oleh

Peringatan Hari Guru Nasional Ala Pesantren Shohid

Pangkep, TribunAsia.com Bertepatan dengan hari Ahad, 25 November 2018, Civitas Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Shohwatul Is’ad memperingati Hari Guru Nasional dengan cara yang khas, karena seluruh pelaksana upacara dilakukan oleh guru.

Momen peringatan Hari Guru Nasional terasa unik dan menarik karena pelaksana upacara adalah guru dilingkungan PPMI Shohwatul Is’ad, sebuah pemandangan yang tidak lumrah. Pemimpin upacara yang dikomandoi oleh Ust. Irfan Ahmad, M. Hum nampak khikmat, gagah, dengan suara yang lantang mengarahkan peserta upacara, tentu ini merupakan pemandangan yang langka, meski suasana serius namun, ekpresi lucu dan menarik dari segenap peserta upacara yang menyaksikan Ust. Irfan Ahmad memimpin jalannya upacara peringatan Hari Guru Nasional yang terasa seperti pemimpin upacara di Istana Presiden.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Pemandangan lain yang paling mengangumkan, ketika pasukan pengibar bendera merah putih yang dibawakan oleh Ust. Irvan, Ust. Sunandar dan Ust. Ali Imran memasuki lapangan dengan tegap dan langkah yang teratur dan pasti memasuki lapangan dan bergerak menuju kearah tiang bendera.

Derap langkah yang seirama begitu indah dan mengundang decak kagum peserta upacara peringatan Hari Guru Nasional, terkhusus santri yang terlihat senyum sumringah memandang guru mereka mengibarkan sang merah putih.

Pada kesempatan yang sama, amanat sebagai pembina upacara,  Ust. Muhammad Mukhlis, Lc,  MA menyampaikan kepada seluruh peserta upacara bahwa hari ini selain hari guru,  juga Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang ke-67.

“Perhatikan pemimpin upacara tampil keren guru kalian, orang yang pernah mengajar kita pengetahuan, kebaikan dan ilmu bermanfaat maka ia guru kita. Siapa yang pernah mengajarkan satu hurup satu kata dan diamalkan maka ia adalah tuan atau guru yang harus dihormati, taati, dihargai, bukan guru namanya yang mengajarkan kamu kemaksiatan dan kejahatan” ungkap Ust. Mukhlis.

Menurut Ust. Mukhlis, guru ikut berjuang dan mengangkat senjata untuk kemerdekaan. Presiden,  guru besar ada karena jasa guru,  meski ia pahlawan tanpa tanda jasa, “Contohnya,  saat guru masuk kelas, ditemukan murid berdebat soal matematika, kata murid bodoh jika ia salah ia rela dipotong lehernya,  dan yang murid cerdas mengatakan jika saya salah maka ia rela dicambuk,  akhirnya guru memutuskan untuk mencambuk meski yang menjawab salah adalah murid bodoh,  hikmahnya adalah jika saya katakan kamu benar maka murid yang satu akan mati,  karena rela dipotong, jadi boleh jadi apa yang kamu benci tapi itu yang terbaik untukmu”terang Ust.Mukhlis

Pembacaan Undang Undang Dasar 1945 oleh ust Basir,  dengan lantang menyampaikan semangat kemerdekaan,  yang diikuti pembacaan ikrar guru oleh Suryawati Ningsih Daiman, S.Pd., M.Pd.

Usai upacara peringatan Hari Guru Nasional, pengumumuna guru terfavorit versi santri pun disampaikan Kepala UPPM yang dimenangkan oleh Ust.Achamd Shohabat, Ust. Wahyuddin, Ust Irvan, Ust. Adnan dan terakhir Ustadzah Lisda lahab.

“Berdasarkan survey  yang dilakukan Humas, maka diperoleh hasil suara terbanyak pilihan santri adalah point tertinggi dengan skor 76 diraih Ust. Achmad Sohabat, urutan kedua ditempati Ust. Wahyuddin dengan poin sebesar 64, Ust Irvan mengumpulkan skor 51, Ust. Adnan merebut tempat keempat dengan perolehan 47 poin dan diposisi kelima diduduki oleh Ustdazah Lisda Lahab” ungkap Kepala UPPM PPMI Shohwatul Is’ad.

Setelah pelaksanaan upacara Hari Guru Nasional, dilanjutkan dengan acara lomba memasak dan pembuatan mading tiga dimensi. Pengumuman juara akan disampaikan pada hari Senin (26/11/2018) melalui rilis di group whatsapp guru dan Pembina Shohid. Pertandingan begitu meriah dengan keseruan dan kegembiraan guru dan santri ditiap kelasnya, berharap memenangkan pertandingan untuk membanggakan kelas mading-masing. (Pimpres MS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *