oleh

Tahun Baru 2019

TribunAsia.com

Oleh : Tendri

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Tak terasa kita sudah berada di penghujung 2018, semua orang menyongsong tahun 2019 dengan penuh harapan.

Seperti biasa selalu jadi polemik soal merayakan tahun baru bagi umat Islam. Ada yang menafsirkan tidak boleh merayakan tahun baru masehi, dan ada yang merayakan tahun baru dengan zikir atau qatam Alquran di masjid.

Perayaan tahun baru bukanlah budaya asli kita. Ini budaya barat yang penuh hura-hura, pesta pora yang memabukkan. Karena mengasyikan kita gampang tertular untuk mengikutinya, sehingga kita nyaman dengan kesenangan itu.

Saya sudah tidak merayakan tahun baru dari tahun 1998, mungkin faktor umur sudah mulai meminggirkan diri dari hal hal yang berbau hura – hura.

Dan saya mengenal tahun baru mulai tahun 1987 di Jakarta. Tahun 1986 kebawah, dikampung saya di Manna tidak mengenal  apa itu tahun baru. Entah kapan dimulainya, ketika saya pulang kampung tahun 2009 ternyata kampung saya telah ikut – ikutan merayakan tahun baru dengan; meniup terompet, kembang api, bakar ayam, bakar jagung,hura – hura dan pesta riuh ria. Itu lah hasil globalisasi yang sulit dihentikan, karena minimnya pengetahuan akan budaya dan agama yang kita miliki. Butuh waktu dan pelajaran agama yang mendalam untuk merubah semua ini kembali seperti masa kecil saya dulu. Yang tidak mengenal perayaan tahun baru.

Pergantian tahun baru dalam bentuk apapun nikmati saja. Kalau ada umat Islam yang masih merayakannya dengan hura hura biarkanlah, semoga seiringan berjalannya waktu, akan tiba saatnya dia akan merayakan tahun baru dengan zikir atau qotam Alquran di masjid.

Persoalan pergantian tahun sebenarnya bukan perayaaanya yang penuh hura-hura dan memabukan. Tapi yang esensi adalah bagaimana kita mengintropeksi dan menganalisa diri apa- apa yang telah kita capai di tahun 2018 dan apa yang akan kita rengkuh ditahun 2019.

Kita intropeksi kesadaran hubungan kita dengan sang khalik, yang memberikan kehidupan dan rahmatnya kepada kita. Kita intropeksi kesadaran tanggung jawab kita pada anak dan istri dan ibu yang melahirkan kita. Kita intropeksi kesadaran kelenteruan kita sebagai mahkluk sosial yang bergaul dengan berbagai manusia yang berbeda; suku, bangsa dan agama. Kita intropeksi kesadaran keseimbangan dan keselarasan kita terhadap alam.

Kita adalah sekerup kecil yang belum tentu bisa mengguncang dunia.Tapi kelalaian dan kesombongan kita bisa menghancurkan semua yang berputar rapi mengikuti sunatullah.

Terjadinya bencana bancir, gempa, tsunami, gunung meletus dan bumi membelah adalah bukti sumbangsih kita melukai alam dan melupakan sang pencipta.

Mari kita menambal kembali luka-luka sosial dan sobekan alam itu. Demi kemanusian, persatuan bangsa dan Indonesia yang indah untuk ditinggali.

Selamat tahun baru 2019, semoga kita mampu memeluk kebaikan, cinta dan keinginan yang telah kita lukiskan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *