oleh

Sidang Pembunuhan Pertanyakan Saksi-Saksi Seputar Prilaku Homo dan Gay

Jakarta, TribunAsia.com – Persidangan pembunuhan dengan Terdakwa Petrus Paulus atau Paul menjadi tegang ketika pertanyaan perilaku Homo dan Gay diutarakan di depan 3 orang saksi.

Menurut, Tarigan Muda Limbong, SH kepada saksi-saksi yang dihadirkan dengan latar belakang saksi diantaranya berprofesi sebagai Dosen pembimbing, mahasiswa dan mantan Bos air isi ulang.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Persidangan dipimpin oleh Hakim Ketua Tarigan Muda Limbong, SH dengan didampingi Hakim Anggota Khadwanto, SH dan Tirolan Nainggolan, SH mempertanyakan tentang sikap dan perilaku Terdakwa Paul.

“Saya mau tanya dulu, sikap dia seperti Gay atau Homo,” kata Limbong kepada saksi-saksi, Jum’at (26/10/2018).

Dosen Pembimbing menyampaikan, dalam kesaksiannya, dia mengatakan terdakwa Paul sebelum kejadian penemuan mayat akibat pembunuhan di Cawang, Jaktim yang melibatkan mahasiswanya bahwa yang bersangkutan telah mengajukan cuti pada semester 4 dengan alasan terdakwa ingin bekerja.

“1,2,3 sementara 4 cuti akademik dia bekerja. Selama masa awal itu selama satu tahun dia bekerja, bekerja dimana angkat galon. Kenapa kamu bekerja bapakmu kan PNS ketika dia bekerja diapartemen kali bata. Saya bilang kamu kuliah dulu, mahasiswa melakukan pendaftaran ulang dia harus dibimbing dulu dalam transkip nilai itu salah satu tugas pembimbing,” jelas Dosen yang saat itu menjadi saksi.

Kemudian, saksi menerangkan kembali perilaku terdakwa yang berasal dari daerah timur Indonesia saat sebelum kejadian penemuan mayat. Kata saksi dlingkungan kampus UKI Terdakwa Paul mahasiswa berperilaku baik.

“Dikampus ada pelayanan psikolog dibuka tidak bisa ditangani dosen pembimbing. Dalam kampus UKI ada perbedaan secara etika anak-anak dari daerah anak-anak memiliki perilaku yang sangat baik,” urai saksi.

Selain itu, Kuasa Hukum ketika persidangan berlangsung melemparkan pertanyaan kepada saksi selaku Dosen Pembimbing terkait prilaku kliennya saat dikampus.

“Menurut pandangan sebagai dosen pembimbing tanda kutip perilaku orang timur itu menuntut ilmu seperti itu,” tanya Kuasa Hukum Terdakwa Paul.

“Kalau saya bisa dikatakan dia orang lugu di pulau Jawa. Pada usia remaja akhir 18-19 tahun mungkin masih labil dia tidak akan melakukan tindakan ekstrim bila tidak disakiti,” tambah saksi Dosen.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Jakarta Timur menambahkan pertanyaan kepada saksi-saksi terkait kejadian pembunuhan yang mana saksi mengetahui dari informasi media dan video viral di sosial media.

“Saudara tahu (peristiwa) dari mana ?.Sejak kapan Paul melakukan pada korban,” tanya Didit Koko selaku JPU.

“Saya melihat video polisi menangkap dia di Cikarang saat dipolres,” ucap saksi Lambert.

“Saya melihat dimedsos dan menonton televisi,” kata Dosen.

Selanjutnya, Majelis Hakim mempertanyakan kembali saksi-saksi yang hadir saat itu diarahkan kepada rekan kuliah satu kampus terdakwa. Hakim wanita tersebut pertanyaan mengenai kebencian terhadap teman dekat terdakwa.

“Mince kamu pernah nggak dia benci sama Gay,” tanya Tirolan.

“Pernah dia bilang begitu,” balas saksi Mince. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *