oleh

Kisah Sukses Rakyat Petani Mangkit Rebut Bekas Lahan HGU

Minahasa, TribunAsia.com – Indra Nababan, Koordinator PMK HKBP Jakarta dan Simon Aling petani Minahasa Tenggara menceritakan kisah sukses rakyat petani Minahasa Tenggara untuk merebut bekas Lahan HGU PT Asiatik.

“Akhirnya penantian tiga dekade petani Mangkit terpenuhi. 515 sertifikat redistribusi tanah diterima petani Mangkit mantan buruh perkebunan kelapa HGU PT Asiatik, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Senin (29/10/2018),” kata Indra Nababan, Senin (4/3/2019).

Penyerahan dilakukan oleh Dirjen Agraria Mahasa Tenggara Muhammad Ikhsan yang mewakili Menteri Agraria dan Tata Ruan/Kepala Badan Pertanahan Nasional. Penyerahan sertifikat tanah ini merupakan koordinasi yang baik antara pusat –provinsi dan Pemerintah daerah Miahasa Tenggara.

Muhammad Ikhsan mengatakan,” redistribusi bekas  lahan  HGU PT Asiatik utuk dikawal dipastikan tidak ada penumpang gelap. Redistribusi lahan ini untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan memperkuat ekonomi rakyat,” kata Muhammad Yunus.

Senada hal itu, Bupati Minahasa Tenggara, James Sumendap, menegaskan,” Kepemilikan lahan bagi rakyat menciptakan mereka memiliki modal bertani, modal usaha dan ketrampilan mengembangkan pertanian,”kata James Sumendap.

Simon Aling, Perwakilan petani penerima sertifikat redistribusi lahan mengatakan,” Rakyat petani mengucapkan terima kasih bias memanfaatkan sertifikat. Tanah yang kami duduki telah memberikan sumber hidup dan menyekolahkan  anak,” kata Simon Aling.

 

Kronologis Bekas Lahan HGU PT Asiatik

Tahu 1982 HGU PT Asiatik yang berada di Desa Basaan dan Mangkit, Kecamatan Belang Kabupaten Minahasa Tenggara berakhir.

Buruh perkebunan yang tinggal dalam areal perkebunan menuntut pemanfaatan lahan, pembagian lahan dan diijinkan untuk mengolah lahan seluas 18 HA.

Perjuangan diawali oleh 100 buruh perkebunan yang diprakarsai 12 kelompok antaranya, Ismet Kalampo, Yansen, Yahya Bokang, Eren. Pada waktu itu mereka mengadu pada berbagai pihak, Sinode, DPRD dan Pemda.

Ikhtiar memperjuangkan pemanfaatan lahan itu, mereka dituduh penggarap liar, dikejar Brimob, Diintimidasi Polisi.

Tahun 1989  Pemda menyerahkan pengelolaan bekas lahan PT Asiatik pada  PT Papaliwaya, PT KInangmaya, PT Nusa Cipta Bakti. Kontrak penggunaan lahan ini  berakhir tahun 2007.

Lahan sudah terlantar tidak ada kegiatan. Petani menguasai 300 HA dari 453 HA bekas HGU. Tuntutan rakyat seluas 663 HA berlokasi di desa Mangkit yang dihuni oleh 220 KK dan 752 jiwa.

Akhir perbincangan Indra Nababan mengatakan, “Kisah Sukses rakyat petani ini harus diduplikasi jadi contoh  ditempat lain. Bagaimana rakyat merebut bekas lahan HGU,” pungkas Indra Nababan. (HD/GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *