oleh

Waspada Kecurangan Suara di Tingkat PPK Kecamatan

Tangsel, TribunAsia.com – Issu Pileg 2019 di Tangerang Selatan, sudah menjadi mafhum ditingkat RT, RW hingga PPK ditingkat kecamatan diduga adalah aktor intelektual lahirnya anggota legislatif yang bermental koruptor disebabkan data validasi DPT bisa menjadi pemanis bagi para Caleg yang ikut Pileg Tangsel 2019.

Berdasarkan pantauan awak media pemilihan anggota legislatif 2019 menjadi sumber pundi-pundi keuntungan sesaat, pasalnya tidak sedikit para Caleg yang ingin tembus dan mendapatkan kursinya ditawarkan dengan berbagai ongkos politik yang sangat menggiurkan.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Masyarakat Tangsel kian apatis mengikuti Pileg 2019 yang potretnya dianggap bancakan 5 tahunan sekali bagi panitia tingkat kelurahan hingga kecamatan.

Johni (38 tahun) warga BSD menilai banyak caleg yang lahir dari PPK akibatnya menebus kemenangan untuk mengembalikan ongkos politik yang dikeluarkan lalu menjadi koruptor.

“Masyarakat harus bisa menentukan masa depan Tangsel dengan sikap cerdas dan berani memilih wakil rakyatnya sesuai aspirasi bukan lantaran besarnya uang pelicin yang ditawarkan Calegnya” ujar Johni hari ini (16/11) sore.

Hal sama dijelaskan warga muncul kelurahan kademangan, Rafli (28 tahun) yang juga mahasiswa swasta di Tangsel menguraikan, “Panitia pemilihan anggota legislatif baik dari tingkat KPUD hingga PPK adalah aktor intelektual terbitnya data DPT yang bisa menjadi obyek emas bahkan menyesatkan bagi para calegnya.

“Bisa saja kongkalikong sudah terbentuk disaat para caleg terjebak dalam permainan suap menyuap sesuai ongkos politik yang ditawarkan untuk bisa lolos ke DPRD Tangsel, pesan saya masyarakat jangan mau terjebak mencoblos” ucapnya.

Terpisah Ketua Badan Musyawarah Kota Tangerang Selatan Julham Firdaus, Mengatakan kepada awak media, “Saya mengajak kepada seluruh masyarakat dan lembaga pemilu 2019, harus benar benar menjadi pengawal demokrasi yang kokoh jauh dari unsur unsur KKN yang akibatnya melahirkan wakil-wakil rakyat bermental koruptor” tuturnya.

Masyarakat harus berani bersatu, santun dan tidak terjebak dalam pusaran menyesatkan ibaratnya bisa menilai dari bibit bebet bobotnya calon anggota legislatif yang saat ini ditawarkan kepada masyarakatnya” pungkas Julham.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *