oleh

Limbah PT South Pasific Viscose Warga Mengalami Sakit Pernapasan dan Sungai Citarum Tercemar

Jakarta, TribunAsia.com – Dampak pembuangan limbah PT South Fasific Viscose penduduk Kampung Sawah Desa Cilangkap Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat menderita pernapasan akibat cerobong asap pabrik.

Keluhan pencemaran lingkungan disampaikan oleh beberapa orang warga sekitar yang mengalami sakit pada pernapasan dan tercemarnya Sungai Citarum di ruang sidang Kartika PTUN Jalan Sentra Timur Pulo Gebang, Jakarta Timur.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Mungkin cerobong itu buang racun karena rumah saya berdampingan dengan perusahan itu yang dekat. Anak saya kena flek sudah 6 bulan,” kata saksi Dadang selaku rukun tetangga, Kamis (18/10/2018).

Dalam persidangan limbah bahan berbahaya dan beracun atas nama PT South Fasific Viscose dengan Nomor perkara 131/G/LH/2018/PTUN Jakarta dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Edi Suharza dengan didampingi Hakim anggota Umar Dani dan Baiq Yuliani.

Kemudian Majelis Hakim mempertanyakan saksi Dadang yang menjadi korban pencernaan lingkungan terkait perusahaan yang membuang limbah tengah bermasalah dengan hukum.

“Bapak pernah tau nggak perusahaan di Purwakarta dipidana karena pencemaran lingkungan. Pak Mukni kenal nggak,” tanya majelis hakim.

“Saya sampaikan digugat sini izin limbahnya. Tahun 2018 bulan 6 kemarin. Ada permasalahan yang timbul seperti dari cerobong asap dan bau,” jelas majelis hakim.

“Kalau pembuangan limbahnya kemana,” tanya hakim kepada saksi Dadang

“Ke Citarum,” singkat saksi Dadang kepada majelis hakim.

“Anak bapak sakit flek itu kesimpulan anda sendiri atau dari dokter,” tanya hakim Umar Dani.

“Anak saya kena flek sudah 6 bulan karena rumah saya berdampingan dengan perusahan itu yang dekat,” kata saksi.

Diketahui dalam persidangan Majelis Hakim PTUN mendengarkan kesaksian 3 orang warga sekitar tentang permasalahan dampak limbah pembuangan PT South Pasific Viscose.

Salah seorang petani, Sueb menjelaskan dihadapan persidangan, penggugat dan tergugat mewakili petani pendapatan hasil taninya menurun dengan alasan tanah dan irigasinya telah tercemar oleh limbah pabrik. Sehingga, hasil cocok tanamannya mengalami penyusutan tiap kali panen jarak antara sawah dan pabrik diperkirakan 50 meter.

“Cai bau pak beurem (air bau warna merah – red, bahasa sunda). Dari Pasific rumah 50 meter. Sekarang panen padi 2 kwintal biasanya 5 kwintal waktu dulu,” ujar saksi Sueb dengan keterbatasan komunikasi.

Kemudian, Majelis Hakim menyampaikan kembali sebelum menutup persidangan setelah mendengarkan saksi-saksi dan berpesan menghadirkan saksi ahli dan saksi fakta dalam kesempatan pekan depan.

“Ahli ada, saksi fakta saja. Kita periksa saksi fakta dulu ya,” pesan majelis hakim untuk agenda pekan depan.

Persidangan menghadirkan Intervensi PT South Pasific Viscose serta pihak Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Sementara, Penggugat menuturkan izin yang dikeluarkan berdampak kepada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Menurut, Jansen udara sekitar tercemar karena cerobong asap pabrik dan limbah produksi mengakibatkan bau tak sedap karena mengandung zat kimia cemikal, itupun kata dia telah diketahui melalui tes laboratorium.

“Izin yg dikeluarkan hingga saat ini berdampak. Penyakit yang jelas sesak napas itu banyak anak kecil sehari-hari bau tapi ada bau yang menyengat dasarnya cemical. Air yang keluar itu jelas kuning bau belerang itu sudah diambil di lab,” ungkap Heytman Jansen PS ,SH,MH kepada TribunAsia.com.

Ia menambahkan, PT South Pasific Viscose tidak melengkapi izin AMDAL karena izin yang dikeluarkan pada tahun 2011 hingga 2016. Pada tahun 2018 yang berjalan saat ini tidak memiliki izin selama 2 tahun.

“Dia tidak punya izin AMDAL dikeluarkan 2011 sampai 2016. Nah sampai sekarang (2018) belum punya izin selama 2 tahun,” tambahnya.

Terlebih, Jansen pun mempertanyakan kembali tentang kelengkapan izin yang dimiliki oleh PT South Pasific Viscose dan meminta dibuktikan hal tersebut.

“UPL DAN RKL tidak punya, bagaimana bisa lahir izin. Buktinya dia tidak punya izin,” tandas Jansen. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *