oleh

Penggugat Pertanyakan Izin AMDAL PT South Pasific Viscose

Jakarta, TribunAsia.com – Heytman Jansen PS ,SH, MH selaku Penggugat menjelaskan PT South Pasific Viscose (PT SPV) tidak memiliki izin AMDAL sehingga limbah pabrik dapat mengganggu kesehatan masyarakat serta merusak lingkungan hidup.

Selain pencemaran udara, pabrik yang bergerak di bidang produksi tekstil saat ini meresahkan masyarakat yang telah merubah kualitas air. Kini, sumber air disekitar Kampung Sawah Desa Cilangkap Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat tercium bau belerang yang tak sedap karena zat kimia limbah pabrik.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Izin yang dikeluarkan hingga saat ini berdampak. Penyakit yang jelas sesak napas, itu banyak anak kecil sehari-hari terasa bau. Tapi, ada bau yang menyengat dari dasarnya cemical. Air yang keluar itu jelas kuning bau belerang,” papar penggugat di PTUN Jakarta, Kamis (18/10/2018).

Menurutnya, baik pencemaran yang diakibatkan oleh cerobong asap maupun aliran limbah pihaknya telah melakukan tes melalui laboratorium. Dan perizinan telah dilanggar karena, izin yang dimiliki habis pada tahun 2016 saat ini tahun 2018 izin tersebut tidak dilengkapi.

Baca Juga : Limbah PT South Pasific Viscose Warga Mengalami Sakit Pernapasan dan Sungai Citarum Tercemar

“Itu (limbah) sudah diambil di lab. Dia (PT SPV) tidak punya izin. Amdal dikeluarkan 2011 sampai 2016. Nah sampai sekarang (2018) belum punya izin selama 2 tahun,” tegas Jansen.

Diketahui, PTUN telah memintai keterangan-keterangan penduduk sebagai saksi-saksi yang tinggal disekitar area PT SPV baik yang  mengalami sakit pernapasan akibat asap pembuangan dari limbah pabrik maupun saksi dari petani.

Dalam persidangan limbah bahan berbahaya dan beracun atas nama PT South Fasific Viscose dengan Nomor perkara 131/G/LH/2018/PTUN Jakarta dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Edi Suharza dengan didampingi Hakim anggota Umar Dani dan Baiq Yuliani.

Saksi Sueb yang kesehariannya sebagai petani menyampaikan, hasil panennya berkurang semenjak pabrik PT SPV membuang limbah tak bersahabat dengan lingkungan berdampak pada hasil panen menurun drastis. Sebab, sumber air irigasi sawahnya mengandung zat yang berbahaya termasuk zat cemikal. Dihadapan Majelis Hakim PTUN, saksi Sueb mengeluhkan katanya perbandingan hasil panen biasa diperoleh 5 kwintal saat menyusut menjadi 2 kwintal padi.

“Cai bau pak beurem (air bau warna merah – red, bahasa sunda). Dari Pasific (jarak) rumah 50 meter. Sekarang panen padi 2 kwintal biasanya 5 kwintal waktu dulu,” ujar saksi Sueb dengan keterbatasan komunikasi.

Saksi-saksi turut mengatakan tidak hanya asap ya g keluar dari cerobong asap pabrik akan tetapi saluran limbah mengalir ke Sungai Citarum.

Namun, berbeda dengan saksi Dadang, dia mengutarakan dengan menghirup udara yang tidak layak anaknya menderita penyakit saluran pernapasan diperkirakan mencapai 6 bulan lamanya, karena cerobong asap PT SPV terbuang bebas di lingkungan tempat tinggal penduduk Kampung Sawah.

“Anak saya kena flek sudah 6 bulan karena rumah saya berdampingan dengan perusahan itu yang dekat,” kata saksi.

Kembali dikatakan oleh Jansen, terlebih  dokumen tentang kelengkapan izin yang dimiliki oleh PT South Pasific Viscose harus dibuktikan serta dipertanyakan kelengkapan UPL dan KRL.

“UPL DAN RKL tidak punya, bagamana bisa lahir izin. Buktinya dia tidak punya izin,” beber Jansen. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *