oleh

Tantangan Pengembangan Sistem Pendidikan Kebencanaan

Jakarta, TribunAsia.com – Disisi lain, tantangan mengintegrasikan upaya pengurangan risiko bencana ke dalam sistem pendidikan juga banyak dikaji.

Kajian ini menunjukkan, di antaranya :

Iklan 52 Khutbah Jum'at

PERTAMA, beratnya beban kurikulum siswa.

KEDUA, kurangnya pemahaman guru mengenai bencana.

KETIGA, kurangnya kapasitas dan keahlian guru dalam integrasi pengurangan risiko bencana ke dalam kurikulum.

KEEMPAT, minimnya panduan, silabus, dan materi ajar yang terdistribusi dan dapat diakses guru.

KELIMA, terbatasnya sumber daya (tenaga, biaya, dan sarana).

KEENAM, kondisi bangunan fisik sekolah, sarana dan prasarana umumnya memprihatinkan, serta tidak berorientasi pada amdal dan konstruksi tahan gempa.

Untuk menjawab tantangan itu, dan mengintegrasi pengurangan risiko bencana ke dalam sistem pendidikan dalam rangka mewujudkan budaya aman dan siaga bencana, Kementerian Pendidikan Nasional telah menyusun Strategi Peng­arusutamaan Pengurangan Risiko Bencana ke dalam Sistem Pendidikan Nasional.

Strategi ini akan disahkan melalui suatu bentuk kebijakan di tingkat nasional yang diharapkan menjadi acuan pelaksanaan integrasi pengurangan risiko bencana ke dalam sistem pendidikan baik intra maupun ekstrakurikuler secara nasional.

Untuk mendukung implementasi kebijakan itu, telah diterbitkan berbagai modul ajar dan modul pelatihan pengintegrasian pengurangan risiko bencana ke dalam intra dan ekstrakurikuler, yang berisi model pembelajaran, materi ajar lengkap dengan panduan pengajarannya.

Namun, pada kenyataannya, upaya itu belum secara efektif memperkuat ketahanan dan kesiapsiagaan sekolah dan khususnya siswa terhadap kejadian bencana, terutama di daerah rawan bencana.

Urgensi dan Langkah Strategis Sistem Pendidikan Kebencanaan sebelum kejadian tsunami di Pantai Talise di Kota Palu salah satu ikon wisata Kota Palu masih banyak warga masyarakat yang tidak segera melakukan penyelamatan diri dari bibir pantai.

Walaupun, pascagempa terjadi penyusutan permukaan air laut secara cepat, pertanda akan terjadinya gelombang tsunami sehingga dalam hitungan menit, tsunami menyapu wilayah pantai dan menyebabkan banyak korban jiwa

Jatuhnya korban jiwa di Pantai Talise sebenarnya bisa dihindari apabila pemahaman masyarakat terhadap potensi kejadian gelombang tsunami pascagempa bumi terbangun.

Masyarakat semestinya dapat belajar dari bencana gempa dan tsunami di Aceh, Mentawai, dan beberapa bencana gempa dan tsunami di wilayah lain.

Masih rendahnya pemahaman dan kewaspadaaan dari masyarakat di Kota Palu terhadap potensi terjadinya tsunami pascagempa menunjukkan bahwa sistem pendidikan kebencanaan yang menjadi basis kesiapsiagaan masyarakat masih sangat perlu ditingkatkan.

Walaupun telah banyak prakarsa dan kebijakan sistem pendidikan kebencanaan, kenyataannya pemahaman masyarakat dalam menghadapi bencana masih rendah.

Maka, diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk memperkuat sistem pendidikan yang berbasis pengurangan risiko bencana.

 

Beberapa langkah strategi yang perlu dilakukan, di antaranya :

PERTAMA, mengintegrasikan pengurangan risiko bencana ke dalam sistem pendidikan.

KEDUA, pembangunan dan pengembangan sekolah siaga bencana.

KETIGA, pengintegrasian materi pembelajaran pengurangan risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah.

KEEMPAT, penyiapan rencana aksi sekolah untuk pengurangan risiko bencana, menurut jenis ancaman dan kerentanan bencana secara spesifik di tingkat lokal.

Menimbang bahwa ancaman dan kerentanan bencana bersifat lokalitas, kurikulum pendidikan kebencanaan yang disusun perlu memperhatikan jenis ancaman dan kerentanan potensial yang terjadi di lokasi bencana sebagai muatan lokal kurikulum.

Selain itu, kurikulum juga perlu memperhitungkan kapasitas kelembagaan dan masyarakat menghadapi bencana.

Termasuk adat istiadat di tingkat lokal yang ditunjukkan dengan kearifan lokal yang perlu dikembangkan sebagai basis ketahanan masyarakat menghadapi bencana.

Komitmen dan kebijakan pemda menjadi sangat penting untuk membangun sistem pendidikan kebencanaan di tingkat lokal, yang akan berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.

Selain itu, sistem pendidikan kebencanaan di tingkat lokal difokuskan pada upaya pe­nguatan ketahanan siswa dan sekolah pada khususnya, serta masyarakat pada umumnya.

Hal ini diharapkan akan mengurangi korban jiwa akibat bencana yang terjadi di masa akan datang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *