oleh

Lantunan Puisi Walkot Idris Dikalamkan Juruwarta

Depok, TribunAsia.com – Tak banyak yang tahu bila Wali Kota Depok Muhammad Idris punya talenta sastra bila tak melirik buku kumpulan puisi bertajuk Kota Merdesa. Kumpulan puisi ini ialah kompilasi dua puluh untaian tema  rasa-bathin Muhammad Idris yang bertajuk ungkapan cinta, politik, reliji, kemanusiaan, pengabdian, dan pelbagai topik.

Di Kota Mendesa ini, terrefleksi perengungan perjalanan bathin seorang ulama ‘yang terpaksa’ tercebur ke kancah politik. Tentang pelbagai perasaan dari renungan, galauan, semangat, hingga doa.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Ketika di awal aktivitas saya di politik sebagai Wakil Wali Kota Depok, ketika itu, saya sempat merasa galau. waktu itu saya pernah berkeinginan untuk mengundurkan diri. Saya ingin kembali jadi guru di kampus. Namun, ada yang bilang kepada saya, apa lah tempat pengujian ilmu yang ideal bila saya tak langsung mengabdi di realitas masyarakat. Ini adalah implementasi idealitas dalam realitas kehidupan,” ujar Idris.

Kompilasi puisi mantan Dosen UIN Hidayatullah ini memakai kata mendesa yang menggali kosakata kuno sansekerta yang bermakna santun; patut; beradab. Seakan mengajak berfikir, bertutur, dan berkomunikasi dengan semangat kecendikian. Oleh Idris, kompilasi puisi Kota Mendesa ini dirilis dalam ajang-anjang Media Gathering Wartawan di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu – Kamis, (19-20/12/2018).

Dibanyak kesempatan aktivitas kewalikotaannya, ademisi Pondok Pesantrian Modern Darussalam, Ponorogo, Jawa Timur dan peraih dokteral di Jurusan Tsaqafah Islamiyyah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi ini, juga gemar berpusi dan berpantun.

“Saya ini manusia biasa. Dibalik aktivitas kepejabatan saya, namun saya juga manusia biasa. Manusia itu adalah makhluk berkeluh-kesah. Merenung dan bermuhasabah. Kita butuh waktu untuk keluar dari rutinitas kerja. Mari dong kita saling bergembira di gathring ini. Ayuk menikmati keindahan alam pantai ini,” ujar Idris di hadapan parawartawan.

Menerima hadiah Kota Mendesa dari Idris kepada parawartawan mengundang minat seorang wartawan Adie Rakasiwi membacakan satu puisinya Idris ‘Shalawat Cinta Penghulu Dunia’ di panggung tepi Pantai Pelabuhan Ratu di acara Media Gathering ini.  Adie mengatakan, karya  Idris nikmat untuk dibacakan. Puisi Pak Kiyai indah dan sarat makna. Penggalan-pengalan kalimatnya memudahkan bagi siapa pun yang membacakannya. Saya tertarik untuk tampil membacakan salah satu puisinya begitu sepintas saya melihat judul dan bait pertamanya. Selain itu saya juga bernostalgia dengan pentas teater seni seni yang dulu sempat saya geluti, ” jelas Adie Rakasiwi, Sabtu (22/12/2018).

Ungkapan Rakasiwi, momen malam keakraban yang digagas Diskominfo Kota Depok ini diantuisiasi wartawan yang  bercengkram dengan Muhammad Idris dan Kadiskominfo Sidik Mulyono berserta jajarannya.

“Saya kaget juga begitu selesai membacakan puisi, Pak Kyai dan Pak Sidik nyamperin saya ke atas panggung ngucapin selamat dan terima kasih atas dibacakan puisinya, ngasih hadiah  lagi. Terima kasih buat  Walikota Depok Mohammad Idris yang berkenan puisinya saya bacakan. Buat Pak Sidik sukses acara Media Ghatring 2018,” pungkasnya.

Bagi Sidik Mulyono Pemkot Depok senantiasa jalin sinergitas dengan awak pers. Keadaban, yang akuntantabilitas atau profesionalitas yang proporsional menjadi karakter bersama.

“Seperti  buku puisi karya Pak Wali ini yang sarat makna. Mari kita ciptakan kota mendesa dalam berkomunikasi publik,” ujarnya.

Tataan puisi Idri dalam Kota Mendesa di ataranya yakni, Tekad Membenahi Kota Leluhur, Kota Sejuta Maulid, Menempa Percaya Diri, Tidak Selamanya Galau itu Negatif, Shalawat Cinta Penghulu Dunia, Merawat Cinta Bidadari Surga, Satu Kata Sarat Makna, dan Rekonstruksi Esensi Serumpun. (Hendrik I Raseukiy).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *