oleh

Dosa yang Tersembunyi

TribunAsia.com

Dalam sebuah ayat, Allah ta’ala berfirman:

Iklan 52 Khutbah Jum'at

وَذَرُوا۟ ظَٰهِرَ ٱلْإِثْمِ وَبَاطِنَهُۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْسِبُونَ ٱلْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا۟ يَقْتَرِفُونَ

Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. _Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.

(QS. Al An’aam: 120).

 

Ayat Allah yang mulia ini mengingatkan manusia tentang  dua macam dosa_ yang menimpa manusia. Keduanya sama-sama berbahaya dan wajib ditinggalkan._ Dosa itu adalah dosa zahir (terlihat dan terdengar) dan  dosa batin_(kemaksiatan hati). Sebagaimana istilah itu sendiri, dosa zahir merupakan bentuk dosa yang jelas tampak di depan kasat mata kita, atau terdengar oleh telinga kita. Contohnya seperti minum khamr, zina, judi, membunuh, ghibah, mengadu domba dan lain-lain. Sedangkan dosa batin adalah dosa yang sifatnya tersembunyi, menyangkut dengan hati kita masing-masing, contohnya; sombong, hasad, congkak, riya’ dan lan sebagainya.

Umumnya, banyak di antara kita yang sadar dan mampu menghindarkan diri dari setiap perbuatan dosa lahiriyah, namun sedikit sekali yang mampu selamat dari  dosa batin._ Banyak di antara kita yang mampu menjaga diri dari larangan berbuat zina, judi, minum khamer dan sebagainya, namun terkadang tidak sedikit di antara kita yang sulit menjaga hati ini dari maksiat-maksiat yang tersembunyi di dalam hati.

Dapat disimpulkan bahwa  dosa batin yang sulit kita hindari itu justru lebih berbahaya daripada dosa zahir. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Nu’aim bin Basyir, Nabi saw bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“…Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila ia baik, baiklah seluruh jasadnya dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging  itu adalah hati,” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Maknanya, sumber kerusakan yang terjadi pada manusia justru bermula dari rusaknya hati karena maksiat-maksiat yang menutupinya. Efeknya, ketika hati rusak maka jasad manusia pun ikut terbawa kepada kerusakan. Karena itu, dalam makna yang lebih luas, hadis ini ada kaitannya dengan sabda Nabi saw:

إِنَّ الله لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلاَ إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidaklah melihat kepada bentuk-bentuk tubuh dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal-amal kalian,”(HR. Muslim)

 

[ Mulia Mulyadi ]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *