oleh

Relevan Terhadap Masa Depan

Jakarta, TribunAsia.com – Relevansi ialah kata kunci baik untuk organisasi, sebesar apa pun skalanya, dalam menghadapi masa depan. Center for the Effective Organization University of Southern California (USC). Mengatakan bahwa tantangan bagi organisasi masa kini bukan lagi menjadi yang terbaik, melainkan menjadi yang terbaik dalam berubah.

Umur organisasi akan diprediksi dari kemampuannya mengikuti perubahan dan melakukan perubahan relevan, ketimbang sekadar menjadi yang terbaik di masa sekarang. Kita sudah melihat Kodak, Nokia, atau Blackberry, yang pernah menjadi yang terbaik di bidangnya, tetapi hancur karena gagal mengikuti perubahan.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Untuk itu, organisasi membutuhkan pemimpin yang tidak sekadar melek, tetapi fasih masa depan. Lebih dari sekadar mampu membawa organisasi survive di masa depan, mereka harus mampu membawa organisasi lebih kompetitif di masa depan. Inilah tantangan kepemimpinan masa kini. Menjadi transformational leaders saja tidaklah cukup.

Clark G Gilbert, Mark W Johnson & Scott D Anthony mengatakan organisasi dan lembaga membutuhkan pemimpin yang mampu melakukan transformasi ganda (dual transformation), yakni dengan melakukan reposisi dan mengeksploitasi opportunity baru di masa sekarang, sekaligus menciptakan positioning yang tepat untuk menjadi relevan di masa depan. Ada beberapa tantangan yang harus diatasi kepemimpinan yang berorientasi masa depan.

PERTAMA ialah tantangan kapabilitas. Donald Rumsfeld mengatakan ada tiga jenis tantangan, yakni. Yang kita tahu bahwa kita tahu (known-known), lalu kita tahu bahwa kita tidak tahu (known-unknown), dan kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu (unknown-unknown). Masa depan akan dipenuhi dengan tantangan di area unknown-unknown. Jika pemimpin hanya sibuk menjawab tantangan yang known-known, dia akan berkutat seperti mesin.

Jika sibuk menangani yang kedua, dia akan sibuk menjadi problem solver. Aktif menangani ketiga berarti selalu mencoba menganalisis masa depan agar bisa melakukan berbagai antisipasi sehingga terhindar dari kejutan yang merugikan.

Itu tidak bisa dilakukan dengan ‘ilmu’ known-known atau known-unknown. Edward Hess dalam bukunya Learn or Die mengingatkan, apa yang diketahui organisasi tidak relevan dalam menghadapi the unknown-unknown.

Organisasi harus bisa mencari tahu lebih cepat dan lebih hebat dari kompetitornya. Kemampuan mencari tahu dan berkolaborasi dengan yang paling tahu ialah kunci menghadapi the unknown-unknown.

Tantangan yang KEDUA ialah belum ada tradisi melembagakan antisipasi terhadap masa depan.

Vijay Govindarajan dalam bukunya The Three Box Solution, mengingatkan urgensi bagi organisasi untuk melembagakan kegiatan mengantisipasi masa depan agar dapat melahirkan inovasi yang relevan di masa depan

Ia mengatakan tiap organisasi perlu memiliki kegiatan yang berorientasi pada kotak : masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kegiatan di kotak ketiga harus berfokus pada antisipasi masa depan.

Ini mengingatkan bahwa transformasi institusi dari A ke B tidak lagi cukup sebab yang dibutuhkan ialah melembagakan kemampuan bertransformasi.

Yang KETIGA ialah tantangan untuk keluar dari perangkap ekstrapolasi atau asumsi bahwa masa depan akan sama, tidak jauh berbeda dan hanya berupa perpanjangan masa sekarang.

Kecenderungan seperti itu bisa dilihat dalam berbagai rapat kerja, perencanaan tahunan, atau perencanaan lima tahunan. Yang selalu mengasumsikan bahwa situasi, tantangan, dan persoalannya sama dengan hari ini. Bob Johansen mengingatkan perlunya proses foresight agar bisa mendapatkan insight yang tepat untuk perencanaan strategis.

Tantangan yang KEEMPAT ialah batasan waktu bagi para pemimpin publik (di Indonesia dibatasi maksimal dua kali lima tahun). Batasan itu, sadar atau tidak, membuat pemimpin berorientasi jangka pendek dan menengah, dan abai pada visi jangka panjang

Dalam situasi seperti ini minimal seorang pemimpin perlu menetapkan arah kebijakan strategis jangka panjang, yang akan tetap relevan bagi pemimpin berikutnya. Kita sudah melihat betapa besarnya biaya jika kita tidak berorientasi pada masa depan.

Segala permasalahan kita hari ini sebagian besar akibat kesalahan pengambilan keputusan di masa lalu, atau ketidaksiapan kita di masa lalu dalam mengantisipasi berbagai perubahan.

Jika di masa sekarang para pemimpin tidak berorientasi masa depan, di masa depan kita harus membayar mahal kesalahan masa sekarang ini. Ada pepatah yang mengatakan, “waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah sekarang. (GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *