oleh

Prabowo Itu Memukau ?

TribunAsia.com 

Oleh : Dr. Margarito Kamis (Pengajar Fakultas Hukum Universitas Khairun Ternate)

Prabowo dan Sandiaga Uno, pasangan capres dan cawapres nomor urut 2 ini, akan  memukau Indonesia dalam debat pertama pilpres nanti. Debat yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Januari nanti, kata Babang (abang) begitu Kisman Latumakulita, nyong Ambon hitam manis ini biasa disapa kepada saya beberapa hari lalu. Bagaimana bisa ? apa argumen ale (anda) tanya saya kepadanya.

Ito, dia menyebut nama saya, ale (anda) tahu saya bersama Toni Hasayim, salah satu wartawan jagoan di jajaran redaksi Majalah FORUM Keadilan. Majalah yang sangat saya sukai ketika masih beredar, cukup mengenal Prabowo. Saya memotong kalimatnya dengan pertanyaan apa yang ale bisa cerita ?

Begini, kalau kita cerita hal-ihwal yang saya tahu secara pribadi, pastilah subjektif. Karena ale paati seng (anda tidak bisa) konfirmasi kepadanya. Oke. Kalau begitu apa?

 

Bangsa & TNI Segala-galanya Bagi Prabowo

Begini Ito. Kisman melanjutkan percakapan kami. Apa ale tidak menyadari bahwa hampir lebih dari 20 tahun ini Prabowo tidak bicara, dalam nada yang jelek-jelek kepada koleganya ?Termasuk kepada mantan atasannya atau mereka yang dia anggap senior?

Lho, saya segera memotong, menghentikan pembicaraannya. Saya katakan kepada Kisman, bukankah menjelek-jelekan orang, kolega apalagi mantan atasan adalah pekerjaan orang-orang rendahan?

Itu dia, kata Kisman, memotong kata-kata saya. Lalu Bung Kisman melanjutkan, menjelek-jelekan orang itu tidak pernah memberi keuntungan sekecil apapun kepada diri kita. Perbuatan itu justru merusak diri kita. Itu hanya pekerjaan tipikal orang kecil. Untung tak mengatakan picik dan tak berkelas. Saya segera menyanggahnya.

Oke kalau begitu babang. Tapi apakah menurut ale hanya itu standing mindnya? Tidak juga kata Kisman. Lalu apa?

Ito, ale tahu kaseng (kamu tahu atau tidak) Prabowo itu manusia yang begitu mencintai negara kesatuan Republik Indonesia kita ini. Prabowo sejauh yang beta (saya) bisa bilang sangat menghormati kolega-koleganya, senior-seniornya. Ia juga, tipikal pemimpim, dan komandan sejati.

Lho apa parameternya sampai ale bisa bilang bagitu ? Ito, ale seng tahu kalau Prabowo itu juga sangat disenangi oleh anak-anak buahnya? Oke.

Karena cintanya kepada bangsa dan negara inilah, sejauh yang bisa beta bilang, membuat dirinya rela mengambil tindakan dengan risiko seberat apapun. Tidak usahlah kita bicara mengenai bagaimana kepemimpinan dan keberaniannya di medan tempur.

Marilah kita melihatnya pada hal-hal nyata. Kopasus yang sering diidentifikasi sebagai sebuah korps tentara paling hebat di kawasan Asia, khususnya Asean. Ale boleh suka atau tidak, kopasus tidak bisa dilepaskan dari peran hebat Prabowo, terutama kala dia masih menjadi Komandan Jenderalnya.

Cintanya kepada bangsa dan negara, kepada TNI, itulah yang menurut beta membuat Prabowo membiarkan dirinya menjadi sasaran cercaan, fitnah rutin lima tahunan, dan semua tuduhan jelek lainnya yang dialamatkan kepadanya. Prabowo cukup perkasa memikul sendirian pula semua tuduhan miring, menyakitkan dirinya.

Sampai disini, beta harus angkat topi padanya. Prabowo tidak pernah berusaha membalas, apalagi menyerang pengabar kabar-kabar tidak enak itu. Prabowo itu, Bung Kisman melanjutkan, bisa beta bilang telah lulus dalam ujian ketabahan dan kesabaran yang paling keras dan berat

Sepertinya ketulusan untuk mengabdi kepada bangsa dan negeri ini, terus saja bersemayam dihati dan jiwanya. Tekad itu sudah menjadi sikap bathinnya. Itu sebabnya Ito, kata Bung Kisman, saya bisa bilang Prabowo tidak akan, tidak bakal memiliki dendam, apalagi menempatkan dendam sebagai juru mudi kekuasaannya kelak bila diberikan mandat oleh rakyat sebagai preseden

Pasti iti seng mungkin. Beta yakin seyakin-yakinnya, Prabowo tidak memiliki kemampuan menjadikan dendam sebagai haluan kekuasaan hukumnya. Tidak mungkin juga Prabowo bakal mau menggunakan hukum sebagai alat untuk memukul siapapun yang mengeritik dirinya, kelak bila dia berkuasa.

Tidak. Itu tidak mungkin bakal terjadi. Sebab dendam itu bukan sifatnya Prabowo yang beta dengan Toni Hasyim kenal.  Prabowo yang beta kenal adalah sosok pribadi yang rasional dan pelindung. Dia adalah pemaaf yang gemilang. Bung Ito, pemaaf itu bagi Prabowo indah dan anggun.

Sontak saya menyodorkan beberapa kenyataan, yang menurut saya selatas dengan diskripsi Bung Kisman. Pak Joko Widodo, Presiden yang saat ini kembali menjadi saingannya dalam pilpres untuk kedua kalinya, tidak bisa dilepaskan dari jasa baik Pak Prabowo.

Prabowo dapat dibilang menjadi elemen kunci yang membawa Pak Joko Widodo ke Jakarta. Dari Jakarta  menjadi tangga terakhir menuju kursi presiden.

Betapapun akhirnya Pak Prabowo harus berhadapan dengan Pak Jokowi dalam pilpres, tetapi hal itu tak membuat dirinya kehilangan akal sehat. Apalagi sampai tak menghormati Pak Jokowi. Hebat kan Prabowo.

Tidak sedikitpun dalam setiap kesempatan, Pak Prabowo memperlihatkan sikap “marah” benci atau lainnya yang serupa pada Pak Joko Widodo. Sikapnya selalu saja berkelas.

Hebat juga Pak Prabowo. Dia tidak menolak Anies Baswedan dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Padahal empt tahun lalu, dalam pilpres tahun 2014 Anies adalah salah satu elemen kunci. Setidaknya menjadi elemen terpenting dalam barisan Joko Widodo menuju kursi presiden.

Nama Anies juga sempat menghiasi hiruk-pikuk pencapresan kali ini. Anies digadang-gadang sebagai calon cawapres Pak Prabowo.  Oke Babang (abang) Kisman, beta (saya bisa terima argumen Babang.  Lalu bagaimana dengan sosok Sandi?

Sangat Serasi. Sandi itu memang tak bersimpuh di kaki Ibunya kala telah diumumkan menajdi cawpres Pak Prabowo. Tapi anda tahu, Sandi itu dalam kesempatan pertama setelah pengumuman itu, kembali kerumah ayah-ibunya memohon dalam statusnya sebagai anak khas “mama.”

Sampai di rumha, Sandi berada disamping Ibunya. Hanya untuk Sandi bisa mencium tangan Ibunya itu. Dan masya Allah, Ibunya pun mencium tangan anak yang manis budi dan perangainya itu.

Kapan Sandi, yang cawapres Pak Prabowo ini, sejauh yang bisa diidentifikasi, pernah berkata kasar? Tak pernah juga fulgar kalau mengkritik. Kalau pun Sandi mengeritik, nuansanya menyejukan.

Cukup jelas terlihat Sandi seolah tak mampu berada, jangankan di jantung, ditepi kata-kata kasar sekalipun tidak. Tak pernah sekalipun terdengar sebuah, satu saja ucapan  bernuasa ajakan menggunakan kata-kata jelek. Apalagi ajakan unruk lakukan tindakan tak yang pantas. Itu juga pasti tidak

Selalu saja dengan senyum manisnya, kalau boleh dibilang begitu. Senyuman yang khas dan apa adanya selalu menyertainya siang dan malam, dimanapun ia dijumpai. Wajahnya nan bersih, seolah terus dibasahi air wudhu menemaninya kapanpun, dan dimanapun ia berada.

Senyumnya yang khas yang khas itu pula, yang sekali lagi, sejauh yang terlihat merekah menyambut ibu-ibu yang dijumpainya. Dengan senyuman pula yang menyambut Ibu-ibu yang  hendak berselfi  foto dengannya.

Gerak-geriknya dalam kampanye, sejauh ini, terlihat sangat otentik. Sandi juga sangat natural,  tak dibuat-buat, dipoles-poles, demi meraih simpati.  Selalu seperti biasanya, tampilannya terlihat apa adanya. T-Shirtnya selalu khas. Celana yang dikenakannya pun selalu khas. Penampilannya betul-betul jauh dari mengada-ada.

Ya begitulah percakapan saya dengan Bung Kisman, nyong Ambon manise ini, tentang Pak Prabowo dan Sandi, anak muda bernyali di atas rata-rata. Keduanya, setidaknya dalam pandangan kami, terasa serasi.

Keduanya juga tampak memperlihatkan, melalui kata-katanya yang berceceran dimana-mana,  memiliki pengetahuan tentang masalah mendasar bangsa ini. Kepemimpinan nasional, tentu bila disederhanakan, berhasil mereka identifikasi sebagai masalah utama, dasar bangsa dan negara ini.

Ini penting, dan malah amat penting. Sebab yang menjadi pangkal masalah adalah 1% manusia di negeri ini menguasai begitu besar sumberdaya ekonomi.

Sehebat apapun sistem yang tersedia, kata Woodrwow Wilson dan Dwigh C. Eishenhower, dua mantan presiden Amerika Serikat ini, serta Winston Churchil mantan perdana Menteri Inggris ini pada masanya, akhirnya bergantung pada siapa dibalik sistem itu.

Prabowo dan Sandi sangat beralasan. Dengan semua yang disebut ini, menjadi modal memukau publik Indonesia dalam debat nanti. Sebagai orang yang terbiasa berdiskusi, acap cukup keras, debat nanti bakal jadi panggung keduanya.

Bicaralah dengan cara yang anggun dan berkelas. Sebab hanya cara itu memukau lawan dan kawan. Lawan tak terluka, dan kawan barhak dengan senyum kompetisi berkelas. Diatas semuanya,  keduanya cukup jelas memiliki keselarasan dalam tekad dan jiwa membuat Indonesia anggun dengan keadilan yang memakmurkan, dan kemakuran yang berkeadilan. *

 

Jakarta, 12 Januari 2019

Hormat Saya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *