oleh

Penurunan Tingkat Kemiskinan Era Jokowi Tidak Istimewa

TribunAsia.com

Oleh : Awalil Rizky

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Pada tanggal 16 juli 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat kemiskinan per Maret sebesar 9,82%. BPS menyebut angka tersebut paling rendah sejak krisis moneter yang dialami Indonesia pada 1998 silam. Pada 1998, tingkat kemiskinan Indonesia mencapai 24,2%. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun mengaku bangga dengan itu, serta menyebutnya sebagai istimewa. Terutama karena sudah berada di bawah 10% atau satu digit untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia. Beliau dalam berbagai kesempatan juga makin sering mengedepankan prestasi Pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan.

Ada beberapa data lain yang perlu dipertimbangkan sebelum menyebut prestasi tersebut sebagai istimewa. Pertama, klaim sebagai yang terendah dapat dilakukan oleh pemerintahan SBY pada Maret 2013, dan juga era sebelumnya, tahun 2018. Tingkat kemiskinan memang cenderung turun tiap tahun selama era 1998-2018. Kenaikan hanya terjadi pada tahun 2006 dan 2015.

Kedua, besaran penurunan itu bukanlah yang terbaik. Tingkat kemiskinan memang berkurang sebesar 0,82% dari setahun sebelumnya. Prestasi tersebut setara saja dengan tingkat penurunan rata-rata per tahun sejak tahun 1998 yang memang sebesar 0,80%. Banyak tahun yang justeru lebih baik tingkat penurunannya.

Ketiga, selama periode 2014-2018 (era Jokowi) penurunan tingkat kemiskinan adalah sebesar 1.14%. Masih lebih rendah jika dibandingkan dengan era pemerintahan sebelumnya, tahun 2009-2013 (empat tahun) sebesar 2,79%, dan era 2004-2008 (empat tahun) sebesar 1,24%.

Keempat, pencapaian itu masih meleset jauh dari yang ditargetkan sendiri oleh pemerintahan Jokowi dalam RPJMN 2015-2019. Target RPJMN 2015 – 2019 untuk tingkat kemiskinan pada tahun 2018 adalah sebesar 7,5 – 8,5%. Target satu digit telah ditetapkan untuk tahun 2016, yaitu sebesar 9,0 – 10,0%.

Kelima, penurunan tingkat kemiskinan selama periode September 2014 – Maret 2018 di wilayah perdesaan jauh lebih rendah dibanding perkotaan. Di perkotaan, tingkat kemiskinan turun dari 8,16% menjadi 7,02%, atau sebesar 1,14%. Pada periode yang sama, di perdesaan adalah dari 13,76% menjadi 13,20%, atau hanya sebesar 0,56%.

Sebagaimana yang selalu diingatkan oleh BPS ketika mempublikasikan angka kemiskinan, bahwa persoalan lain yang perlu dicermati adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Indeks kedalaman kemiskinan (P1) adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. P1 hanya membaik 0,04 poin, dari 1,75 pada September 2014 menjadi 1,71 pada Maret 2018. Di perkotaan terjadi perbaikan lumayan, dari 1,25 menjadi 1,17. Sedangkan perdesaan justeru memburuk, dari 2,25 menjadi 2,37.

Sementara itu, indeks keparahan kemiskinan (P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Secara keseluruhan, P2 tidak mengalami perubahan dari September 2014 sampai dengan Maret 2018, yaitu sebesar 0,44. Di wilayah perkotaan, kondisinya membaik dari 0.31 menjadi 0,29. Sedangkan di perdesaan justeru memburuk dari 0,57 menjadi 0,63.

Beberapa catatan lain perlu diberikan pula terhadap angka tingkat kemiskinan sebesar 9,82% tersebut. Dalam persentasi yang demikian, jumlah penduduk miskin masih sebanyak 25,95 juta orang. Ukuran atau garis kemiskinan nasional yang dipakai adalah pengeluaran sebesar 401.220 rupiah per kapita per bulan.  Biasanya, pada akhir tahun nanti, BPS akan mempublikasikan angka-angka yang lebih rinci mengenai kondisi kemiskinan bulan Maret 2018 tersebut. Diantaranya yang digolongkan penduduk Sangat Miskin (SM), Miskin (M), Hampir Miskin (HM) dan Rentan Miskin Lainnya (RML). Angka kemiskinan tadi adalah berkategori SM dan M, yang ukurannya berpengeluaran di bawah Garis kemiskinan (GK).

Dari publikasi tentang kondisi kemiskinan Maret 2017, porsi HM dan RML amat lah besar. Ukuran HM adalah diatas GK sampai 1,2 kali GK. Ukuran RML adalah mulai dari 1,2GK sampai dengan 1,6GK. Penduduk Hampir Miskin sebanyak 7,84% dan penduduk Rentan Miskin Lainnya sebanyak 17,02%. Pada Maret 2017 tersebut tingkat kemiskinan (mencakup sangat miskin dan miskin) sebesar 10,64%. Dengan kata lain, menurut BPS, persentase penduduk yang masih bersatus terkait miskin sebenarnya mencapai 35,5%. Dan bisa dipastikan, kondisi Maret 2018 tak membaik terlampau jauh, akan berada di kisaran 35%. Jika dilihat dari jumlahnya berarti sekitar 92,5 juta orang.

Penjelasan mengenai angka-angka kemiskinan di atas membuat kita bisa mempertanyakan mengenai istimewa bagaimana yang dimaksud ?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *