oleh

Tabah dan Berlapang Dada

TribunAsia.com

Hati yang bersih atau hati yang selamat adalah hati yang penuh dengan takwa dan iman. Penuh dengan kebaikan. Orangnya berhias dengan akhlak yang indah. Kebahagiaannya adalah melihat orang lain mendapat kebaikan. Karena inilah hati seseorang menjadi bersih dan selamat. Suci hatinya. Inilah hatinya para nabi dan rasul. Mereka cinta kalau kaum mereka mendapat kebaikan. Mereka berusaha sekuat tenaga menasihati dan membimbing kaumnya. Mengajari dan menunjuki mereka jalan kebenaran.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Nabi Yusuf ‘alaihissalam setelah saudara-saudaranya yang membuat beliau merasakan rentetan penderitaan yang panjang. Beliau berkata,

﴿قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ﴾

Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang”. (QS. Yusuf: 92).

 

Adapun nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah telah anugerahkan kepada beliau kelapangan dada, hati yang bersih, dan jiwa yang suci. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam disakiti dengan begitu parah saat berdakwah di jalan Allah, namun beliau tetap menjadi seorang yang tabah dan berlapang dada. Beliau memaafkan banyak orang yang menyakitinya.

Dalam Shahihain terdapat sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَحْكِى نَبِيًّا مِنَ الأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ ، وَهْوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ ، وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ »

“Seolah-olah aku masih dapat melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menceritakan seorang nabi dari para nabi, yaitu ketika nabi tersebut dipukul oleh kaumnya hingga menyebabkan keluar darahnya dan nabi itu mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka itu tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Sesungguhnya perkara hati merupakan perkara agung dan kedudukannya pun sangat mulia, sehingga Allah subhanahu wata’aala menurunkan kitab-kitab suci-Nya untuk memperbaik i hati, dan Dia utus para rasul untuk menyucikan hati, membersihkan dan memperindahnya.  Allah swt berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ

رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.”_(Ali Imran: 164).

Ajaran paling besar yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam adalah *memperbaiki hati.

Maka tidak ada cara untuk menyucikan dan memperbaiki hati *kecuali cara yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW.

Marilah kita jaga hati kita sebagaimana dicontohkan oleh  Nabi Muhammad saw dan nabi-nabi terdahulu, yang dikisahkan dalam Qur’an Suci.

 

Oleh : Mulia Mulyadi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *