oleh

Dialog Komunitas Diniyah dengan Caleg Nur Indah : Perbaiki Kesejahteraan Guru Diniyah

Jakarta, TribunAsia.com – Ditengah hiruk pikuk demontrasi guru honorer K2 yang menyita perhatian publik. Guru diniyah yang mengajar madrasah yang biasa diselenggarakan sore usai siswa mengikuti Sekolah Dasar formal menuntut perhatian pemerintah.

Forum Komunikasi Diniyah Tamiliyah (FKDT) merasa di anak tirikan tidak dianggap bagian dari jenjang pendidikan.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“FKDT ingin menyuarakan aspirasi kepada pemerintah dan masyarakat bahwa pendidikan diniyah yang biasa diselenggarakan siang hari usai siswa mengikuti SD formal untuk diperhatikan. Diperhatikan kesejahteraan guru diniyah, fasilitas belajar dan memberikan ruang bagi siswa untuk mengikuti madrasah diniyah,” kata Sekretaris Jendral FKDT, Ahmad Muntoi, dalam Dialog Caleg Nur Indah Fitriani dengan komunitas diniyah yang dihadiri 23 orang dari berbagai madrasah Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (6/11).

Ahmad Muntoi menjelaskan, pendidikan diniyah merupakan pendidikan penyempurna pelajaran agama Islam. Usai sekolah siswa mendapatkan pendidikan madrasah khusus agama Islam. Pelajaran ini tidak didapat di sekolah SD formal.

Madrasah diniyah  tamiliyah dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu Awwaliyah, Wustha dan Ulya dan masing masing diperuntukkan sesuai dengan jenjang bagi Awwaliyah untuk tingkat SD atau MI, MDT Wustha untuk SMP atau MTs dan Ulya kepada anak SMA atau Madrasah Aliyah.

Ahmad Muntoi mengakui, perbedaan daerah serta kekhasan pada suatu lokasi maka pendidikan madrasah diniyah takmiliyah ini dilaksakan secara fleksibe.

“Menyesuaikan dengan situasi dan kondisi serta budaya di suatu wilayah dimana Madrasah Diniyah Takmiliyah ini di selenggarakan,” kata Ahmad Muntoi.

Menanggapi pernyataan guru madrasah yang disampaikan, Caleg PAN no.3 Dapil 7 Nur Indah Fitriani mengatakan, mendengar dan menyerap aspirasi guru diniyah yang disampaikan, beberapa persoalan yang melingkupi guru diniyah harus dicarikan jalan keluar dan solusinya yang permanen.

“Mencari solusi yang permanen ini memerlukan parlemen yang bisa mengambil  kebijakan dan regulasi untuk melindungi, memberikan ruang aktivitas dan meningkatkan kesejahteraan guru diniyah,” kata ibu dua anak ini.

Nur Indah Fitriani melanjutkan, berterima kasih telah menyampaikan amanat titip aspirasi kepada caleg PAN no. 3 Nur Indah Fitriani. “Langkah ini telah benar Insya Allah akan diperjuangkan. Hanya agar kongkrit langkah perjuangan ini maka tolong doa guru diniyah dan restu guru diniyah untuk menjadi Caleg DPRD DKI Jakarta,” tandas Nur Indah Fitriani.

Dalam dialog terungkap sejumlah problem diniyah. Sekretaris FKDT Jaksel, Nesi menjelaskan, akan Diniyah di beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam memenuhi standar jam pendidikan yaitu sekurangnya 18 jam pelajaran dalam seminggu.

Hal ini bisa disebabkan karena budaya belajar pendidikan keagamaan yang belum membudaya serta banyaknya anak-anak yang melakukan les atau privat pelajaran umum di sekolahan seperti matematika, bahasa inggris dan pelajaran lain yang di ujikan dalam Ujian Nasional. Mensikapi hal ini maka alternatif dari Madrasah diniyah takmiliyah, yaitu dengan mendirikan TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an) bagi siswa setingkat SD atau MI dan TQA (Ta’limul Qur’an Lil Aulad) bagi murid setingkat SMP/MTs yang mana pada aturan lebih fleksibel dalam jumlah minimal jam pelajaran selama seminggu serta ketentuan mata pelajaran yang lebih simpel.

“Hal ini berbeda dengan MDT yang mana ada jam minimal selama seminggu dan mata pelajaran yang telah ditentukan beserta jumlah jam pelajaran bagi mata pelajaran yang diajarkan,” tandas Nesi.

Penghujung acara, Ahmad Muntoi berharap kolaborasi Caleg Nur Indah Fitriani dengan FKDT berlanjut dan memberikan manfaat.

“Insya Allah FKDT mendukung dan menyokong Caleg Nur Indah Fitriani,” pungkas Ahmad Muntoi. (GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *