oleh

Keluarga Korban Pesawat Lion Air Menanti Informasi Seharian di RS Polri Kramat Jati

Jakarta, TribunAsia.com – Keluarga korban penumpang pesawat Lion Air JT-610 menanti informasi satu hari penuh di RS Polri Sukamto Kramat Jati, Jakarta Timur. Pesawat Lion tergelincir pada hari Minggu (28/10) di teluk Karawang Jawa Barat dengan korban mencapai 189 orang termasuk kru pesawat dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang.

Menurut Albino Jimmy Putra, kedatangannya ke RS Polri Kramat Jati sekitar pukul 06.30 WIB dari Pangkal Pinang untuk mengetahui perkembangan kondisi Bapaknya yang bernama Muhammad Syafii yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Bapak korban Muhammad Syafii. Dari Pangkal Pinang jam 06.30 ke Jakarta. Belum ada informasi dari rumah sakit dan nggak bisa ditentukan,” jelas Albino penuh harap kepada TribunAsia.com, Selasa (30/10/2018).

Albino bersama keluarga mengeluhkan hingga Selasa malam belum memperoleh kejelasan tentang keberadaan Ayahnya di RS Polri. Terkadang dia menoleh keluar bila mendengar raungan ambulance yang masuk kedalam rumah sakit.

“Sampai ada informasi yang bisa ditentukan,” ujarnya pada pukul 20.40 WIB.

Kemudian, dia menyampaikan perihal khusus keluarga korban yang ingin mengetahui dan mencari informasi tentang jatuhnya korban pesawat di RS Polri harus mengikuti tes DNA. Sejak kejadian itu, dampak yang ditimbulkan kurang nafsu makan dan kekhawatiran tentang keselamatan orang tuanya.

“Disini yang bisa anaknya atau orang tua tes DNA. Hari pertama kita makan pun ndak, merasa kepikiran orang. Yang dibutuhkan kejelasan dari pagi sampai Jakarta, malam sampai ada yang marah-marah yang dibutuhkan bukan makanan snack yang dibutuhkan informasi lagi-lagi koordinasi yang kurang,” bebernya dengan nada tinggi.

Selain itu, Busril pun menyampaikan kekecewaannya kepada maskapai Lion Air. Kemudian, fasilitas yang dijanjikan dihadapan Presiden Jokowi tidak sesuai, terpaksa pihak keluarga menunggu lama diterbangkan ke Jakarta dengan menanti kursi kosong pesawat.

“Ada ditampung dari Lion Air satu keluarga 1 kamar tidak sesuai apa yang dijanjikan didepan Pak Jokowi. Kerena dari Pangkal Pinang 1 keluarga perwakilan 2 orang. Bukannya disiapkan 1 pesawat khusus tapi kalo ada pesawat kosong baru diberangkatkan,” ungkap Busril.

Ia berpendapat, keluarga yang hendak mencari informasi tentang kecelakaan pesawat merasa disepelekan oleh pihak Lion Air. Diketahui, Tesa Kautsar adalah salah satu diantara penumpang pesawat yang belum diketemukan hingga saat ini di RS Polri.

“Jadi seakan akan disepelekan keluarga korban ini menanti dari pagi di Bandara. Hari ini saya bayar sendiri tiket pesawat dari Pangkal Pinang,” tandas Busril.

Lebih jauh, warga Pangkal Pinang menuturkan, untuk keluarga korban kecelakaan pesawat harus melengkapi data-data yang diperlukan berupa ijazah, sidik jari, sisir yang masih tersisa rambut korban.

“Disini yang dibutuhkan sidik, ijazah, sisir rambut, ijazah korban. Jadi akhirnya pulang lagi bayar tiket lagi pulang sampai sini kecewa,” paparnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *