oleh

Kemenkum HAM Akan Menambah Jatah Makan Napi di Indonesia

Jakarta, TribunAsia.com – Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum dan HAM) Yosonna Laoly, menyampaikan biaya makan narapidana dan tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang Jakarta Timur mencapai Rp 1,7 Triliun. Dia mengatakan setiap hari tahanan diberi jatah untuk konsumsi senilai Rp 15 ribu.

“Makan saja 1,7 triliun untuk menu sehari-hari 15 ribu. Ini makannya setiap hari 15 ribu nanti akan kami tambah menjadi 20 ribu,” kata Yasonna Laoly di Lapas Cipinang Jaktim,  Senin (17/12/2018).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Pada tahun mendatang, dia mengusulkan akan menaikkan anggaran khusus untuk biaya makan menjadi Rp 20 ribu dan dia juga menjabarkan biaya operasional listrik di Lapas Cipinang menekan biaya Rp 2,5 triliun.

“Ini makannya 15 ribu setiap hari akan ksmi tambah nanti 20 ribu dan listrik 2,5 T (triliun) belum bayar pegawai,” papar Yasonna dalam acara hari Aids sedunia.

Ia berharap ada perbedaan hukuman antara pengguna dan bandar narkotika. Atas hal itu, korban pengguna narkotika setidaknya memperoleh hak untuk direhabilitasi kecuali bandar narkotika dihukum berat. Selain itu, kata Laoli, penyumbang HIV dan AIDS ada pengguna narkotika dan obat-obatan. Kemudian, Yassona Laoli akan merevisi peraturan terhadap pecandu narkotika yang mana mayoritas dari mereka terkena hukuman diatas 5 tahun sehingga tidak bisa merasakan remisi.

“Salah satu penyumbang terbesar HIV dan Aids adalah narkoba. Kalau 5 tahun keatas tidak dapat remisi. Saya percaya melalui revisi akan terlihat garis siapa pemakai siapa penjual. Permintaan besar harga naik yaitu perlu pencegahan melalui sekolah-sekolah, orang-orang tua dan pemuka agama. Maka bandar internasional akan memasukan (narkoba) barang-barang ke Indonesia. Karena pemakaian narkotika berkorelasi dengan HIV dan AIDS,” jelas Kemenkum dan HAM.

Menteri Kesehatan Nila Muluk menyampaikan, pengguna narkotika narapidana yang terdeteksi menderita penyakit menular seperti tuberkolosis (TBC), HIV dan AIDS akan memperoleh pelayanan kesehatan grstis karena pihaknya telah bekerja sama dengan Kemenkum dan HAM.

“Obat diberi secara gratis dilapas ini tugas kita bersama kesadaran ini yang harus kita angkat. Kita berani kita sehat,” jelas Kemenkes.

Ditambahkan Nila, tidak hanya pemakai narkoba akan tetapi perilaku seks bebas juga dapat menyebabkan penyakit menular. Namun kata dia, bagi narapidana yang telah selesai menjalani proses hukum dilembaga pemasyarakatan yang menderita penyakit menular dapat melakukan pemeriksaan dan pengobatan di Puskesmas terdekat. Saat ini, mencapai estimasi 600 ribu narapidana mengalami penyakit menular.

“Iya begini kalau dia keluar dia bisa minta (berobat) ke puskesmas bayangin loh seumur hidup loh. 601 ribu estimasi diketemukan, tetapi fenomena gunung es itu. Kalau kita pemakai narkoba termasuk perilaku seksual lebih mudah lagi tertular,” ujar Menkes. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *