oleh

Maulid Akbar serta Milad Ke-3, Majelis Taklim Bahrul Ulum dan Majelis Taklim Annurul Kassyaaf Dilaksanakan di Bidaracina, Jaktim

Jakarta, TribunAsia.com – Maulid Akbar serta Milad Ke-3 yang diadakan Majelis Taklim Bahrul Ulum bersama Majelis Taklim Annurul Kassyaaf bertempat di Lapangan Parkir Rukun Warga 01, Jalan Bidara Cina, Otista, Jakarta Timur.

Sabtu malam acara dilaksanakan sekitar pukul 18.30 Wib, dengan menghadirkan Ulama, Anis Baswedan Gubernur DKI Jakarta dan dihadiri tokoh masyarakat sekitar.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Saat itu, Habib Ali Bin Abdurrahman Assegaf menyampaikan kepada masyarakat untuk berprilaku kejalan yang lurus agar selamat didunia maupun diakhirat. Dia pun mengajak kepada hadirin yang datang dan memadati lapangan RW 01 dalam Maulid Akbar Nabi Muhammad untuk memperoleh nikmat.

“Dari saya hanya memberikan satu saja, kalau saudara pegang insyaallah jadi orang yang selamat dunia akhirat. Dan minta ke Allah kejalan yang lurus jalan Sirotol Mustakin. Jalan yang pernah kau berikan nikmat sudah Allah memberikan jalan yang nikmat kepada kita. Kalau belum dapat, yuk kita cari bersama sebelum ini dunia habis ,” kata Habib Ali Abdurrahman Assegaf disela-sela maulid, (22/12/2018).

Kemudian, dia pun mengatakan, sosok Nabi Muhammad S.A.W dan ulama yang dinilai telah menemukan jalan yang dianggap lurus. Lebih lanjut, Habib Ali turut mempertanyakan kepada masyarakat terkait pesan-pesan jalan yang lurus dan benar.

“Siapa yang menemukan jalan yang lurus Nabi Muhammad dan ulama-ulama. Sudahkah kita merasakan jalan yang lurus, cari jalan yang benar,” tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama, Ahmad Bin Ali Bin Abdurrahman Assegaf mengutarakan, pengertian Habib yang mana dimaksud adalah orang-orang memiliki banyak sifat dicintainya. Selain itu, beberapa nama Habib yang dinilai dicintai publik seperti Habib Rizik dan Habib Bahar tak lupa disebutkan.

“Arti Habib orang yang memiliki banyak sifat yang mampu mencintai. Jadi nggak usah heran banyak pencintanya banyak pencinta Habib Rizik Habib Bahar,” ujar Habib Ahmad.

Ia juga menceritakan salah seorang tokoh Sufi yang dianggap mualaf dan berpindah agama menjadi Islam. Dalam hal itu, kata dia, seseorang mualaf tidak perlu diragukan dari keimanan justru lebih taat memperdalam agama.

“Imam Maruf sekrg ulama besar yang dulunya non-muslim yang dulunya orang Kristen kita nggak boleh ngerendahin yang mualaf keimanannya luar biasa. Beliau adalah salah satu tokoh Sufi,” imbuhnya.

Terkait shalawat, menurut Habib Ahmad melalui Maulid yang diadakan panitia dan membacakan shalawat bersama dapat sekiranya dapat mengugurkan dosa-dosa terhadap tamu-tamu Rasullullah SAW. Namun, dia berharap bila ada rezeki untuk segera melaksanakan rukun Islam yang kelima.

“Kalau nggak ada Maulid nggak ada yang baca shalawat. Membaca shalawat menggugurkan dosa. Mudah-mudahan tahun depan pergi haji gratis. Panitia udah sebulan ngubunguin ane nyiapin tamu-tamu Rasulullah ngumpulin tetangga baca shalawat. Mumpung masih muda-muda pergi haji,” tandas Habib.

Kata Windu, acara Maulid dimaksudkan untuk memperdalam rasa cinta kepada Rasulullah SAW dan menjadikan hamba-hamba yang bersyukur. Akan tetapi, dengan hal tersebut setidaknya dapat diteladani oleh umat Islam. Disebutkan kembali, lokasi yang dipergunakan untuk Maulid konon kerap digunakan aktivitas prilaku kelam.

“Ini bagian dari niat kita memperbaiki perilaku warga disini yang lalu dinilai kelam. Tujuan diadakannya acara ini agar kita mencintai Rasulullah dan menjadi hamba yang bersyukur,”  Windu selaku panitia. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *