oleh

Rasionalisasi Kurikulum Berorientasi Kewirausahaan dan Agrobisnis Dilingkungan Ponpes Shohwatul Is’ad

Pangkep, TribunAsia.com – Kepala Unit Penjamin Mutu Pendidkan Pondok Pesantren Shohwatul Is’ad. Suryawati Ningsih Daiman, M.Pd menyatakan, kewirausahaan atau entrepreneurship dan agrobisnis menjadi core komponen sistem pendidikan di Ponpes Shohwatul Is’ad yang menjadi kurikulum unggulan dan terintegrasi dalam sistem pembelajaran berbasis kelas dan laboratorium.

Suryawati Ningsih Daiman mengatakan, adalah niat luhur founding father pesantren Shohwatul Is’ad yang meletakkan harapan bahwa dengan adanya kurikulum kewirausahaan dan agrobisnis (KDA) akan  menghasilkan entrepreneur muda di Indonesia yang memiliki kualitas sebagai insan ulil albab.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Pondok pesantren shohwatul is’ad menjadi satu-satunya sekolah yang memiliki desain kurikulum yang berorientasi kewirausahaan dan agrobisnis, dan ini menjadi keunggulan kita dibandingkan sekolah lain yang sejenis,” jelas Bunda Ningsih yang juga menjabat trainer dan konsultan pendidikan dilingkungan Kementrian Pendidikan Nasional, Rabu (5/12).

Bunda Ningsih menyampaikan, untuk dilingkungan Ponpes Shohwatul Is’ad menggunakan  pendekatan yang variatif dan komprehensif untuk mengimplementasikan kurikulum kewirausahaan dan agrobisnis. Model implementasi kurikulum KDA akan menghasilkan santri yang memiliki kecakapan dari sisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap kemandirian yang bisa diterapkan dilapangan.

“Desain kurikulum KDA mengacu pada kurikulum tahun 2013 yang kemudian dikembangkan sesuai core kompetensi yang ingin kita capai, kurikulum KDA mengarahkan santri mengikuti porsi pembelajaran teori dengan komponen 40 % dan pratikum dengan porsi 60 %” ujar Bunda Ningsih.

Selain itu, kurikulum KDA mempunyai program yang dikembangkan dan diimplementasikan kedalam lima prinsip pembelajaran.

“Ada lima prinsip pembelajaran KDA yang kita terapkan, yaitu; nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber gerak, daya, tenaga, tujuan, sumber dan proses sebuah hasil bisnis, KDA merupakan proses mengerjakan sesuatu yang inovatif dan memberikan nilai lebih, KDA adalah kemampuan untuk menciptakan produk yang berbasis kearifan lokal, KDA menerapkan kreativitas dan keinovasian dalam memecahkan masalah serta menemukan peluang usaha dan kemandirian ekonomi, dan KDA memberikan nilai tambah dengan mengkombinasikan sumber pangan lokal melalui cara-cara inovatif”, ungkap Bunda Ningsih.

Dan pengembangan nilai-nilai kewirausahaan dapat diukur melalui pengembangan sikap yang teraktualkan dalam sikap jujur, disiplin, kerja keras, kreatif, tanggungjawab, kepemimpinan keberanian, komitmen dan rasa ingin tahu.

“Kurikulum yang ditawarkan dan dirasionalisasi pada hari ini memiliki keunggulan kompetitif dan komperatif yang dapat menghasilkan peserta didik, dalam hal ini santri dilingkungan Ponpes Shohwatul Is’ad yang memiliki kecakapan secara akal, keterampilan dan sikap. Proses pembelajaran yang terintegral antara sekolah dengan laboratorium KDA dapat menghasilkan enterpreuner muda yang siap bersaing di pasar digital”, pungkas Bunda Ningsih. (Bia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *