oleh

Penguatan Partisipasi Politik

Jakarta, TribunAsia.com – Proses politik ialah jantung demokrasi. Gagasan bahwa warga negara mesti aktif terlibat dalam proses politik ialah jantung demokrasi.

Pertanyaan, mengapa orang memilih ikut serta dalam dinamika politik kebangsaan, sedangkan yang lain apatis?

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Terdapat asumsi, partisipasi politik berkaitan erat dengan kemampuan warga bangsa untuk terlibat. Ini berarti orang dengan status sosial ekonomi lebih tinggi kemungkinan besar akan menjadi lebih aktif dalam proses politik.

Karena mereka memiliki waktu, uang, dan/atau keterampilan kewarganegaraan yang diperlukan untuk itu. Penelitian menunjukkan, orang yang merasa terancam ternyata lebih mungkin terlibat dalam proses politik, dapat melalui menyumbangkan sejumlah uang kepada kelompok kepentingan yang bekerja untuk menghindari ancaman.

Karena mereka melihat adanya peluang untuk mengubah kebijakan ke arah yang mereka inginkan. Di era informasi seperti sekarang ini terdapat kekuatan pendorong yang menopang bentuk-bentuk partisipasi politik baru, yang dalam banyak kasus sangat berbeda dengan bentuk-bentuknya di masa lalu.

Teknologi digital menawarkan peluang terlibat dalam berbagai kegiatan yang berorientasi kemasyarakatan, seperti sekadar mengekspresikan rasa suka (dengan simbol like), bergabung komunitas politik secara online, atau bergabung forum diskusi di dunia maya, pesertanya dapat berkontribusi dalam keterlibatan demokratisnya lebih dalam.

Bagi individu, kegiatan demikian dapat menjadi jalur menuju partisipasi yang lebih nyata dalam realitas politik yang sesungguhnya sebagai warga negara yang baik

 

Motivasi Intrinstik dan Ekstrinsik

Sebenarnya motivasi untuk melakukan aktivitas apa pun secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua:

INTRINSIK, yaitu mencari kesenangan, dan ekstrinsik, untuk kepentingan orang lain. Dalam setiap kasus komunikasi persuasif dapat dilakukan berbagai tindakan yang mengarahkan pada dampak yang dikehendaki.

Dalam konteks politik, organisasi politik berusaha meyakinkan warga agar mendukung organisasinya, bergabung kampanye dan menyediakan sumber daya keuangan. Dengan kata lain, faktor yang mendorong orang berpartisipasi dapat berasal dari dalam dan luar.

Upaya memobilisasi pendukung kini dapat dilakukan dengan sangat strategis dan dipercepat secara signifikan dengan mengadopsi media sosial secara masif. Di era digital, organisasi politik tidak hanya berupaya memobilisasi pendukung secara langsung, tetapi juga memanfaatkan para aktivis dunia maya.

Media sosial memungkinkan setiap pengguna untuk memainkan peran sebagai aktivis. Setiap tindakan demikian, dengan sengaja atau tidak, dapat memiliki dampak mobilisasi dukungan pada orang-orang di dalam jaringan online yang mereka miliki.

Semakin besar ukuran jaringan, semakin besar peluangnya untuk melakukan mobilisasi. Theocharis (2015) menggunakan istilah jaringan partisipasi digital untuk menggambarkan “tindakan mengaktifkan jaringan pribadi seseorang melalui media digital dengan tujuan memobilisasi orang lain untuk tujuan sosial atau politik yang merupakan mode partisipasi dengan berbagai manifestasi”.

Motivasi, seperti yang dijelaskan teori determinasi diri, merupakan interaksi antara sikap pribadi terhadap tindakan tertentu dan persuasi eksternal. Motivasi intrinsik bergantung pada sikap pribadi yang memberikan evaluasi hedonis. Misalnya, apakah suatu tindakan itu menarik, menyenangkan atau memberikan kepuasan.

Motivasi ekstrinsik menyarankan orang mencari persetujuan dan penghargaan dari orang lain, dan dalam eksperimen terbukti, semakin besar hadiah semakin tinggi kemungkinan tindakan sebagaimana yang diharapkan. Meskipun beberapa penelitian menunjukkan, motivasi yang dipandang lebih dominan ialah intrinsik.

Berupa mencari kesenangan, realisasi diri dan kesejahteraan pribadi. Namun, dalam studi–studi lebih lanjut diyakini, motivasi intrinsik dan ekstrinsik secara bersama-sama mengatur perilaku meskipun kekuatan dari setiap rangkaian motivasi itu dapat bervariasi.

Ini berarti individu cenderung melakukan tindakan ketika mereka memiliki motivasi intrinsik dan atau ekstrinsik yang kuat. Sejauh mana orang menjadi termotivasi melalui strategi mobilisasi organisasi politik atau rekan dalam jaringan melalui media sosial masih menjadi perdebatan.

Tesis mobilisasi berpendapat akses ke teknologi digital memiliki kapasitas mendorong peserta baru ke dalam kehidupan politik. Khususnya di kalangan warga yang lebih muda (Hirzalla dkk: 2010). Tesis ini menyarankan motivasi ekstrinsik cenderung mendominasi. Sebaliknya, penelitian lain menunjukkan teknologi digital memperkuat pola perilaku warga yang ada dan melengkapinya; Memperkuat komitmen untuk membentuk aktivisme (Dutta-Bergman: 2006).

Ketika seseorang memutuskan memberikan suara dalam pemilihan, mungkin didorong sejumlah motif, misalnya alasan pribadi, kedekatan, dan sebagainya. (GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *