oleh

Debat Capres

TribunAsia.com

Oleh : Tendri

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Aku sengaja tidak ingin menonton debat capres kemarin, karena bisa dipastikan tidak menarik kalau debat dikasih kisi-kisi. Apa yang mau diperdebatkan kalau jawabannya sudah ada dalam catatan.

Tapi yang lebih menarik hasil analisa pendukung kedua capres di grup Wa dan FB, kedua merasa menang, kedua menuduh capresnya baca teks. walau kedua capresnya sama2 menyontek, karena keduanya punya catatan jawaban.

Kedua pendukung membeberkan hasil survey yg menguntungkan mereka. Hasil survey dari konsultan yang memihak atau yang dibayar. Dan yang lebih hebat lagi untuk menguatkan analisanya kedua pendukung capres, menambahkan analisa pengamat yang memihak yang menggadaikan keilmuannya.

Karena sengitnya perdebatan pendukung capres, membuat aku untuk menonton kembali debat tersebut di you tube.

Harusnya kedua pendukung capres menonton ulang debat capresnya agar bisa menilai lebih jernih debat kemarin.

“Debat kemarin bak dagelan yang tidak lucu” itu menurut dosenku Jamiludin Ritonga di FB. Dan yang lebih mengerikan lagi jauh dari kecerdasan sang pemimpin. Debat yang sudah dikasih kisi- kisi dan sudah membawa catatan jawabannya, itupun masih banyak salah jawabannya oleh kedua  capres. Mungkin kedua capres gugup atau demam panggung karena tak terbiasa berdebat.

Ada catatan sedikit buat tim sukses paslon 02. Pemanggilan presiden kepada paslon 01 kuranglah elok, walau ini mungkin strategi dari tim sukses untuk mengambil hati penonton. Pada saat anda berdua memanggil presiden kepada paslon 01, maka anda menurunkan derajat anda. Anda tidak memposisikan bahwa anda seimbang dengan lawan debat anda. Kalau anda telah memposisikan lawan anda presiden, bukan capres, untuk apalagi berdebat. Berdebat itu dengan lawan yang seimbang. Kalau anda telah memposisikan anda di bawah lawan debat anda. Anda kalah satu langkah sebelum debat dimulai.

Debat capres ini dibutuhkan karena pemilih bisa mengukur kecerdasan calon pemimpin. Untuk memimpin negara dibutuhkan seorang pemimpin yang cerdas, yang visioner, yang indepanden, yang berani dan yang cepat mengambil keputusan.

Aku tidak menganggap kedua capres dan cawapres tidak cerdas. Mereka berempat adalah orang yang pintar dibidangnya. Pak Jokowi ahli dibidang bisnis meubel, pak Probowo ahli di bidang militer dan bisnis, kyai Ma’ruf Amin ahli di bidang agama dan pak Sandi ahli di bidang bisnis. Apakah diantara mereka mumpuni untuk jadi presiden dan wakil presiden ? Jawabannya aku serahkan kepada pembaca karena aku tidak berhak untuk menilai. Disamping itu diantara kedua capres dan cawapres ini salah satu pasangan akan jadi presiden dan wakil presiden kita. Mari kita bersama- sama menilai dengan nalar yang ada dalam diri kita, demi Indonesia bukan demi; kepentingan pribadi kita, golongan, suku dan partai.

Aku baca di medsos bahwa debat capres ini bukan budaya kita, dan orang Indonesia tidak terbiasa berdebat. Pendapat ini salah menurutku. Di tanah melayu dan dikampungku terbiasa berdebat. Zaman aku masih kecil di Manna, untuk menentukan pemangku adat dan pemangku wilayah yang disebut pesirah, itu dilakukan pemilihan langsung. Dan biasanya kedua calon berdebat secara informal di tempat- tempat keramaian sebelum dilakukan pemilihan.

Ada budaya perdebatan dikampungku waktu mau melamar calon istri. Biasanya pihak pengantin pria membawa jago pantun untuk menundukan jago pantun pengantin wanita. Dan kalau jago pengantin pria kalah dalam adu pantun, maka rombongan pengantin pria pulang, lamaran itu gagal. Budaya ini telah ditinggalkan, hanya tinggal pantun basa basi untuk membuka acara lamaran. Disamping itu ada seni dendang yang biasanya dilakukan pada malam hari di acara resepsi pernikahan, yang dimulai dari pukul 20 sampai pukul 3 pagi. Biasanya seni dendang ini di undang dari dua sampai empat perkumpulan seni dendang.Mereka menari diiringi dengan tabuhan rabana, biola dan syair pantun yang saling berbalasan. Untuk berpantun ini dibutuhkan orang yg cerdas, karena tanding pantun itu situasional. Kita tidak tahu pantun apa yang akan didendangkan lawan. Tidak ada kisi-kisi apalagi bawa catatan dan nyontek.

Para pendiri bangsa kita, Soekarno, Hatta, Sutan Shjarir, Burhanudin Harahap, Natsir, Agus salim, Muhammad Roem terbiasa mereka berdebat. Mereka berdebat keras di sidang BPUPKI. Dan untuk memproklamasikan kemerdekaan ada perdebatan antara Soekarno dan Shjarir. Shajrir mengajak Soekarno untuk menyatakan kemerdekaan lebih cepat karena dia mendengar dari radio, jepang menyerah pada sekutu, sementara Soekarno tidak mendengar dan tidak percaya. Ditambah Soekarno dijanjikan oleh jepang akan diberikan kemerdekaan.

Jadi debat itu biasa buat bangsa kita. Tapi debat itu adalah milik orang- orang cerdas. Orang- orang yang memiliki data. Apalagi zaman sekarang adalah zaman big data. Kalau anda tidak memiliki data dan jauh dari cerdas, apa yang mau diperdebatkan ?. Yang ada anda hanya ngaung- ngaung bak ambulans.

Pemimpin kita dulu adalah orang- orang yang cerdas, orang – orang yang memiliki pengetahuan  dan memahami permasalahan bangsanya. Pemimpin yang memikirkan nasib rakyatnya.Pemimpin yang meletakan kepentingan negara diatas kepentingan partai dan pribadi. Lihat saja kecerdasan dan kesederhanaan; Soekarno, Hatta, Shjarir, Natsir dan Burhanudin Harahap.

Hari ini KPU mengeluarkan pernyataan di debat kedua tidak akan diberi kisi -kisi. Ini mungkin akan lebih seru dan babak belur, dikasih kisi-kisi saja jawaban capres banyak salah. Entah bagaimana jadinya kalau tanpa kisi-kisi.

Saranku, anda putar ulang acara srimulat, agar anda terlatih untuk tertawa. Jadi pada waktu nonton debat kedua nanti anda tidak akan banyak tertawa. Dapat menikmati debat lebih serius, duduk pakai kain sarung ditemani segelas kopi pahit. Sehingga anda dapat menganalisa dengan sempurna siapa yang layak jadi presiden dan wakil presiden memimpin Indonesia lima tahun mendatang, dari dua pasangan yang telah dihidangkan parpol.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *