oleh

JPU Tuntut 3 Tahun Terdakwa Tindak Pidana Penipuan Mobil Ferarri Senilai Rp 4 Miliar

Jakarta, TribunAsia.com ­- Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Timur (JPU Kejari Jaktim) Felli Kasdi SH bacakan tuntutan dimuka persidangan dalam perkara penipuan pembelian mobil Ferrari senilai Rp 4 miliar. Duduk selaku Terdakwa Umar S Wani alias Andri Wijaya dituntut selama 3 tahun oleh penuntut umum.

Saat petikan tuntutan dibacakan, Felli Kasdi menyampaikan Terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana penipuan. Kata dia, David sebagai saksi korban tidak pernah menerima sebuah mobil dari tangan Terdakwa.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Saksi David hingga saat ini tidak menerima sebuah mobil yang dijanjikan terdakwa. Tterdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana penipuan dan dituntut hukuman selama 3 tahun,” kata Felli dalam petikan tuntutan, Senin (18/2/2019).

Lebih lanjut, dalam proses pembelian kendaraan mewah disebutkan oleh JPU, Terdakwa meminta uang senilai Rp 1 miliar terhadap korban pada saat di Rancamaya Bogor, Jawa Barat.

“Terdakwa meminta kepada saksi sebesar satu miliar di Rancamaya Bogor (Jabar),” singkatnya.

Namun, Majelis Hakim PN Jaktim menghimbau dalam persidangan untuk saling menjaga saat proses hukum berjalan. Dia berharap, persidangan berjalan dengan fair dan dikatakan kembali untuk agenda pekan depan pembelaan akan disampaikan oleh Tim Kuasa Hukum Umar S Wani alias Andri Wijaya.

“Disamping itu semua semua pihak menjaga agar persidangan itu dilakukan dengan fair. Kita dengar Kamis depan pembelaan dari kuasa hukum,” ujar Posma P Nainggolan SH MH.

Disamping itu, Bangun SH selaku Kuasa Hukum Umar S Wani turut berbicara perihal tuntutan yang dibacakan JPU dalam persidangan terhadap kliennya. Menurutnya, Kamis depan akan dia bantah dalam pleidoi atau nota pembelaan.

“Kita Kamis depan mengajukan pleidoi aja. Jadinya itu pendapatnya Jaksa lah.  mereka mau menuntut 1 tahun 2 Tahun 3 tahun 4 tahun itu urusan merekalah, kita bantahlah,” kata Bangun SH.

Kuasa Hukum berpendapat, saksi korban yang bernama David tidak pernah dihadirkan didalam persidangan. Akan tetapi, dia pun mempertanyakan alat bukti dan kembali menyebut korban yang merasa dirugikan enggan hadir di PN Jaktim.

“Kita kembali lagi melihat alat buktinya, alat bukti mereka itu apa, sedangkan saksi korban tidak dihadirkan, korban yang merasa mengalami kerugian saja tidak hadir dalam persidangan,” tandasnya.

Untuk itu, pada kesempatan pekan depan Bangun akan menuangkan kedalam agenda pleidoi mendatang.

“Ini bagaimana kita bilangnya, ya nanti semua akan kita tuangkan di dalam pleidoi dalam pembelaan kita aja,” imbuhnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *