oleh

PTUN Sidangkan Perkara Antara PT Adaro dengan Warga Dayak Kalimantan Tengah

Jakarta, TribunAsia.com – PTUN Jakarta sidangkan perkara antara PT Adaro dengan warga Dayak yang terletak di Kalimantan Tengah. Dalam persidangan beberapa saksi dihadirkan dan menyampaikan terkait lokasi lahan pengembalaan kerbau dan kepemilikan tanah.

Saat persidangan, Penggugat memberikan pertanyaan kepada saksi fakta selaku Demang yang mana telah dijelaskan bahwa saksi telah dikukuhkan oleh bupati dan kepada adat setempat dengan dikuatkan atas dasar turunnya SK.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Apakah lahan pengembala kerbau ada dilahan saudara ini lembaga apa,” tanya penggugat.

Perlu diketahui Husrani Noor SH MH selaku penggugat dari Joy Morris Siagian dan Patners. Kemudian, saksi fakta merinci dihadapan Majelis Hakim PTUN Jakarta kedatangan Sahruni kepala adat hanya untuk membuat surat lokasi pengembalaan kerbau dan hingga saat ini aktifitas tersebut masih berlangsung.

“Sahruni datang untuk membuat surat lokasi pengembalaan kerbau minta kepala adat sampai saat ini ada kerbaunya,” ujar saksi Rajikun Damang selaku kepala adat setempat.

Kata kepala adat, disebutkan tugas yang diembannya tersebut tak lain adalah untuk membantu jalannya pemerintahan di wilayah Jenang.

“Untuk membantu pemerintah. Demang diwilayahnya Jenang untuk suku Dayak Bakumpaya,” kata saksi.

Selain itu, penyebab kematian hewan kerbau turut dipertanyakan dalam persidangan yang terhubung dengan jalan utama yang dilalui menuju pertambangan PT Adaro.

Untuk saksi-saksi yang dihadirkan dari warga Kalimantan yaitu Rajikun Damang Kepala Adat, mantan Sekretaris tim verifikasi Kujang Rosadi, Abidin pemilik Beje yang berdampingan pertambangan, dan Basri masyarakat Desa Murung Klanis Kalimantan Tengah.

Duduk selaku Ketua Majelis Hakim dipimpin oleh Susilowati Siahaan dengan didampingi Hakim anggota Baiq Yuliani dan Edi Septa Suharza. Sehingga dengan itu, kerugian tak luput dipertanyakan termasuk luas tanah dan Beje (kolam) oleh tim Majelis Hakim kepada saksi-saksi yang hadir dihadapan Penggugat dan Tergugat.

“Saksi mempunyai Beje berapa (kolam). Begini persis dijalan ini Adaro. Tadi maksud luas tanah berapa. Saksi tahu atau tidak tanah untuk menggembala kerbau itu,” tanya Susilowati Siahaan.

Disambung kembali Penggugat, pertanyaan kepada saksi tentang penyebab kematian kerbau dijalan dan tentang izin pembuatan lubang-lubang terkait pergantian oleh PT Adaro.

“Saudara tau kerbau yang mati dijalan. Saudara saksi katanya sudah diganti oleh PT Adaro dan saksi sudah izin untuk membuat lubang-lubang. Saat ganti rugi saudara saksi menandatangani surat apa,” ujar Penggugat.

“Kalau kerbau mati saya tau yang nggak tau tapi kalau matinya saya nggak tau. Hanya kwetansi,” jawab  saksi. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *