oleh

Menyembah Hawa Nafsu

TribunAsia.com 

“Suatu ketika seorang santri bertanya kepada kiyainya,

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Guru…!
saya termasuk
orang yang rajin sholat,
puasa senin kamis,
rajin membaca al-Qur’an,
tetapi mengapa justru emosi saya suka tidak terkendali, mudah tersinggung dan merasa selalu benar sendiri..?”
Sang Gurupun menjawab, “Alhamdulillah kamu cepat datang ke sini dan menanyakan hal yang kamu alami saat ini.

Pertama
Karena saat ini banyak orang yang seperti kamu, yaitu mereka rajin menjalankan perintah agama tapi merasa paling benar sendiri.
Memandang orang lain yang tidak sama dengannya dianggap sesat dan belum memeluk Islam yang benar, dan kelompok lainnya masuk Neraka .”
“Mengapa hal itu sampai terjadi…..?” Tanya murid tersebut.
Sang Guru menjawab, “Karena mereka tidak menyembah Allah, melainkan menyembah HAWA NAFSUnya sendiri.
Jika sholat mereka benar, maka akan mencegah dirinya untuk berbuat keji dan mungkar kepada orang lain.

Allah SWT berfirman:
اتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَأَقِمِ الصَّلٰوةَ ۖ إِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. SESUNGGUHNYA SHALAT ITU MENCEGAH DARI (PERBUATAN) KEJI DAN MUNGKAR. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 45)

Jadi kalau masih ada hal hal yang demikian terjadi pada seorang yg ahli dalam shalat…berarti masih perlu dipertanyakan shalatnya sdh benar atau masih salah, karena tujuan shalat sudah di sampaikan oleh pencipta kita dalam firmannya.

Jika puasanya benar, mereka akan menjaga lisannya dari ucapan yang jelek dan menyakiti orang lain,
Allah SWT berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,”
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 70-71)

Jika dzikirnya benar, dia tidak bakalan sibuk mengurusi kekurangan orang lain, karena hatinya sibuk hanya kepada sang penciptanya untuk muhasabah/intropeksi dirinya sendiri karena zdikir tujuannya untuk membersihkan hati dari segala macam penyakit hawa nafsu

Allah SWT berfirman:
فِى قُلُوبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 10)

Jika membaca Qur’annya benar hatinya akan bercahaya serta lunak dan lembut, sehingga sifat tercela dalam dirinya diganti dengan sifat dan akhlak yang mulia

Allah SWT berfirman:
فَئَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَالنُّورِ الَّذِىٓ أَنْزَلْنَا ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. At-Taghabun 64: Ayat :8)

Zaman sekarang ini adalah banyak orang menyembah agama, sehingga mereka “mabuk agama”, maka mereka dengan mudah menyesatkan dan membid’ahkankan orang lain seakan akan mereka sudah menjadi Tuhan yang secara gampang memvonis, itulah para penyembah Hawa nafsu.”

Rasulullah SAW bersabda:
”Nanti akan muncul diantara umatku kaum yang membaca Al-Quran, bacaan kamu tidak ada nilainya dibandingkan bacaan mereka, dan shalat kamu tidak ada nilainya dibandingkan shalat mereka, dan puasa kamu tidak ada artinya dibandingkan puasa mereka, mereka membaca Al-Quran sehingga kamu akan menyangka bahwasanya Quran itu milik mereka saja, padahal sebenarnya Quran itu akan melaknat mereka, tidaklah shalat mereka melalui kerongkongan mereka, mereka itu akan memecah agama Islam sebagaimana keluarnya anak panah daripada busurnya”.
(Sahih Muslim/ 2467, Sunan Abu Daud/4748 ).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *