oleh

Bila Penanganan Tidak Adil, Masjid Jogokariyan Persiapkan Apel Siaga

Yogyakarta, TribunAsia.com – Takmir Masjid Jogokariyan, Ustaz Muhammad Fanny Rahman menegaskan, pihaknya akan menggelar apel siaga jika para pelaku penyerangan terhadap Masjid Jogokariyan tidak diproses hukum dengan adil.

“Apel siaga akan diadakan kalau penanganannya tidak adil dan arif,” kata Ustaz Fanny kepada wartawan, Rabu (30/1).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Ia menjelaskan, kendati pihaknya adalah korban namun ia tak ingin kasus ini melebar kemana-mana. Oleh sebab itu, pihaknya sudah meminta pihak PDIP untuk meminta maaf dengan menghadirkan para pelaku. Ia khawatir kasus ini akan meluas jika tidak segera diselesaikan dengan adil.

“Sebenarnya dari masjid simpel, pada permintaan maaf mereka kemudian menghadirkan langsung pelaku atau penggerak dari mereka itu. Kalau tidak, kita akan menggelar apel siaga umat Islam untuk membela kemuliaan masjid. Kemarin waktu kita rilis juga bisa puluhan ribu massa yang siap hadir di sini,” ujarnya.

Ustaz Fanny juga mengaku telah dihubungi oleh simpul-simpul laskar Islam dari luar daerah untuk membantu sekiranya kasus tersebut terus meluas.

“Karena kami melihat ini isunya sensitif, selesaikan biar gak melebar kemana-mana, karena memang jujur dari setelah itu kejadian sampai malam itu yang ngontak kami itu segera merapat itu bukan hanya Jogja, tapi juga Solo, Magelang, Klaten, Bandung, Pacitan, Jakarta siap berbondong-bondong datang,” paparnya.

 

DPD PDI Perjuangan DIY Bantah Tudingan Lempari Masjid

Insiden pelemparan batu ke Masjid Jogokariyan terjadi usai acara ‘Deklarasi Jogja Dukung Jokowi’ di Kompleks Stadion Mandala Krida, Minggu (27/1) sekitar pukul 16.00 WIB. Ada keributan massa usai deklarasi, namun PDIP membantah keras pendukungnya disebut sebagai pelaku pelemparan.

Tak lama setelah kejadian aparat kapolisian datang ke lokasi. Keributan yang sempat terjadi berhasil dilerai. Pihak Polsek bersama Koramil dan Pemerintah Kecamatan Mantrijeron kemudian berupaya memediasi damai agar kasus ini tak melebar.

Sekretaris DPD PDIP DIY, Yuni Satia Rahayu, membenarkan adanya mediasi antara PAC PDIP Mantrijeron dengan Takmir Masjid Jogokariyan. Meski demikian, pihaknya membantah terlibat dalam insiden pelemparan batu ke arah Masjid Jogokariyan.

“Ya tentu saja itu harus ada mediasi. Kalau tidak akan ada (aksi) saling balas membalas, ini kan tidak sehat, begitu,” jelas Yuni kepada wartawan dalam konferensi pers di Kantor DPD PDIP DIY Jalan Tentara Rakyat Mataram Yogya, Senin (28/1)

“Kita juga membenarkan bahwa PAC Mantrijeron itu harus melakukan mediasi (dengan takmir) dalam rangka untuk meredam (situasi). Jangan sampai nanti kita tidak puas kita akan membalas, mereka tidak puas mereka akan membalas,” lanjutnya.

Yuni pun membantah pernyataan Fanni yang menyebut ada pelemparan batu ke Masjid Jogokariyan. Menurutnya, massa konvoi tidak pernah melempari masjid. Hanya saja memang sempat ada kericuhan sesama peserta konvoi itu sendiri di Jalan Jogokariyan, tak jauh dari lokasi masjid.

“Kita tidak pernah menyerbu yang namanya Masjid Jogokariyan. (Informasi) bahwa ada penyerbuan ke masjid itu hoax. Karena kita tahu semua yang namanya PDI Perjuangan dengan yang baju hijau di situ itu sudah lama permasalahannya,” jelasnya.

PDIP justru mempertanyakan peran aparat dalam menjaga keamanan peserta konvoi. Sebab, menurutnya ketika massa PDIP berkonvoi di Jalan Jogokariyan ada yang memprovokasi. Buktinya ada pihak yang menghadang konvoi dengan membawa pedang.

“(Kasus) Jogokariyan, kawan-kawan ini (simpatisan PDIP) kan sudah dapat izin dari Polda untuk pelaksanaan kegiatan (deklarasi) kemarin. Tetapi peran polisi di mana? Kenapa masih banyak anak-anak kita yang kemudian jadi korban,” kecamnya.
“Di Jogokariyan, orang bawa pedang kok bisa dibiarkan? Masyarakat di jalan itu nyeret pedang lho. Kenapa polisi membiarkan? Itu yang kami sesalkan. Kalau ini memang kegiatan tidak diizinkan ya keluarkan (surat) tidak diizinkan,” tegasnya.

 

Kapolri : Insiden Jogokariyan telah Selesai

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan kasus pelemparan Masjid Jogokariyan Yogyakarta berujung damai. Tito mendapat laporan pelemparan tersebut terjadi secara spontan.

“Saya sudah tanya kapoldanya, itu lebih banyak terjadi secara spontan, ya. Terjadi secara spontan, sudah didamaikan oleh Pak Kapolda,” kata Tito seusai rapat pimpinan TNI-Polri 2019 di auditorium STIK-PTIK, Jalan Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (29/1/).

Tito juga tegas mengatakan, jika peristiwa serupa terjadi lagi, pihaknya tak segan-segan untuk memproses hukum pelakunya. Tito mewanti-wanti Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta Irjen Ahmad Dofiri agar kejadian serupa tak terulang lagi.

“Saya minta, seandainya ada kejadian lagi, siapa pun yang melakukan, apalagi bawa parang dan lain-lain, ada yang melempar, proses,” kata Tito.

“Proses hukum tegas dua-duanya. Supaya nggak terulang,” tegas dia.

Insiden pelemparan batu ke Masjid Jogokariyan terjadi seusai acara ‘Deklarasi Jogja Dukung Jokowi’ di Kompleks Stadion Mandala Krida, Minggu (27/1) sekitar pukul 16.00 WIB. Ketua Takmir Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Muhammad Fanni Rahman, menceritakan insiden ini terjadi setelah pihak masjid menggelar pemilihan takmir, dengan salah satu rangkaian kegiatannya berupa pengajian dan pembagian sembako.

Namun, setelah membagikan sembako, tiba-tiba terjadi pelemparan batu dari peserta konvoi ke arah masjid. Fanni yakin batu yang dilempar berasal dari peserta ‘Deklarasi Jogja Dukung Jokowi’ lantaran peserta konvoi yang melempari masjid memakai atribut merah. Dia juga mengaku kenal dengan sebagian pelaku.

Masyarakat kampung dan remaja masjid tak terima dan mencoba melawan. Mereka mengusir peserta konvoi, termasuk melakukan lemparan balasan ke arah massa konvoi. Tak lama, aparat kepolisian datang dan menenangkan situasi. Pihak polsek bersama Koramil dan Pemerintah Kecamatan Mantrijeron kemudian melakukan mediasi untuk mendamaikan kedua massa. (HG)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *