oleh

Cagar Alam Telaga Warna Menyimpan Segudang Cerita Mistis

Jakarta, TribunAsia.com – Cagar Alam Telaga Warna yang terletak di Resort VI wilayah Cianjur, Jawa Barat menyimpan cerita mistis disekitar objek wisata yang di buka untuk umum dan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 25 ribu. Menurut keterangan Usman, yang tak lain salah seorang pegawai internal atau pengelola mengatakan, lokasi yang kerap dikunjungi oleh wisatawan terdapat Petilasan Syech Jafar Sidik yang terletak sebelah tebing tinggi tidak jauh ditepi Telaga Warna.

Bila wisatawan hendak menikmati pemandangan sekitar dari ketinggian dapat mempergunakan permainan flying fox dengan biaya Rp 20 ribu untuk 1 kali jalur perlintasan diatas Telaga warna dan mendarat di depan Petilasan.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Kalau menurut saya itu Wali orang suci dimana tempat dia ada. Petilasan Syech Jafar Sidik ditebing gunung. Ini kalau yang bisa melihat Indra ke enam (mata batin) itu gunung gerbang kerajaan ada dua prajurit,” kata Usman kepada TribunAsia.com, Senin (15/10/2018).

Perlu diketahui, Cagar Alam Telaga Warna dikelola oleh PT Lintas Daya Kreasi, PT Perkebunan Ciwilung dibawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Bagi yang memiliki kepekaan batin, ujar Usman bila memandang tebing dapat melihat bangunan pintu masuk gapura gaib yang menunjukkan perbatasan antara Puncak Bogor dan Cianjur Jawa Barat dikeliling tanaman kebun teh yang dihuni oleh kawanan kera ekor panjang termasuk beberapa jenis populasi lutung.

Kembali kepada cerita Usman, kata dia menjelang bulan Nisfu Syaban banyak dikunjungi santri-santri untuk berdoa bersama dan mengaji disekitar Telaga Warna. Santri yang datang ke lokasi itu berasal dari Sukabumi kenal dengan perkumpulannya yang bernama Gentur.

“Kalau kata orang tua saya Kiai pernah disini (Syech Jafar Sidik), apakah pernah disini pertapa atau penyebaran agama disini. Tapi ada yang pernah datang kesini mungkin keturunannya tanya-tanya ke saya,” jelas pegawai yang kerap memberikan informasi kepada wisatawan terkait sejarah di Telaga Warna.

“Nyucruk galur napai laratan, jadi ada yang pernah datang tanya-tanya istilahnya mencari keturunan (Syech Jafar Sidik). Dia ngalih jasat meninggal muncul dimana-mana lagi orang suci dimana-mana tempat dia ada,” imbuhnya.

Namun demikian, hal-hal yang menarik berbau kelenik pun disampaikan kepada wisatawan secara terbuka tanpa dipungut sepeserpun.

Sambung Usman, menjelaskan dengan bahasa kental Pasundan, dua tahun lalu pernah kedatangan tamu dari warga negara asing melaksanakan upacara disekitar Telaga Warna dengan membawa perlengkapan ibadah dan membakar dupa dan sesaji.

Dia pun turut menunjukan arah lokasi pemakaman Ratu Kencana Ungu yang terletak diatas tebing tinggi diperkirakan pada era masa kerajaan Siliwangi. Namun, Usman tidak mengetahui pasti tahun berapa Makam dan Petilasan orang-orang yang diyakini sakti itu berada disekitar objek wisata Telaga Warna tersebut.

“Dari seluruh Indonesia pernah upacara disini, mulai dari jam 5 (17.00) sampai malam. Macem-macem bakar dupa, bawa kesenian apa aja kesenian tradisional disini kumpul waktu itu kata orang India,” tandasnya saat berbincang-bincang.

Tak lepas dari itu, Usman berpesan kepada pengunjung untuk tetap yakin kepada Allah SWT dan jangan sampai tergelincir ke jalur musrik karena taktik-taktik setan menjerumuskan umat manusia dengan berbagai cara. Masih kata Usman, Allah SWT telah menciptakan alam gaib dan harus dipercaya.

“Kebanyakan pasugihan (penglaris) itu kejalur musrik, taktik-taktik setan menjerumuskan kita. Allah telah menciptakan alam gaib kita harus percaya (keberadaan) alam gaib. Setan kan sudah ada SK (surat keputusan) dari Allah,” papar pengelola sambil bergurau.

Sebelum beranjak pulang dinas, Usman menyempatkan cerita panjang lebar terkait history Telaga Warna yang konon katanya apabila melihat ikan yang bertubuh gede dari Telaga siapapun dia akan tercapai cita-citanya (keinginannya).

Ia pun berbicara gamblang dengan mimik wajah serius sambil memandang Telaga Warna pada puluhan tahun silam kondisi Telaga Warna masih hutan dan ditumbuhi pepohonan besar dihuni oleh Kakek tua bernama Mbah Ece. Sosok Mbah Ece dikenal mampu berbicara dengan ikan-ikan besar yang hidup di Telaga Warna dan dari penuturan Usman ikan-ikan besar diberi nama oleh Mbah Ece Layung ikan berwarna merah dan Tihul ikan berwarna Hitam.

“Dulu tempat mandi permaisuri. Dulu sebelum jadi wisata alam banyak pohon ada Kuncen namanya Mbah Ece bisa manggil ikan gede-gede jika punya cita-cita bisa terlihat akan tercapai cita-citanya. Nama ikannya Layung artinya lembayung warna merah seperti matahari terbenam dan satunya lagi Tihul warnanya hitam artinya Tihul itu kayu bakar yang tidak terbakar semua kayunya,” bebernya penuh dengan aura mistis. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *