oleh

KPU Ambon : Partisipasi Pemilih Perempuan Meningkat

Ambon, TribunAsia.com – Partisipasi pemilih di Kota Ambon meningkat berdasarkan hasil pemilihan Wali Kota Ambon 2017 lalu. Peningkatan juga terjadi saat pemilihan gubernur 2018. Karena itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) yakin, partisipasi pemilih di pemilu kali ini jauh lebih baik

Berdasarkan data KPU Kota Ambon, peningkatan pertisipasi pemilih, justru terjadi di kalangan perempuan. Sementara untuk laki-laki masih di bawah.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Partisipasi pemilih di Kota Ambon makin meningkat. Mulai dari Pilwakot sampai Pilgub kemarin mencapai 68, 4 persen. Kebanyakan pemilih perempuan. Kita berharap lebih meningkat lagi di pileg,” kata Komisioner KPU Kota Ambon, Rieke Uruilal kepada awak media, saat melakukan sosialisasi partisipasi pemilih di Politeknik (Poltek) Negeri Ambon.

Meski terjadi peningkatan, KPU terus melakukan sosialisasi kepada ke masyarakat, termasuk pemilih pemula dikalangan mahasiswa. Untuk memberikan hak suaranya saat pemilihan nanti. Kegiatan yang sama juga dilakukan kepada perempuan, dan penyandang disabilitas.

Upaya tersebut, juga diperkuat dengan kerjanya relawan demokrasi yang saat ini sudah dibentuk oleh KPU dan mulai bekerja. ”Prinsipnya seperti itu. KPU sebagai penyelenggara punya hak berikan sosialisasi ke masyarakat. Terutama pemilih pemula. Makanya yang dilakukan hari ini, dengan melibatkan Mahasiswa Poltek, Unpatti, Darussalam dan IAIN,’’ ujarnya.

Ketua Devisi SDM Partisipasi Masyarakat dan Pendidikan KPU Kota Ambon ini menegaskan, dengan jumlah pemilih yang cukup banyak, sosialisasi ekstra perlu dilakukan. Apalagi pemilihan kali ini, warga harus mencoblos lima kertas suara. ”Berbeda dengan sebelumnya. Tentu membingungkan pemilih apalagi yang sudah lansia,” katanya.

“Kali ini memang agak ribet, karena satu orang harus mencoblos lima kertas suara. Makanya kita harus maksimal melakukan sosialisasi,” ungkapnya.

Akademisi Universitas Pattimura Ruslan Tawari pada kesempatan itu mengatakan, pemilih yang rasional harusnya memberikan hak suaranya saat pemilu nanti. Dia menegaskan bahwa, istilah golput bukanlah solusi dalam menentukan nasib daerah maupun bangsa kedepan.

Meski, kata dia, itu bagian dari hak setiap warga negara tetapi, sebagai pemilih cerdas tidak perlu mengabaikan hak politiknya terbuang begitu saja. Yang rugi adalah generasi kedepan. Dimana wakil rakyat maupun kepala daerah bukanlah orang yang tepat.

”Kalau saya seperti itu, Golput bukan solusi untuk memajukan suatu bangsa. Ini keliru, karena nasib suatu daerah ditentukan oleh keterwakilan wakil rakyat di DPRD, pemda maupun kepala Negara, yang kita pilih. Kalau kita tidak memilih, maka orang lain yang memilih berdasarkan keinginannya,” bebernya. (IGT)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *