oleh

Pemilik Warung Soto dan Ketua RT di Pekan Baru Menjadi Saksi Teroris Terkait Mako Brimob

Jakarta, TribunAsia.com – Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) gelar sidang perkara teroris terkait penyerangan Mako Brimob. Sidang berlangsung diruang MR. R, Wirjono Prodjodikoro dengan mendatangkan saksi-saksi dari ketua rukun tetangga (RT) dan pemilik warung soto dari Pekanbaru, Riau.

Dari kesaksian Safrudin warga Pekanbaru yang tak lain pemilik warung makan menjelaskan, dirinya pernah mendapat instruksi untuk rapat dan menolak rumahnya untuk berkumpul dikarena anak serta menantu akan datang kerumah tersebut.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Saya nggak tahu hanya instruksi merapat saja,” katanya.

Ia menambahkan, pertemuan dalam pembicaraan diskusi berbau teroris tempat usahanya itu tidak diketahui asal usul kelompok manapun yang tengah datang di warung makan milikinya.

“Nggak pernah mengetahui,” ucapnya beri kesaksian saat di warung miliknya.

Perlu diketahui, duduk sebagai Terdakwa Abdurahman dan Hengki dihadirkan dalam persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Siti Rochmah, SH didampingi Hakim anggota lainnya.

Selain itu, Siti Rohmah mempertanyakan kepada saksi-saksi yang hadir dipersidangan tentang perihal pertemuan dirumahnya terdakwa Abdurahman termasuk aktivitas kesehariannya.

“Bapak tau betul nggak ada pertemuan di rumah Abdul Rahman. Abdurahman pekerjaannya apa ?,” tanya majelis hakim.

“Nggak tau jarak rumah saya sekitar 10 kilometer. Dia pengelola rumah makan,” jawab saksi Safrudin.

Namun, tim majelis hakim berharap kepada saksi-saksi yang telah disumpah selsyaknya memberikan keterangan yang benar, karena kata dia bila memberikan penjelasan yang tidak sesuai akan mendapat sanksi hukum.

“Sebelumnya ada kegiatan apa, terselebung saudara jangan memberi keterangan palsu dan bisa karena pasal sumpah palsu sebab ada konsekuensinya,” jelas Siti Rohmah.

Kemudian, Syafrudin dalam kesaksiannya sempat mengutarakan rencana kepergian terdakwa dalam percakapan di warung makan milik saksi hendak ke Kerinci.

Karena, lokasi rumah makan saksi tak jauh dari perlintasan jalur utama bus maka rekan terdakwa menitipkan sepeda motor untuk melanjutkan perjalanan dengan menumpang bus.

“Mau ke Kerinci, 30-40 meter naik bis,” singkat saksi.

Mutarom selaku Ketua Rukun Tetangga 01 Pekanbaru, Riau kedatangannya diruang sidang MR. R, Wirjono Prodjodikoro tak luput menyumbangkan keterangan perihal kasus teroris di area tempat tinggalnya yang kerap menjadi titik kumpul disekitar warung makan soto milik saksi Syafrudin pada 9 Mei 2018 lalu.

“Buka warung soto dan lontong Medan. kegiatan itu nggak tau,” ujar saksi.

Sementara, Penasehat Hukum Terdakwa Abdurahman dan Hengki meminta penjelasan kondisi rumah saksi Safrudin yang menolak rumahnya dijadikan tempat berkumpul.

“Pak RT memang rumahnya dia (saksi Safrudin) kecil,” tanya Arman kepada saksi.

“Apakah saudara kenal dengan mereka ini karena makan di warung saudara,” tanya lagi penasehat hukum terdakwa.

“Bukan, karena saya dikenalkan dengan Abdul. Pembicaraan itu tidak fokus dengan Mako Brimob tak pernah terpikir,” tambah saksi Safrudin.

Dalam kesempatan yang sama penuntut umum memberikan pertanyaan kepada saksi-saksi yang hadir seputar kepemilikan senjata diperkirakan sejumlah 3000 unit.

“Inikan saudara ngumpulnya dirmh saudara karena sudah menguasai 3000 senjata. Saudara mau ngapain ke Mako Brimob,” tanya JPU dari Kejagung.

Saya nggak tau masalah itu, kalau masalah 3000 senjata itu berapa kompi. Dari sana ke Jakarta 30 jam itu sementara kejadian itu sudah berjalan. Artinya itu diluar akal sehat saya pak,” papar saksi Safrudin. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *