oleh

Cekcok Keluarga Berujung Perceraian

Jakarta, TribunAsia.com – Rumah tangga adalah sebuah bangunan keluarga yang perlu dijaga oleh masing-masing pasangan, bahkan sebuah ikatan rumah tangga seharusnya bisa awet hingga kakek nenek, ini merupakan impian ideal semua orang, akan tetapi dalam kenyataannya tidak semua mimpi indah tentang rumah tangga dapat diwujudkan, salah satunya yang dialami Muliati (35), warga Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.

Muliati memutuskan menggugat cerai suaminya Dimas (38) karena alasan cekcok keluarga.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Keluarga saya dan keluarga dia (suami) perselisihannya sudah terlalu rumit, perceraian ini mungkin adalah jalannya” ungkapnya di Kantor KUA Senen Jakarta Pusat, Kamis (22/11).

Muliati yang berperawakan tinggi dengan rambut sebahu terlihat tidak bahagia dengan pilihan yang diambilnya, hal itu tercermin dari ekspresi muka perempuan ini yang lebih menampakkan aura murung.

Saat menuturkan kisah rumah tangganya, ia sesekali menghela nafas panjang, sangat terasa ada beban berat yang mengganjal dalam dada perempuan ini.

Sebelum memutuskan menempuh jalur perceraian, mediasi antara keluarga sudah dicoba, namun semua usaha tersebut mental.

“Sudah ada upaya mediasi antara pihak keluarga, tapi tidak berhasil, yah mau gimana lagi” tuturnya kepada TribunAsia.com

Penyebab utama gagalnya mediasi karena masing-masing pihak bertahan pada ego yang terlanjur dibangun.

“Masing-masing kukuh pada egonya jadi susah” imbuhnya.

Cekcok Keluarga diantara mereka berawal saat Dimas sang suami mengalami sakit, sakitnya terbilang parah dan butuh perawatan serius, Muliati pada dasarnya tetap merawat suaminya, namun sesekali ia balik ke rumah orang tuanya melepas kangen, tindakan Muliati tersebut dinilai keluarga Dimas sebagai bentuk ketidaksetiaan terhadap suami, dari sinilah masalah berkembang hingga akhirnya menjadi semakin kompleks dan tidak terkendali lagi.

Dari perkawinan mereka lahir seorang anak, Akmal yang masih berusia empat tahun, Muliati kukuh agar sang anak ikut dirinya Karena ia merasa lebih berhak.

“Anakku Akmal harus ikut aku, tentang ini keluarga Dimas tidak mempermasalahkan, aku tidak akan membatasi kalau sewaktu-waktu dia mau ketemu ayahnya” tuturnya.

Kisah rumah tangga di atas menyadarkan kita akan satu pesan penting yakni komunikasi, komunikasi merupakan kata kunci merawat keluarga kecil bernama rumah tangga, suatu masalah kecil yang tidak dikomunikasikan dengan baik sejak awal akan berujung prahara, sebaliknya, seberat apapun masalah rumah tangga bila dikomunikasikan dengan baik pasti akan menemukan solusi tepat, tidak akan sampai mengancam keutuhan rumah tangga. (ZNR)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *