oleh

Penggelapan Kerjasama Primkop Babinkum TNI, Majelis Hakim Pertanyakan Dana untuk Meringankan Hukuman

Jakarta, TribunAsia.com – Majelis Hakim PN Jaktim sarankan terdakwa untuk mengembalikan sejumlah uang kepada dalam persidangan terkait kasus penggelapan dengan pembayaran melalui cek kosong. Dua orang terdakwa duduk dihadapan Meja Hijau yang tak lain seorang Ibu dan putrinya. Perlu diketahui, terdakwa Novarina dan Luskita bekerja sama dengan Primer Koperasi (Primkop) Babinkum TNI Cilangkap Jakarta Timur untuk mengikuti sertakan dan melibatkan penyewaan alat-alat berat termasuk bahan bakar Solar.

Saat itu, Pimpinan Primkop Yustisia Babinkum TNI, Yuyun Sopyan turut diyakinkan oleh terdakwa dan saksi Luskita pada kesempatan lalu dan Koperasi tersebut akan dilibatkan dalam pembelian bahan bakar solar termasuk penyewaan alat berat.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Dalam perkara itu, terdakwa Lustika membutuhkan modal senilai Rp 500 juta dan pengembaliannya dengan perjanjian jangka waktu selama sebulan. Maka, untuk memperoleh pinjaman tersebut, terdakwa Novarina dan Lustika meyakinkan Markoni dengan jaminan selembar cek tunai Bank Mandiri dengan jatuh tempo pada tanggal 3 Maret 2017.

Kata Siti Dzamzanah selaku pimpinan sidang pertanyaan etikat baik terdakwa yang ingin mengembalikan sejumlah uang yang nominalnya belum disebutkan. Akan tetapi, Majelis Hakim mengatakan kepada terdakwa sebelum agenda tuntutan diharapkan terdakwa Luskita dapat membayar pinjaman uang  terkait modal proyek.

“Saudara bisa mengganti sekarang sebelum tuntutan. Sekarang ada dana untuk meringankan hukuman saudara. Ada niat baik utk mengembalikan dikembalikan. Benar nggak pakai duit ngambilnya-lah kerjasama butuh duit toh. Oke mustika minjam duit ngasih cek kosong,” ujar ketua majelis hakim.

“Insyaallah bisa dari keluarga saya, saya komunikasi,” jawab Lustika.

Mulanya pada bulan Januari 2017, terdakwa selaku orang tua dari saksi Lustika (yang penuntutanya dilakukan secara terpisah) menemui saksi Markoni selaku Primkop Yustisia Babinkum TNI, dan menyatakan bahwa usaha atau bisnis milik saksi Lustika yaitu Pertambangan Batu Andesit yang berlokasi di Lampung sedang berjalan sangat baik dan saat ini sudah ada pesanan dari PT WIKA, karena Perusahaan milik saksi Lustika yakni PT Anugerah Mandiri Persada merupakan perusahaan rekanan dari PT WIKA. Atas hal tersebut, terdakwa menyatakan bahwa saksi Lustika membutuhkan modal kerja sebesar Rp 500 juta rupiah yang akan dikembalikan dalam jangka waktu 1 bulan, bahwa untuk menyakinkan saksi Markoni maka oleh terdakwa dan saksi Lustika diberikan jaminan berupa 1 lembar cek tunai Bank Mandiri No : GZ 146804 dengan tanggal jatuh tempo yakni tanggal 3 Maret 2017.

Selain itu, duduk selaku penutup umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Jakarta Timur Handri, SH mengharapkan terdakwa Novarina untuk menceritakan kronologi perkara tersebut dimuka persidangan.

“Saudara terdakwa coba ceritakan kesepakatan bersama,” kata Handri.

“Sehari sebelumnya saya bicara dengan Jendera, pas sore dia datang ke rumah saya kekantor Pejompongan dia sama sopirnya saya nggak tau sih. Dua hari kemudian pak Toni mengutus Pak ade saya nggak ikut kentor anak saya (Luskita). Anak saya yang ngomong langsung ke Pak Ade,” jelas Novarina diruang sidang.

Handri mempertanyakan kembali kepada terdakwa Novarina, perihal pengiriman uang senilai Rp 500 juta ke PT CBM yang terdapat di BAP saat pemeriksaan di kepolisian.

“Menurut ibu apalagi setelah pengiriman uang 500 juta ke PT CBM, ini keterangan terdakwa loh di BAP. Ini keterangan saudara waktu dikepolisian,” kata Handri.

“Artinya ibu Novarina mencabut keterangannya ya di BAP. Saudara tidak ingat, saudara tidak dipaksa,” tanya Handri lagi kepada terdakwa.

Atas pertanyaan yang dilayangkan JPU, terdakwa Novarina turut menyangga dengan singkat dalam persidangan itu yang tertuang didalam BAP yang disebutkan sebelumnya.

“Saya nggak merasa komunikasi,” singkat terdakwa.

Dilanjutkan kembali, kata Mustika masalah itu berawal dari kerjasama tentang bahan bakar berupa Solar dan kemudian percakapan saat itu saling memperlihatkan legalitas. Adapun permasalahan yang internal ditemui berdampak pada pencairan uang. Namun, dijelaskan lagi oleh terdakwa Mustika, ketika timbul permasalahan internal dikemukakan diruang sidang tagihan PT AMP dan PT CBM tidak dapat cair.

“Awalnya kerjasama solar, setelah ngobrol segala macam cek legalitas ketika kita mau tanda tangan Pak Ade mengetahui ada permasalahan internal sehingga tidak dapat mencairkan uang. Kalau begini tagihan-tagihan tidak bisa cair PT AMP dan PT CBM,” beber Mustika.

Kuasa Hukum terdakwa pun mempertanyakan kliennya dipenghujung sidang terkait sejumlah uang ratusan rupiah. Dikatakan kepada Luskita, saat dikepolisian Luskita masih menjadi saksi dan dipertanyakan pembayaran uang senilai Rp 50 juta yang mana atas nama Novarina ketika itu tengah ditahan.

“Ada pinjaman 143 juta betul. Pada saat itu saudara sebagai saksi ya di Polda Metro Jaya apa alasan membayar 50 juta saat itu Novarina sudah ditahan,” tanya kuasa hukum kepada Luskita. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *