oleh

Khazanah Al-Qur’an

TribunAsia.com

Ingatlah Pemberian Allah Agar Engkau Tidak Melanggar Perintah-Nya!

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Manusia adalah makhluk yang sangat unik. Ia diciptakan dari segumpal tanah kemudian dari air sperma yang hina, lalu ia berani menjadi makhluk yang paling ingkar terhadap Tuhannya.

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ

“Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhannya.” (QS. Al-‘Adiyat: 6)

Begitulah watak manusia. Ia sering lupa siapa dia sebenarnya. Ia sering lupa siapa yang selama ini memberi segalanya.

Karena itu Al-Qur’an selalu mengajak kita untuk mengingat nikmat, kebaikan dan pemberian Allah swt.

Rasa syukur itulah yang akan menyadarkan ketika kita ingin melanggar perintah-Nya..

Rasa syukur itulah yang akan menahan kita dari perbuatan dosa..

Ketika kita selalu sadar bahwa semua yang kita miliki adalah pemberian-Nya, maka kita akan malu untuk melanggar perintah-Nya. Bukankah Allah swt berfirman,

 

وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُۚ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)

Selain memberi informasi bahwa nikmat Allah mustahil dapat dihitung, ayat ini juga memberi peringatan keras terhadap jiwa-jiwa yang ingkar.

Tidakkah kita punya sedikit rasa malu dihadapan-Nya?

Allah telah memberi semua yang kita butuhkan, lalu kita berpaling dari-Nya…

Allah telah memberi segalanya, namun kita tetap rutin melanggar perintah-Nya…

Bukankah dulu kita dalam keadaan takut, kemudian Allah memberi rasa aman…

Kita dalam keadaan lapar lalu Allah memberi makan..

Kita dalam keadaan sendiri, lalu Allah menitipkan kita pada orang tua yang penuh kasih sayang..

Sebagaimana Allah menceritakan bagaimana orang-orang yang hidup bersama Rasulullah saw yang dulunya tertindas kemudian Allah menyelamatkan mereka dan memberi rasa aman.

 

وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ أَنتُمۡ قَلِيلٞ مُّسۡتَضۡعَفُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ ٱلنَّاسُ فَـَٔاوَىٰكُمۡ وَأَيَّدَكُم بِنَصۡرِهِۦ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

“Dan ingatlah ketika kamu (para Muhajirin) masih (berjumlah) sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), dan kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Dia memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Anfal: 26)

Mengingat kenikmatan-kenikmatan Allah akan membuat kita menjadi malu dan menahan diri untuk melanggar-Nya.

Allah swt telah memberi akal yang sempurna, namun kita menggunakannya untuk memikirkan cara bermaksiat.

Allah memberi telinga yang sempurna, lalu kita gunakan untuk mendengar sesuatu yang dibenci oleh-Nya.

Allah memberi mata, kemudian kita lebih senang melihat sesuatu yang tidak disenangi Allah swt.

Dalam sebuah petikan doa dalam munajat-munajat shalat malam disebutkan, “Ya Allah aku memohon ampun kepada-Mu dari kenikmatan yang telah Engkau berikan kepadaku, namun kujadikan semua nikmat itu yang menguatkan diriku untuk melanggar ketentuan-Mu.”

Ingatlah selalu nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, agar mampu menjadi rem yang menahan kita dari kemaksiatan dan dosa. Karena orang yang waras hanyalah orang yang tau balas budi.

Setelah semua pemberian Allah kepada kita, apakah kita akan terus memancing amarahnya dengan memanfaatkan kenikmatan itu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *