oleh

Laut, Khidir dan Mutiara

TribunAsia.com –

Jika yang kau inginkan hanya butiran pasir maka cukup berdiri di pinggir laut tapi jika yang kau inginkan butiran mutiara engkau harus menyelam ke dalam nya.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Berdiri di tepi pantai tentu sangat berbeda dengan menyelam. Diperlukan keahlian dan bimbingan untuk bisa mendapatkan ilmu menyelam agar bisa selamat apalagi untuk menemukan sebutir mutiara yang tersembunyi di dasar laut.

Syariat ibarat di pinggir laut,  hakikat makrifat adalah mutiara, sedangkan tarekat adalah proses menyelam di dalam laut.

Mutiara hanya bisa di dapat dengan menyelam, secara sungguh sungguh, penuh kesabaran.

Analogi ini sudah disampaikan oleh Syekh Bahauddin Naqsyabandi hampir 1000 tahun lalu,  menjelaskan syariat, tarekat, hakikat dan makrifat lewat permisalan pantai, laut dan mutiara sehingga orang orang di zaman Beliau dengan mudah memahami. Itulah sebabnya Beliau di gelar NAQSYABANDI, bisa melukiskan (menjelaskan) hakikat yang rumit dengan mudah kepada awam.

Jauh sebelumnya Nabi Khidir dengan bijaksana mendidik Musa lewat perjalanan laut dengan merusak “perahu”. Khidir di temui oleh Musa di pertemuan dua laut, lautan syariat dan lautan hakikat, hanya Khidir saat itu yang bisa menyatukan dua laut itu dan menghidangkan kepada Musa dengan lezat. Khidir tentu saja bukan duduk santai di pinggir laut apalagi membangun rumah di pantainya, tapi Beliau berada di “Lautan” Ilmu, sampai sekarang!

 

Para Guru Sufi juga menjelaskan hakikat  lewat laut:

Yang mana disebut buih

Yang mana disebut ombak

Yang mana disebut lautan.

 

Dengan bijak pula Hamzah Fanshuri memberi jawaban, “Buih, Ombak dan laut hakikatnya mereka bersatu Juga”.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *