oleh

Sidang Pelajar Tawuran, Penasehat Hukum: M Rais Subairi Tidak Bersalah dan Tas Berisi Sajam Bukan Milik Terdakwa

Jakarta, TribunAsia.com – Sidang pelajar tawuran SMKN 7 Grafika telah memasuki tahap tuntutan yang dibacakan penuntut umum di ruang sidang PN Jaktim.

Menurut tim penasehat hukum terdakwa Muhammad Rais Subairi menuturkan, inti kesimpulan tuntutan JPU tersebut dengan mendengarkan saksi-saksi dan fakta persidangan kliennya dinilai tidak bersalah.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Kemudian kata kedua pengacara itu, Valdano Islami A, SH bersama Bahder Johan, SH.,MH terdakwa secara mutlak tidak memiliki senjata tajam yang terdapat didalam tas saat penangkapan tawuran antar pelajar.

“Kesimpulan intinya bahwa ada beberapa fakta persidangan yang didengar dan dipertimbangkan oleh hakim bahwa saudara terdakwa tidak bersalah secara mutlak ini menurut pandangan dari kami selaku kuasa hukum terdakwa Muhammad Rais Subairi,” ungkapnya kepada TribunAsia.com, Senin (26/11/2018).

Dilanjut, dalam tuntutan JPU terdakwa dituntut selama 10 bulan dan kata mereka berdua di pelataran pengadilan bahwa kliennya tidak bersalah dengan harapan hukum bebas dari Majelis Hakim.

“Bahwa isi dalam tuntutan jaksa penuntut penuntut umum, saudara terdakwa dituntut 10 bulan. Bahwa pada umumnya senjata tajam itu dituntut 1,5 tahun berarti tim penasehat hukum terdakwa meyakinkan kepada majelis bahwa saudara terdakwa tidak bersalah dan harapan kami saudara terdakwa dijatuhkan hukuman bebas,” tandas tim kuasa hukum dari Advokad Idonesia.

Lebih lanjut, terkait permasalahan tawuran pelajar dilingkungan Jakarta Timur yang masuki proses hukum dipengadilan, tim penasehat hukum memaparkan keterangan yang dihimpun dari saksi-saksi yang dihadirkan ketika berada dalam persidangan.

Disampaikan pula saksi-saksi yang dihadirkan antara lain, rekan-rekan terdakwa sesama pelajar, warga sekitar, Ibu terdakwa dan Wali kelas terdakwa Muhammad Rais Subairi.

“Karena, alasan kami yakin dan jelas berdasarkan keterangan saksi-saksi yang dihadirkan oleh tim penasehat hukum terdakwa dipersidangan. Saksi-saksi yang hadir saat itu Muhammad Hadid, Akbar Lail Sidik, Sukma Hadi dan guru sekolah Darwin Parlindungan. Saksi dari warga Pak Ryan dan Pak Budi, Nurhasanah ibu terdakwa,” tambanya.

Sambungnya dalam kesempatan itu, saksi-saksi mengatakan, tas yang disita petugas kepolisian berisi senjata tajam berupa Celurit bukan milik kliennya akan tetapi milik seseorang yang disebut-sebut dalam kesaksian milik alumni terdakwa.

“Kalau intinya dari kesaksian dari Muhammad Hadid, Akbar Lail Sidik sama Sukma Hadi, bahwa sebelum terjadi razia yang dilakukan oleh kepolisian. Saya mengetahui dan melihat bahwa Muhammad Rais Subairi dengan sengaja ditukar tasnya oleh Sukma Hadi. Dan Muhammad Rais Subairi tidak mengetahui sama sekali bahwa didalam tas tersebut berisi senjata tajam berupa celurit itu saksi yang meringankan,” tegas Bahder Johan.

Terdakwa Muhammad Rais Subairi diancam oleh JPU, pasal 2 ayat 1 undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951 dan diubah menjadi undang-undang Republik Indonesia dahulu nomor 8 tahun 1948.

Namun, tak lupa tim penasehat hukum mengurai lagi dan mengulang tentang kesaksian guru tempat terdakwa bersekolah, bahwa terdakwa Muhammad Rais Subairi berprilaku baik dilingkungan sekolah.

Hanya saja kata Valdano Islami A, SH, Muhammad Rais Subairi disekolah bermasalah dengan SPP terkait biaya sekolah dan kliennya aktif diorganisasi sekolah SMKN 7 Grafika.

“Prilakunya terdakwa itu jawabannya bagus dia ikut organisasi rohis dan rajin sekolah tidak ada masalah dengan guru dan teman-temannya. Tetapi permasalahan ekonomi pembayaran iuran sekolah SPP itu, saksi wali kelas dari kelas 1 dan 2. Kita kuasa hukum optimis saudara terdakwa bebas,” bebernya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *