oleh

Berdialog Dengan Allah

TribunAsia.com

Oleh : Ust. Nurul Huda

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Kita semua pasti mempunyai waktu-waktu khusus untuk berdialog dengan Allah. Kita punya kesempatan setiap saat untuk bertemu Allah. Kita ini butuh bercengkrama dengan Allah. Berdialog dengan Allah dapat menentramkan batin. Malang orang yang tak dapat berdialog dengan-Nya. Semestinya kita tak perlu bersedih dan berduka yang berlebihan menghadapi liku-liku kehidupan. Perubahan pasti terjadi, karena Dialah yang menggariskannya.

Allah telah menyediakan waktu-waktu khusus untuk kita bisa berdialog, berdoa, memohon, mengadu, memuji kepada Allah Zat Yang Maha Agung dan Maha Besar. Sehingga tak perlu mengeluh kepada orang terdekat kita. Cukup Allah saja tempat bergantung kita. Hingga dada kita lega menghadapi kesulitan hidup dan langkah kita mantap ringan melangkah menyusuri hidup menggapai rahmat Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Saat banyak orang tenggelam nyenyak dalam tidurnya, dia sucikan diri, dia gelar sajadah, kemudian dia tegakkan shalat berdialog dengan-Nya. Di bacanya ayat-ayat-Nya dengan khusyu’ dan khidmat. Terasa begitu dalam kebahagaan, ketenangan, dan kedamaian menyelinap di dasar hati saat berdialog dengan Allah.

Bersimbah air mata ketika merenungi kekhilafan diri. Jikalau seseorang membaca al-qur’an sesungguhnya dia telah berdialog dengan Allah. Demikian pula, ketika hamba khusyu’ dalam shalatnya, sejatinya dia telah berdialog dengan Allah. Karena itu, Allah tak akan menerima shalat orang yang lalai dan akan menerima shalat orang yang khusyu’. Seakan-akan dia berhadapan dengan Allah sedang berdialog dengan-Nya.

Sejatinya ada dialog antara kita dengan Allah saat melakukan shalat. Coba kira renungi bagaimana indahnya dialog dalam bacaan surat al-fatihah! Rasulullah bersabda bahwa Allah berfirman: “Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian antara Aku dengan hamba-Ku. Dan hamba-Ku mendapatkan apa yang dia minta.” Jika hamba-Ku berkata: “Alhamdulillahi Rabbil Alamiin”, Allah berfirman: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Jika ia mengatakan: “Ar Rahmanir Rahiim.” Allah berfirman: “Hamba-Ku memuja-Ku.” Jika ia mengatakan: “Maliki yaumiddin.” Allah berfirman: “Hamba-Ku memulyakan-Ku.” Jika ia mengatakan: “Iyya kana’budu wa iyya ka nasta’in.” Allah berfirman: “Inilah bagian-Ku dari hamba-Ku, dan bagi hamba-Kumaka ia akan memperoleh yang ia minta.” Jika is berkata: “Ihdinash shiratal mustaqim, shiratal ladziina a’amta alaihim ghairil maghduubi alaihim wala dhalliin.” Allah berfirman: “Ini bagian untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (Shahih Muslim, Kitabus Shalat)

Kebahagiaan sungguh terasa sekali karena memang benar-benar terjadi dialog antara kita dengan Allah Yang Maha Agung. Tiap ucapan hamba didengar dan dijawab oleh-Nya. Penelusuran terhadap perubahan huruf dan makna kalimat yang kita baca saat shalat menjadi sebab kekhusu’an kita. Insyaallah dengan kekhusyu’an itulah Allah berkenan menerima shalat kita.

Dan tidak diterima dari shalat kita, kecuali apa yang kita pahami dari shalat itu. Konsentrasi dan menghadirkan hati saat shalat maupun munajat kepada Allah adalah syarat dikabulkannya permohonan kita. Karena Allah tidak akan menerima orang yang berdoa sedangkan hatinya lalai. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima do’a dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *