oleh

Jangan Berlebihan !

TribunAsia.com

Oleh : Imam Shamsi Ali

Iklan 52 Khutbah Jum'at

اياكم والغلو فان الغلو يهدي الي التهلكة

“Berhati-hati dengan “al-ghuluw” (berlebihan). Karena berlebihan itu membawa kepada kehancuran” (hadits).

Dalam dunia yang tidak normal banyak penyakit yang bergentayangan mengancam eksistensi ketenangan hidup manusia. Salah satunya adalah kecenderungan berlebihan dalam pikir, kata dan sikap.

Berlebihan mungkin masih memiliki nuansa positif. Belajar berlebihan bisa positif misalnya.  Tapi berlebihan yang tiada kontrol Itulah yang berbahaya, bahkan dalam bahasa Rasul “mengakibatkan kehancuran” (tahlukah).

Dalam bahasa modern atau bahasa trendinya berlebihan ini biasa dikenal dengan “ekstremisme” atau “radikalisme”. Maka kata “ghuluw” itu berarti ekstremisme dan radikalisme.

Tentu lawan kata dari “ghuluw” itu adalah “tawasshut” atau “wasathiyah” yang berarti “pertengahan”. Kata trendi dari pertengahan ini adalah “moderasi”.

Ekstremisme menggambarkan ketidak imbangan, atau lebih dalam lagi ketidak adilan alias “kezhaliman”. Sementara moderasi menggambarkan keseimbangan dan keadilan.

Ekstremisme atau radikalisme adalah sikap yang kerap kali terbangun di atas “irrasionalitas”. Pada ghalibnya terbangun di atas emosi yang labil. Sehingga pelakunya juga tidak memiliki pertimbangan rasional dalam kata dan sikapnya. Biasanya hanyut dalam emosi tanpa berpikir konsekwensi yang diakibatkan.

Bahkan lebih buruk lagi prilaku destruktif ini dibangun di atas rasa emosi yang seolah membawa kepada kebaikan. Kaum ekstrim misalnya membenarkan pengrusakan atas nama “kebaikan” (Allah atau Islam).

Di sinilah Islam yang substasinya damai di atas fondasi keadilan secara mendasar adalah ajaran moderasi. Semua hal dalam agama ini imbang dan adil. Tentu dimulai dari konsep dasar “laa ilaaha illallah” yang secara substansi mengandung keadilan universal.

Sehingga sangat wajar jika lawan dari “laa ilaaha illallah” adalah kesyirikan yang merupakan kezholiman tertinggi (syirkun azhim) dalam kehidupan.

Teman-teman, Saya tidak bermaksud menuliskan ini untuk sebuah konsep semata. Saya ingin menuliskan ini sebagai peringatan betapa dalam menyikapi banyak hal dalam hidup kita terperangkap kedalam sikap ekstremisme yang berbahaya.

Salah satunya di musim kampanye ini. Saya melihat setiap datang musim kampanye terjadi prilaku ekstrim yang membawa kepada bentuk-bentuk destruksi atau dalam bahasa hadits tadi “tahlukah” (kerusakan).

Bagaimana tidak. Dalam upaya memperlihatkan dukungannya sebagai kandidat yang terbaik mulai bermunculan kata-kata kasar dan kotor, bahkan fitnah dan kebohongan pun merajalelah.

Ekstrim dalam mendukung seperti ini membawa kepada kehancuran (tahlukah). Kehancuran pikiran dari positif menjadi negatif. Kehancuran kata dari santun menjadi kasar dan kotor. Kehancuran sikap dari jujur kepada bohong dan fitnah. Kehancuran hubungan dari silaturrahim dan persaudaraan kepada perpecahan dan permusuhan.

Ingat, mendukung itu hak bahkan positif dalam dunia demokrasi. Tapi mendukung tidak berarti berlebihan (ekstrim) dan melakukan pengrusakan.

Sekali lagi pengrusakan itu semakin nyata dalam hubungan silaturrahim dan persaudaraan. Betapa kemarin sebelum musim kampanye semua indah dalam anyaman tali persaudaraan. Begitu kampanye mulai anyaman itu disobek-sobek oleh derasnya sikap ekstrim dalam mendukung.

Tentu pengrusakan terbesar adalah mengoyak-ngoyak keindahan akhlaqul karimah sendiri. Dari santun menjadi kasar. Dari bersahabat jadi curiga dan bahkan memusuhi. Dari bersatu dan pemersatu menjadi berpecah dan memecah belah.

Sadarlah, yang terpenting dari semua itu bahwa setiap prilaku kata maupun sikap akan dipertanggung jawabkan pada masanya. “Tiada kata yang terucap kecuali ada malaikat Raqib dan Atid (yang mencatat).

Berhati-hatilah saudaraku. Coba tanya ke hati nurani masing-masing. Saya mendukung ini apakah sudah benar tujuannya? Kalau memang untuk tujuan kebaikan maka ketahuilah “kebaikan tidak akan tercapai kecuali dengan cara yang baik dan benar”.

“A noble goal necessitates a noble means”. Bahwa tujuan mulia menuntut cara yang mulia pula. Tujuan memenangkan dukungan dengan cara yang salah, itu sudah merupakan kekalahan.

Maka berusahalah menang walau pada akhirnya mungkin kalah. Toh dunia semuanya sementara. Apalagi jika itu hanya sebuah perhelatan politik. Iya kan?

 

* Presiden Nusantara Foundation USA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *