oleh

Dari 5000 Kasus Perceraian Mayoritas Berusia 35 – 50 Tahun di Kota Depok

Depok, TribunAsia.com – Angka perceraian di Kota Depok alami tren meningkat. Di tutup tahun 2017 saja mencapai sekitar 5000 lebih kasus. Dari jumlah tersebut mayoritas pasangan bercerai berusia antara 35 – 50 tahun.

Disampaikan Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kota Depok, dari berbagai penyebab perceraian diantaranya peselingkuhan oleh suami atau istri. Faktor akhlaq dan perilaku buruk, kasar, dan tak menghormati pasangan. Selain itu juga kerkerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh kedua belah pihak yakni perempuan atau kelaki kepada pasangan dan untuk anak-anak mereka.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Penyebab lainnya ialah faktor perekonomian keluarga, saling cemburu, dan perkawinan siri,” jelas Ketua IKADI Kota Depok KH Ahmad Badruddin, Minggu (4/11/2018).

Sebut Ahmad Badruddin, saat ini penyebab yang sangat menonjol adalah perilaku akhlaq negatif dan perselingkuhan. Pesawat smartphone mudah disalahgunakan untuk perilaku negatif dan saling rayu dan goda-menggoda.

“Awalanya dari teman-temanan di medsos, saling canda, goda, dan saling naksir kepada suami atau istri orang lain,” jelasnya.

Ahmad Badruddin beri solusi, kasus perceraian bisa dicegah jika tiap pasangan yang menikah atau yang akan menikah mampu mengoptimalkan kecerdasan majemuk (multiple intelligence) yang telah dikaruniakan Tuhan sesuai nilai-nilai Al Quran.

“Yaitu mulai sejak memilih pasangan, menjalani amanah keluarga, membangun hubungan dalam keluarga besar hingga menyelesaikan konflik”, kata Ahmad Badruddin.

Kutipnya, kecerdasan majemuk menurut guru besar Howard Gardener diantaranya adalah kecerdasan logika, matematika, bahasa, visual, musikal, kinestetik, inter dan intra personal, alamiah dan spiritual. Kecerdasan majemuk perlu diterapkan sejak mempersiapkan anak menghadapi kehidupan, mengelola urusan internal keluarga dan mewujudkan kontribusi keluarga.

“Kecerdasan relijius, intra dan ekstra personal harus menjadi spiritualitas dalam mengelola emosinal dan menapik setiap godaan tidak setia pada pasangan,” jelas Ahmad.

“Kecerdasan majemuk itu bentuknya bisa berbentuk kinestetik keahlian membuat karya seni, memasak, mengelola uang belanja bahkan kecerdasan berbasa-basi untuk menghargai kontribusi anggota keluarga”, sambung Badruddin. (Hendrik Raseukiy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *