oleh

Menanti Aksi Ideologi dan Etika Profesi YIM

TribunAsia.com

Oleh : P Remolda Abdullah

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Perkembangan dinamika Politik PILPRES 2019 telah dilengkapi berbagai kejadian yg MENYENTAK banyak pihak, mulai dari Kasus Ratna Sarumpet sampai dengan IJTIHAD HUKUM yg dilakukan oleh YIM ( Yusril Ihza Mahendra), yang menyatakan kesediaannya sebagai PENGACARA CAPRES JKW-MA dalam PILPRES 2019. Tindakan YIM tsb, saat ini mengundang KERESAHAN dikalangan Pengurus internal PBB, serta boleh jadi juga, akan mempertaruhkan keberadaan PBB dan Para calegnya pada Pemilu 2019.

Dalam dunia politik dan kepemerintahan, sosok YIM, Guru Besar Hukum Tata Negara UI, sudah tidak asing lagi buat kita .

Dalam sejarah pergerakan REFORMASI, beliau tercatat sebagai Penulis Naskah Pidato tentang PENGUNDURAN DIRI  Presiden Soeharto selaku Kepala Negara pada saat itu.

Dalam karier pendidikannya,  YIM  dikenal sebagai Orang yg memiliki semangat yg tinggi dalam mencari Ilmu Pengetahuan. Beliau sempat kuliah pada tahun 1982, dengan mengikuti pembelajaran pada dua fakultas : Fakultas Sastra dan Fakultas Ilmu Hukum di Universitas Indonesia, yg kemudian S3 nya di selesaikan di Universitas Sains Malaysia, dengan gelar Doctor Of Philosophi dalam Ilmu Politik.

Saat ini, berbagai media banyak memberitakan tentang kesediaan YIM sebagai Pengacara JKW-MA, hal inilah yg membuat banyak kalangan, SULIT utk menerima keputusan YIM tsb, karena  mengingat bahwa YIM selama ini dikenal sebagai SOSOK yg sering melakukan KRITIKAN KERAS terhadap Kepemimpinan JKW. bahkan dalam sebuah rekaman video, ketika mengikuti acara ILC TV ONE, YIM sempat menggunakan kata GOBLOK kepada penguasa saat ini, karena dianggap bermain-main dalam mengelola negeri ini.

Selaku pengacara Profesional, sikap YIM utk memilih sebagai pengacara JKW-MA adalah hal yg dapat dibenarkan, bahkan lebih dari itu, YIM diperbolehkan utk memilih JKW-MA dalam Pilpres 2019, karena tindakan tsb dilindungi oleh Undang Undang.

Peranan Profesional Legal Etic bagi seorang pengacara SANGATLAH diperlukan, dalam upaya penegakan hukum secara adil dan beradab. Prinsip prinsip ETIKA yg terdiri atas : Prinsip Kebaikan, Prinsip Keadilan dan Prinsip Kejujuran, haruslah teraplikasi dalam PRILAKU seorang pengacara. Namun jika PRINSIP ETIKA tersebut telah TERGADAI utk mencari KEKUASAAN dan mencari  KEKAYAAN SESAAT, maka akan mengakibatkan tumbuhnya PRILAKU PENGACARA YG CULAS dan tidak BERKEADILAN, serta akan merusak sistim hukum yg berlaku.

Sekiranya YIM berkilah dengan berbagai teori hukum yg dikuasainya, dalam membela kesalahan kliennya , maka YIM dapat digolongkan sebagai Orang yg telah berbuat KEZHALIMAN.

Dalam rujukan Al Qur’an, jika sesorang secara sadar dan terencana melakukan Kezhaliman, maka dia tidak akan pernah mendapat HIDAYAH dalam kehidupannya ( Innalaha Layahdil Qaumal Zhalimiiin).

Sejauh ini yg kita percayai , bahwa YIM tidak akan melakukan hal hal yg  dimaksud diatas.

Sebagai seorang MUSLIM yg taat, YIM sangat memahami tentang nilai nilai keagamaan, etika dan kejujuran sikap.

Bahkan lebih dari itu, bahwa YIM sangat menyadari, beliau TIDAK AKAN SANGGUP BERARGUMENTASI dengan teori hukum yg dikuasainya, atas kesalahan sikapnya, jika harus menjawab  beberapa pertanyaan dari  MALAIKAT MUNGKAR NANGKIR.

Nampaknya kita harus bersikap BIJAKSANA terhadap IJTIHAD HUKUM yg diambil oleh YIM utk  berperan sebagai pengacara JKW-MA.

Kita tidak boleh BERNARASI BURUK terhadapnya, apalagi mengambil sikap BERMUSUHAN antar anak bangsa, karena beda pilihan. Kitapun boleh berbeda pilihan, karena hal tsb di lindungi oleh undang undang.

Kita sangat berharap, bahwa YIM harus memiliki sikap yg profesional, memiliki etika dan Berahlaq Ketuhanan selaku pengacara JKW-MA.

YIM  harus berani berteriak tentang KEBENARAN DAN KEJUJURAN, sekalipun berbagai ancaman menghadang. Beliau harus menjadi sejarah,  sebagai  ILMUWAN yg selalu TEGAK dan Tegas dalam memperjuangkan KEBENARAN.

Semoga YIM dalam tugas barunya, selaku pengacara JKW-MA, bisa menjadi SAKSI HIDUP dalam pelaksanaan PILPRES 2019, apakah PILPRES 2019 dilaksanakan secara JURDIL atau dilaksanakan dengan KECULASAN dan Penggelembungan SUARA PEMILIH…??

Atau boleh jadi pada masa tertentu, YIM akan HENGKANG DIRI sebagai pengacara JKW-MA, karena suatu keadaan yg tidak sesuai dengan jati dirinya , karena beliau memegang PRINSIP PRINSIP KEIMANAN  , yg telah diajarkan oleh kedua orangtuanya.

Oleh karena itu, mari kita tunggu…. DRAMA AKSI  IDEOLOGI DAN ETIKA PROFESI YIM selaku Pengacara JKW-MA.

SANGGUPKAH YIM berperan sebagai seorang pengacara yg PROFESIONAL, BERKEADILAN dan BERKETUHANAN KEPADA ALLAH SWT…??

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *