oleh

Tak Terima Keluarganya Dibacok, Nekat Dibalas Bacok Naas Hingga Tewas

Jakarta, TribunAsia.com – Balas dendam tidak terima anggota keluarga dibacok tanpa perdamaian, justru Slamet nekat membacok kembali Bonar alis Kate pelaku pembacok keluarganya hingga tewas tersungkur di Kramat Jati Jakarta Timur.

Saat ini, Slamet menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dengan barang bukti senjata tajam sebilah cocor bebek. Kejadian pembunuhan bermula ketika terdakwa Slamet melihat korban di Jalan Pasar Induk Kramat Jati dan langsung meneriakan kata-kata maling kepada korban. Hal itu, lantas mengundang perhatian massa pada kesempatan itulah emosi dilampiaskan kepada Bonar alias Kate seperti dijelaskan dalam persidangan.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Dalam keterangan saksi Fajar Ikhtiar yang tak lain adik kandung korban pembunuhan (Bonar alias Kate) yang disampaikan Majelis Hakim dalam kesaksian ketika terjadi pembacokan saksi sedang nongkrong disekitar lokasi.

“Jadi yang bener bagaimana. Jadi kamu tetap pada keterangan kamu, tadi kamu mengatakan pada saat duduk nongkrong itu kemudian terdakwa ngejar-ngejar teriak maling-maling begitu. Kamu tetap pada keterangan kamu dicatat gapapa semua dicatat,” jelas Sutikna dalam persidangan, Selasa (4/12/2018).

Sidang yang dipimpin Sutikna, SH selaku Ketua Majelis Hakim PN Jaktim dengan didampingi Hakim anggota RR Endah, SH dan Ida Ayu Puspa, SH.

Kata terdakwa Slamet, saat kejadian pembacokan di Kramat Jati pada pukul 01.30 WIB dini hari tepatnya bulan Agustus 2018 tidak ada saksi mata yang melihat, akan tetapi setelah kejadian saksi baru tiba dilokasi.

“Tidak ada yang melihat dari belakang, saudara saksi ini setelah selesai baru saksi ada,” singkat terdakwa.

Namun, disampaikan Majelis Hakim kepada terdakwa tentang keterangan saksi-saksi dari petugas kepolisian dianggap tidak tepat oleh terdakwa ketika kejadian berlangsung.

“Jadi keterangan di polisi nggak bener ya dibacok dari belakang ditangkis ya,” ujar majelis.

Sementara, kesaksian dari kedua orang anggota kepolisian diruang sidang menyampaikan, tempat kejadian perkara terletak di RT 1 RW 10 korban yang bersimbah darah dengan luka cukup parah menggunakan senjata tajam. Untuk barang bukti senjata tajam, pihak kepolisian menyita cocor bebek.

“Di RT 1 RW 10 ada kejadian korban dengan luka-luka yang cukup parah. Korban bernama Bonar tersungkur di TKP pada saat itu sudah diamankan atas nama Slamet. Diamankan sebuah corbek (cocor bebek),” terang Abdul Hafis bersama Dwiyantoro .

Saksi turut menambahkan, selain senjata tajam dan kain milik Slamet, dia bersama anaknya bersembunyi di Banyu Asin, Palembang dirumah keluarga istri terdakwa ditangkap.

“Kain punya Slamet berdua dengan anaknya. Dapat di Palembang di daerah Sungai Lilin Banyu Asin ditempat saudara istrinya,” tandasnya.

Lebih lanjut kata saksi Hafis, Budi turut diamankan disekitar lokasi kejadian pembunuhan dan menyita sebilah Celurit.

“Dari saudara Budi didapat dari tak jauh dari tempat kejadian, mengakuinya,” imbuhnya.

Ditambahkan, Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Jakarta Timur (JPU Kejari Jaktim) pun turut mempertanyakan saksi-saksi untuk menjelaskan waktu kejadian pembacokan termasuk jumlah pelaku saat itu berlangsung.

“Saudara saksi disini pelakunya berapa orang dan jam berapa (kejadian),” tanya Yully, SH kepada saksi.

“Dua orang sekitar jam 2 (dini hari). Sudah diamankan warga. Ada di bagian muka (darah). Sudah meninggal pada saat di kantor kita koordinasi Polsek setempat ,” ujar saksi dari polisi.

Atas kejadian pembacokan yang berakhir tewasnya korban terdakwa diancam Pasal 340 junto 55 ayat 1, Pasal 338 junto Pasal 55 ayat 1 dan Pasal 170 tentang pembunuhan berencana, pembunuhan biasa dan pengeroyokan.

Kuasa Hukum terdakwa menilai, polisi kurang memperhatikan barang bukti dan masyarakat sekitar pun kurang peduli ketika terjadi perkelahian berdarah untuk menolong korban yang terjadi sekitar pukul 01.30 dini hari (8/8) lalu di Jalan Remaja Kramat Jati.

“Polisi kurang memperhatikan barang bukti sama mereka masyarakat kurang peduli untuk menyelamatkan korban lebih dulu karena pada pukul 01:30 dini hari (8/8/) di Jalan Remaja Kramat Jati,” kata Ruth Yeny Febriannty, SH dan Setyawan, SH.

Dengan demikian Tim Kuasa Hukum berpendapat, disinyalir terdakwa Slamet bekas dendam dengan alasan, adik terdakwa sebelumnya telah dibacok boleh korban Bonar alias Kate dan korban tidak ada upaya permintaan maaf sehingga terjadi kembali aksi pembacokan.

“Balas dendam. Adik pelaku dibacok oleh korban kemudian kan mereka nggak ada permintaan maaf segala macam. Tersulut emosi keluarga lalu melakukan aksi pembacokan kepada korban,” paparnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *