oleh

Merindukan Pejabat yang Tak Suka Berbohong

TribunAsia.com

Isma’il bin Wasith pernah mendengar sayyidina Abu Bakar radiyallahu‘anhu berkhutbah pasca meninggalnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku pernah dinasihati Rasulullah di tempat ini: ‘Jauhilah olehmu kebohongan karena kebohongan membawa pada keburukan, dan keduanya di dalam Neraka.” (Hadits Riwayat. Ibnu Majah).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Kebohongan dikatakan oleh Imam Al-Ghazali  dalam kitab “Ihyā’ Ulūmuddīn” adalah termasuk kepada  penyakit hati atau virus yang berbahaya bagi lisan manusia. Di antara yang beliau sebutkan dan jelaskan adalah kebohongan dalam ucapan dan sumpah. Jika ini dilakukan oleh seseorang, maka  merupakan bagian dari dosa-dosa yang sangat buruk dan aib yang keji.

Menukil riwayat At-Tirmidzi, Imam Ghazali juga mengemukakan penjelasan Rasulullah SAW  bahwa orang yang berbohong sejatinya berbau busuk. Begitu busuknya sehingga, malaikat pun menjauhinya dalam jarak satu mil. Tak hanya itu, kebohongan juga menyulut murka Allah SWT. Orang yang memiliki perangai seperti ini, kelak di akhirat tidak akan diajak berbicara dengan Allah Subhanhahu wata’ala.

Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa ada tiga  orang yang tak akan diajak berbicara oleh Allah, salah satunya adalah yang bersumpah dengan kebohongan. Selain itu, bahaya kebohongan yang lain adalah membuat orang masuk dalam kategori munafik. Sabda Rasulullah SAW, ada tiga ciri orang munafik: jika berjanji ia menyalahinya, jika diberi amanah, ia berkhianat dan jika berkata, dia berbohong. Hadits ini bisa dilihat dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Dalam sejarah yang bisa kita baca dan telusuri, musuh terbesar dari kalangan umat Islam adalah orang-orang munafik. Mereka sudah terbiasa menyembunyikan apa yang ada dibenak mereka. Secara lahiriah seolah membela Islam, namun kenyataannya, mereka amat membenci Islam. Kebohongan dalam berinteraksi sosial, adalah ciri khas mereka. Maka tak berlebihan jika kelak, neraka yang ditempati mereka adalah yang paling bawah.

Orang yang terbiasa berbohong, maka akan dicatat sebagai tukang bohong. Sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Muslim, “Seseorang yang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta.”  Bayangkan! dicap sebagai pembohong oleh menusia saja begitu menyesakkan, apalagi yang mengecapnya adalah Allah Subhanahu wata’ala. Hadits ini menunjukkan dengan sangat tegas bahaya kebohongan.

Ikhwan Akhwat…

Kebohongan sejak masa lalu memang senantiasa ada. Namun, jika kebohongan sudah dilakukan oleh publik figur, pejabat atau tokoh politik, maka akan berdampak buruk bagi kehidupan sosial. Akibat yang paling nyata adalah krisis kepercayaan di ranah sosial.

Kita jadi merindukan politisi-politisi yang jujur dan tak suka berbohong sebagaimana politisi-politisi di masa lalu. Sebut saja misalnya, Mohammad Natsir. Kehidupan Menteri Penerangan tahun 1946 dan Perdana Menteri Indonesia tahun 195-1951 ini dikenal sangat sederhana. Di samping kesantunan, kesederhanaan dan karakter luhur lainnya, beliau dikenal sebagai orang yang jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Jakoeb Oetama, dalam buku “100 tahun Mohammad Natsir: Berdamai dengan Sejarah”  mengakui kejujuran beliau, “Mohammad Natsir juga memiliki kualifikasi lain yang mengesankan. la sebagai politikus dan pemimpin partai adalah orang yang jujur. Dan masa itu, kejujuran termasuk tidak menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang merupakan ciri yang menonjol.”

Satu lagi sosok pejabat yang patut jadi panutan karena kejujurannya dalam bersikap, yaitu Agus Salim. Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta (1948-1949) ini hidup dalam kesederhanaan. Ia pernah tinggal di Gang Lontar Satu, satu daerah pinggiran di Jakarta. Beliau tercatat tak pernah tertarik untuk pindah ke hunian yang lebih mewah. Padahal dengan jabatannya sebagai menteri, hal tersebut tentunya bukanlah suatu hal yang sulit. Namun Agus Salim tetap hidup sederhana dan jauh dari kesan mewah.

Sejatinya banyak profil dan kisah para pejabat jujur yang pernah dimiliki oleh negeri ini dan dapat dijadikan sebuah pedoman dan panutan bagi pejabat yang sedang menjalankan masa jabatannya maupun para calon pejabat di masa yang akan datang. Rakyat masih menunggu dengan sabar apakah akan muncul dalam kesempatan yang tepat para pejabat jujur dan bersih yang akan memimpin negara atau berbagai daerah di negeri ini dengan sistem pemilihan pejabat yang konon memerlukan modal besar.

Wallahu ‘alam Bissawab. (Takut Rasil)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *