oleh

Smile, You Are on Camera !

TribunAsia.com

Oleh : Imam Shamsi Ali

banner 336x280

“Tersenyumlah, karena anda direkam kamera!”

Itulah peringatakan Yang tertera di tempat-tempat di mana kamera pengamanan (security camera) biasa dipasang. Mengingatkan dengan cara candaan agar jangan coba-coba melakukan pelanggaran. Jika anda lakukan maka anda akan terekam kamera yang terpasang.

Sekiranya saya ambil ungkapan itu dalam konteks pengamanan Allah maka saya akan katakan “smile, you are under Allah’s watch”. Maknanya kira-kira adalah: tersenyumlah karena anda dalam penjagaan Allah.

Tentu saya tidak bermaksud menyamakan penjagaan manusia, apalagi hanya sebuah kamera, dengan penjagaan Allah.

Pertama karena memang Allah dan segala hal yang terkait dengan Dzatnya tidak mungkin sama dengan apa saja. Allah itu “Ahad” dan “Al-Fardu as-Somad”. Allah itu unik dan Tunggal dalam segala hal. Karenanya “laesa kamitslihi syae” (Dia tidak seperti apapun).

Kedua, ungkapan “you are on camera” biasanya konotasinya menjaga-jaga agar seseorang tidak terjatuh ke dalam pelanggaran dan kesalahan. Penjagaan dari aspek keburukan semata. Kamera tidak ada hubungannya dengan hal-hal positif yang seseorang lakukan.

Dengan kata lain, kamera itu dipasang bukan untuk merekam kebaikan. Tapi sengaja dipasang untuk merekam pelanggaran atau kesalahan orang.

Sementara “you are under Allah’s watch” mencakup segala hal. Kata “mengawasi” (watch) diekspresikan dalam ragam makna. Di antara bermakna itu misalnya adalah “samii’” (Maha Mendengar), “Bashiir” (Maha Melihat), “Aliim” (Maha Tahu), dan seterusnya.

Dari semua itu mungkin ungkapan yang terdekat dengan kata “watch” (mengawasi) adalah “wa Huwa ma’akum aenama takuunu”. (Dan Dia Allah  bersama kamu di mana saja”.

Kebersamaan ini tentunya menumbuhkan kesadaran akan pengawasan Allah. Dia melihat, mengetahui dan mendengar segala detak  pergerakan jantung kita.

Bagi orang Mukmin “ma’iyatullah” itu juga berarti “ri’aayah” (penjagaan). Bahwa Allah menjaga kita dari kemungkinan bahaya dan hal-hal yang merugikan.

Lebih jauh “Allah’s watch” (ma’iyatullah) adalah energi dan kekuatan. Itulah yang terjadi ketika Rasulullah SAW memulai perjalanan hijrahnya. Beliau keluar dari rumahnya di malam hari, di saat rumah beliau dikelilingi algojo yang siap memenggal lehernya.

Keberanian beliau itu karena beliau memang yakin seyakin yakinnya bahwa beliau dalam penjagaan Allah (Allah’s watch). Keyakinan ini yang beliau sampaikan ke sahabatnya, Abu Bakar As-Siddiq, ketika mereka berdua berada dalam gua itu.

Saat itu para algojo yang semalam suntuk mengelilingi rumah Rasulullah terbangun dari kantuk dan tidur mereka. Serentak mereka membaca jejak Rasulullah hingga ke gua Tsur, tempat persinggahan sementara beliau sebelum melanjutkan perjalanan hijrah ke Madinah.

Ketika itu sahabat tercinta Abu Bakar menangis mengkhawatirkan keselamatan beliau. Para algojo yang siap memenggal leher Rasulullah itu kini ada di depan pintu gua Tsur itu. Di saat-saat yang mengkhawatirkan itulah beliau yakin dengan “Allah’s watch” atau “ri’ayatullah” itu.

Maka beliau memberikan motivasi dan energi kepada sahabatnya dengan sebuah statemen yang kemudian direkam oleh Al-Quran: “Jangan takut dan jangan sedih. Sesungguhnya Allah bersama kita”.

Keyakinan dengan “you are on Allah’s watch” itu menjadi kekuatan sekaligus keberanian yang tiada tara. Rasulullah melihat para algojo itu secara mata kasat memang membahayakan dirinya. Tapi Rasulullah juga melihat mereka dengan mata hati (bashirah), bahwa mereka berada dalam genggaman Penguasa langit dan bumi.

Karenanya mereka tidak akan mampu melakukan apapun, tidak akan bisa membahayakan Rasulullah SAW sedikitpun kecuali jika memang Allah yang berkehendak.

Beliau sangat yakin “bahwa kalau saja seluruh jin dan manusia berkumpul untuk memberikan manfaat, mereka tidak akan mampu melakukan itu kecuali dengan izin Allah”

Atau sebaliknya “kalaupun seluruh manusia dan jin berkumpul untuk memberikan mudhorat (bahaya) niscaya tidak akan mampu kecuali jika memang Allah menghendaki itu terjadi”.

Smile, you are on Allah’s watch ini jugalah yang Yusuf yakini saat itu. Maka godaan seorang Zulaikha, seorang wanita yang berpengaruh, kaya, cantik dan agresif itu mampu beliau hindarkan.

Yusuf AS ketika itu seorang pemuda yang harusnya secara alami mudah tergoda. Dan kenyataannya memang demikian. “Dan dia (wanita itu) menginginkannya. Dan dia (Yusuf) juga menginginkannya”.

Tapi apa yang menjadikan Yusuf tidak sampai terjatuh ke dalam genggaman godaan Zulaikha? Tidak lain karena dia melihat “Burhan” Tuhannya. Burhan inilah yang kita maksud dengan “Allah’s watch” (penjagaan Allah).

Sunggguh di zaman edan saat ini manusia kerap kali lupa bahwa kamera Allah jauh lebih canggih dan tak pernah terganggu, bahkan oleh udara terekstrim sekalipun.

Kamera pengamanan dunia bisa dimanipulasi. Jika anda mengendarai mobil dan anda punya memakai waze (alat gps) maka anda akan dapat mendeteksi jika ada kamera di sekitar anda. Bahkan dapat mendeteksi keberadaan polisi sekalipun.

Tapi Allah’s watch (camera) never miss and end (tak pernah meleset dan berhenti. Selama hidup masih dikandung badan, selama itu pula kamera langit itu merekam gerak gerik anda.

So smile all the way till the end of you breath, because you are under Allah’s camera”. (Tersenyumlah hingga akhir pernapasanmu karena anda direkam oleh kamera Allah).

 

New York, 12 Pebruari 2018

* Presiden Nusantara Foundation

 

Saudaraku, jadilah bagian dari perjuangan dakwah di Amerika. Ambillah bagian dalam usaha mewujudkan pondok pesantren pertama di Amerika. Donasi yang terbaik melalui: www.nusantaraboardingschool.com (klik support)

Atau melalui rekening Nusantara di Indonesia:

Rek rupiah : 1240000018185

An. inka nusantara madani

Bank Mandiri

 

Jazakumullah khaera!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *