggak mau investasi,” ungkap dia. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *