oleh

Menyelami Pemikiran dari Doa

TribunAsia.com

Oleh : E. Firmansyah

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Ustaz Danu, dalam suatu acara di televisi swasta, sebelum mendoakan seorang jemaahnya, selalu terlebih dahulu bertanya. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan apa penyakit yang diderita, bagian tubuh mana yang dirasakan sakit, rasa sakit seperti apa yang dirasakan, dan peristiwa aneh apa saja yang pernah dialami. Lalu, ditanyakan pula pernah tidak ia marah atau jengkel kepada suami atau istri, marah atau jengkel kepada orang tua atau mertua, dan jengkel kepada anak. Ditanyakan pula, adakah keinginan yang menggebu-gebu, tetapi belum tercapai.

Keinginan tersebut termasuk keinginan menikah, tetapi belum bertemu jodoh, keinginan memiliki anak, tetapi belum tercapai atau ingin dagangannya laris, bisnisnya lancar, dan karirnya menanjak. Ustaz Danu biasanya juga bertanya pernahkah ke dukun atau ke “orang pintar” untuk mengobati penyakit atau mencapai keinginan tersebut. Itu semua berkaitan dengan penyebab penyakit atau kerasukan jin yang sering diderita jemaahnya.

Dialog tersebut merupakan upaya Ustaz Danu mengidentifikasi masalah yang dihadapi jemaahnya. Masalah tersebut berkaitan dengan masalah medis dan nonmedis. Informasi tersebut diperlukan Ustaz Danu untuk membangun persepsi atau pemikiran terkait doa seperti apa yang akan dipanjatkan.

Dengan demikian, doa yang disampaikan sangatlah berkaitan dengan perepsi atau kontruksi pemikiran seperti apa yang dibangun. Konsruksi pemikiran tersebutlah yang lahir dalam bentuk doa kepada orang yang didoakan.

Hubungan erat antara konstruksi pemikiran dan doa tersebut memungkinkan kita menelusuri atau menyelami pemikiran atau persepsi. Terutama menyelami pemikiran orang yang berdoa terhadap orang yang didoakan. Doa yang dimunculkan dalam bentuk lisan atau tulisan itu lahir dari persepsi atau pemikiran terkait dengan kondisi yang didoakan dan harapan apa yang diinginkan.

Doa selalulah dilatarbelakangi oleh berbagai persepsi dalam pemikiran pendoanya.  Dalam konteks keseharian ketika kita berinteraksi di masyarakat, kita juga dapat menelusuri latar belakang pemikiran seseorang dari doa yang dipanjatkan.

Sehari-hari kita dapat temukan berbagai doa, misalnya agar orang yang didoakan mendapat hidayah,  doa agar seseorang diberi kesembuhan,  doa agar seseorang menjadi cerdas, dan doa agar orang tertentu diberi rezeki.

Bahkan dalam konteks sosial-politik akhir-akhir ini ada pula kita jumpai doa agar kelompok pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden atau calon legislatif tertentu yang tidak sama dengan pilihannya agar diberi hidayah misalnya.

Doa tersebut tentu dilatarbelakangi pemikiran bahwa yang memilih paslon atau calon legislatif yang sama itu adalah orang-orang yang mendapat hidayah sedangkan yang lain dengan pilihannya belum mendapatkan hidayah Allah.

Dalam terminologi Islam,  orang yang belum mendapat hidayah berarti alam pikirannya masih alam pikiran jahiliah atau kebodohan (KBBI V), seperti zaman kegelapan ketika agama Islam belum diturunkan. Orang yang alam pikirannya masih dalam masa jahiliah, maka tindakannya masih belum tersentuh Nilai-nilai luhur Islam. Tindakannya pun masuk kategori barbar atau jahiliah karena lahir dari pemikiran jahiliah dan nuraninya pun kotor,  jauh dari kesucian nur Ilahiyah.

Orang yang menganggap dirinya telah dipenuhi nur Ilahiah karena telah mendapat hidayah,  akan terus menerus mendoakan saudaranya yang dianggap belum mendapat hidayah agar diberi petunjuk hidayah oleh Allah. Doa tersebut karena didasari keinginan agar saudaranya itu dapat menjadi ahli surga sebagai mana dirinya. Ia pun berupaya memberi penyadaran,  selalu mengingatkan,  dan berupaya memengaruhi alam pikiran saudaranya yang dianggap belum mendapat pencerahan dengan berbagai cara agar segera mendapat hidayah sebagaimana dirinya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa doa yang dipanjatkan secara lisan atau tulis lahir dari persepsi atau konstruksi pemikiran tertentu. Konstruksi pemikiran tersebut melahirkan doa yang dipanjatkan kepada Allah untuk orang lain yang dipersepsikannya. Saling mendoakan agar saudaranya sebangsa mendapat kebaikan dan melangkah dalam jalan kebenaran sebagaimana dirinya tentu baik dan sah-sah saja.

Perbedaan bahkan bertentangan antara satu doa dengan yang lainnya itu merupakan suatu kewajaran karena doa itu lahir dari persepsi dan pemikiran sedangkan pemikiran setiap orang berbeda sesuai kecenderungannya pada paslon pres-wapres atau calon legislatif tertentu. Itu semua wajar di alam demokrasi. Hal yang penting adalah tertanam kesadaran bahwa kita semua bersaudara dalam bingkai Negara Republik Indonesia, NRI. (Jkt., 3-3-2019)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *