oleh

Ambon, Kota Kecil yang Indah

Ambon, TribunAsia.com – Tinggal di Jakarta Timur, sudah jelas penulis pasti akan memilih Bandara Halim Perdana Kusuma untuk keberangkatan ke Ambon, Maluku dengan Bandara Pattimuranya.

Miliki waktu yang berbeda, dimana Maluku memiliki waktu lebih cepat 2 jam, menyebabkan Tim merasa kehilangan waktu 2 jam. “Hehehehe”

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Bayangkan, saat beli tiket pesawat dijadwalkan Pesawat akan memulai penerbangan sekitar Pukul 06.05 Wib dan tiba di Bandara Pattimura Pukul 11.05 Wit tapi kita melakukan penerbangan hanya 3 jam.

 

Ahh, lupakan perbedaan waktu itu.

Hal menarik mulai terasa saat pesawat akan mendarat, penulis yang baru pertama kali datang ke Ambon dibuat terkejut dengan posisi bandara yang sangat dekat dengan laut, dan terasa sangat dekat ketika ingin mendarat.

“Ma, ko pesawatnya mendarat di laut” mendadak kekaguman tim buyar mendengar ucapan seorang anak kecil yang sedang bertanya kepada ibundanya.

Sejenak mengingat tragedi pilu yang menimpa Pesawat Lion Air JT-610 Rute Jakarta-Pangkal Pinang.

“Mewakili segenap Management TribunAsia.com, saya mengucapkan turut berduka cita, semoga semua korban mendapat tempat terindah dan untuk keluarga yang ditinggal diberi kekuatan serta ketabahan”

Setelah mendarat dengan selamat menggunakan Pesawat Batik Air, hal pertama yang ingin penulis saksikan adalah bagaimana sikap Masyarakat Ambon.

Penasaran aja, karena banyak yang bilang orang Ambon ini dan itu, sebenarnya si penulis ga pernah ada masalah dengan Pemuda Ambon, karena sejak sekolah selalu berteman dengan Pemuda Ambon, bahkan salah satu kaka ipar adalah orang Ambon.

“Teng Tong, Kesan pertama sangat menggoda” hehehhe.

Kayanya yang punya pikiran negatif soal orang Ambon harus mampir ke Ambon nih, jauh dari perkiraan.

Warga disini sangat bersahabat, “ya memang si nada bicara rada keras, mirip-mirip sama orang batak”

Perjalanan semakin menarik, karena penulis disambut langsung oleh Ketua Umum Angakatan Muda Pattimura (AMP), Rido Nilson. D.Tutuiha dan rekannya Aleka.

Dari Bandara, penulis diajak menuju salah satu tempat makan Tirta Kencana, di Amahusu, atau menurut salah satu rekan dari Ketum AMP lokasi tersebut adalah Teluk Ambon.

Rasa penasaran sangat kuat mendengar sedikit pembicaraan terkait lokasi tersebut, namun penulis juga dibuat nyaman oleh pemandangan sekitar, selama menuju lokasi. Lokasi Ambon yang dekat dengan laut membuat seakan-akan kota kecil ini dikelilingi oleh laut.

Belum juga selesai menikmati pemandangan laut yang kadang-kadang terhalang oleh bangunan, tiba-tiba penulis diajak berhenti pada salah satu jembatan sepanjang 1.140 Meter, lebar 22,5 Meter, yang mulai dibangun pada 17 Juli 2011 silam dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 4 April 2016.

Yap, pastinya yang penulis maksud adalah Jembatan Merah Putih. “Dikasih kesempatan berhenti, langsung aja foto-foto” hehehe.

Lanjut nih perjalanan, tinggalkan dulu jembatan hebat itu.

Ternyata perjalanan menuju lokasi tidak terlalu jauh, dan saat diajak mengelilingi kota Ambon juga hanya sebentar. “Seharian aja cukup muterin Ambon bung,” sesekali terdengar ucapan Aleka.

Tiba di Tirta Kencana, lagi-lagi penulis dibuat takjub dengan pemandangan yang disajikan, seakan-akan kota ini akan terus memanjakan pengunjungnya.

Sepertinya ga akan habis kalau bicara keindahan di kota kecil ini, penulis sedikit penasaran pada salah satu bangunan di Tirta Kencana yang memang menyediakan penginapan dalam bentuk Hotel serta Cottage.

Yap bangunan kecil itu kalau dicari di Google namanya Bioskop Mini, kalau dilokasi pada pintu kacanya terdapat tulisan EX Cinema Mini.

Tempat ini menyediakan banyak kaset film, dimana pengunjungnya dapat memilih apa yang akan ditonton. “Oke lah tempat ini bagus dan nyaman, soalnya pas liat kedalam sofa-sofa besar dan keliatan mahal itu hanya bisa menampung maksimal 10 orang”

Mempersingkat waktu, penulis bersama Ketum AMP dan rekannya mencari makan ditengah kota.

Pilihan kali ini jatuh pada salah satu tempat makan yang terletak di Jalan A.Y. Patty.

Dari sekian banyak makanan di daftar menu, penulis memilih Nasi Ikan Telor, karena ingin mencoba makanan yang khas Ambon.

Tidak menunggu lama, nasi dengan ikan tongkol bersama telor sudah bisa disantap dan luar biasa makanan ini sangat lezat. “Jangan tanya kira-kira bumbunya apa ya, hehehe”.

Selesai sudah makan, selanjutnya mencari hotel untuk bermalam, karena hari selanjutnya akan ke Seram Bagian Barat (SBB).

Nah, akhirnya penulis menemukan kesulitan, semua hotel di Ambon saat ini penuh, karena Kota yang mendapat julukan sebagai Kota Musik ini sedang mengadakan acara Pesparani Katolik Nasional I, dengan peserta dari seluruh penjuru Indonesia.

Berputar-putar mencari, akhirnya penulis kembali ke Tirta Kencana. Di tempat ini, penulis menginap di Cottage, karena semua kamar hotelnya juga penuh oleh peserta pesparani.

Menutup malam, penulis kembali menelusuri Kota Ambon untuk melihat keindahannya setelah matahari terbenam.

Ternyata kota ini semakin malam semakin ramai dan juga tetap memberikan keindahan.

Kali ini untuk makan, penulis mencoba mencari pedagang di pinggiran jalan, yang akhirnya memilih salah satu pedagang Nasi Kuning Bagadang yang terletak di Jl. Diponegoro, Kel. Honipopu, Ambon, Maluku

Makanan ini tidak kalan nikmat dengan makanan siang tadi, yang berbeda hanya nasi kali ini adalah nasi kuning.

Selesai makan, sebelum istirahat penulis juga menyempatkan melihat pemandangan dari Jembatan Merah Putih.

“wooowww” sangat indah.

Segera mengabadikan dengan kamera ponsel, jadi hal pertama yang dilakukan mengingat hari sudah semakin larut.

Dan perjalanan hari ini, ditutup dengan beristirahat di Cottage Tirta Kencana.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *