oleh

Kuasa Hukum Tomy : Penyidikan Kasus Ini Harus Sempurna Kalau Tidak Terbukti Tangkap Itu Semua

Jakarta, TribunAsia.com – Tim Kuasa Hukum terdakwa Tomy minta Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) menangkap pelaku yang telah mempermalukan negara dalam kasus tindak pidana pemalsuan surat akta otentik. Dalam pemeriksaan saksi-saksi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Law Office Sinurat-Simaremare dan Patners menyampaikan jika kasus yang berjalan dipengadilan tidak terbukti, maka diharapkan kepolisian menangkap pelaku utama.

“Dia hanya bilang dapat berkas dari Joni, jadi pegawai Kumham Joni. Pesan saya Mabes Polri penyidik kasus ini harus sempurna melakukan penyidikan periksa kalau jika tidak terbukti tangkap itu semua. Memalukan Negara Republik Indonesia,” ujar A. Hamonangan Sinurat SH MH, Senin (3/4/2019).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Kemudian, saksi yang dihadirkan diruang persidangan dicecar pertanyaan terkait rangkaian pembuatan akta dan biaya untuk mengurus surat dikantor notaris. Namun, Sinurat mengatakan, beberapa nama yang terlibat dalam perkara yang berujung kliennya menjadi Terdakwa di PN Jaktim seperti perantara (calo) dan lembaga Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum dan HAM) turut disebut-sebut dalam pemeriksaan saksi-saksi.

“20 M (miliar) katanya biaya calo dari 5 PT (Perusahaan) itu. Bagio calo (perantara), Subagio masuk kepada Gofir tarif masuk. Kelalaian Kumham itu pasif dia, inilah pelaku-pelaku Kumham hanya mengesahkan saja. Dia sifatnya pasif iyakan ?. Tapi bagaimana mungkin akte bisa berubah tangkap itu semua jangan mempermalukan orang asing nanti saham orang asing nggak mau investasi,” tegas penasehat hukum terdakwa kepada TribunAsia.com.

Perlu diketahui, kasus mencuat pada pertengahan tahun 2012 Terdakwa Tomy dalam kepentingan bisnis memperkenalkan investor asing dari negara China bernama Mr Ye dan Mr Sim dibidang tambang milik Hon Khong di Batam akan tetapi, bisnis tersebut tidak berlanjut antara ketiga orang itu.

Adapun ke-lima Perusahaan itu, PT Pertambangan Bumi Indonesia, PT Citra Bumi Minerindo, PT Eka Bumi Indonesia, PT Bumi Sulawesi Persada Mining dan PT Bumi Minerindo Ekatama. Dalam keterangan singkat kronologis perkara, Hon Khong telah melepaskan sahamnya pada 5 Perusahaan tersebut kepada Mr Chen Kai ic, PT Global Universe Enterprise Ltd sebanyak 80 persen saham.

Persidangan dipimpin Tirolan Nainggolan, SH bersama Antonius Simbolon SH MH dan Tarigan Muda Limbong, SH MH menuturkan dihadapan para saksi pekerjaan yang tengah diurus saksi dinilai penuh dengan kesibukan sehingga ketika dimintai keterangan saksi kerap menjawab tidak ingat.

“Karena banyak yang diurusi jadi nggak ingat. Saudara pernah tanya ke Joni keman Joni, Saudara pernah ketemu Pak Joni dan Pak Surya,” tanya majelis hakim.

Akan tetapi, saksi menjelaskan kepada Majelis Hakim pada saat itu, kata dia tugas yang dikerjakan terlalu banyak dan dia mengutarakan tidak ingat atas permasalahan yang berujung ke meja hijau. Ditambahkan saksi, dokumen tentang surat-surat untuk membuat sertifkat, yang sebelumnya diperintahkan oleh Joni akan dilengkapi. Terlebih, kata saksi Joni yang dimaksud itu telah meninggal karena sakit jantung.

“Karena banyak, saya nggak ingat aslinya sama Pak Joni nanti dilengkapi. Sudah meninggal karena jantung. Dia minta pertanggung jawab,” tandas saksi.

Selain itu, Jaksa Penutut Umum (JPU) tak lepas menggali informasi tentang berkas kelengkapan yang tengah diurus oleh saksi mulai dari notaris hingga proses di Kemenkum dan HAM. Kata JPU kepada saksi, penyerahkan berkas surat berupa akta dipertanyakan juga kelengkapan tanda tangan notaris.

“Masih inget nggak berapa kali atas permintaan kelengkapan berkas, saudara penuhi nggak. Apa tanggapan Gofil itu,” tanya Tri Wahyu.

“Penyerahan akte itu sudah jadi belum, ditanyakan tidak penghadap (yang bersangkutan) mana. Apakah diserahkan saudara apakah sudah ditandatangani notaris belum,” tanya JPU lagi kepada saksi. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *