oleh

Ketua Majelis Hakim PN Jaktim Bandingkan Kasus Penggelapan Toko Madinah Reload dengan Sidang Teroris

Jakarta, TribunAsia.com – Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur emosi ketika menggelar sidang kasus Pasal 374 tentang penggelapan uang senilai Rp 230 juta yang terjadi di Toko Madina Reload.

Dengan suara lantang, Ketua Majelis Hakim yang dipimpin langsung oleh Tarigan Muda Limbong, SH didampingi Hakim Anggota Khadwanto, SH dan Tirolan Nainggolan, SH.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Tarigan Limbong Muda membandingkan diruang sidang tentang kasus penggelapan dengan kasus teroris. Namun, dia menyampaikan dalam kasus teroris lebih mudah dicerna akan tetapi kasus penggelapan dengan terdakwa Vinsen sebagai akunting merangkap auditor lebih sukar dimengerti.

Baca Juga : Akunting Sekaligus Auditor Dilaporkan Gelapkan Uang Pemilik Toko Madina Reload Senilai Rp 230 Juta

“Saya biasa (tangani) teroris mengerti ini tidak mengerti. Yang diceritakan yang keberatan maksudnya kalau nggak ada katakan nggak ada,” tegas Limbong diruang sidang PN Jaktim.

Pada saat sidang digelar saksi-saksi yang dihadirkan antara lain Brand Manager, Kepala Toko dan Admin Madinah Reload.

Kemudian, Majelis Hakim menjelaskan kembali dimuka persidangan baik kepada yang berperkara semua memilik kesempatan berbicara akan tetapi bila pada waktunya diperintahkan oleh Majelis Hakim.

“Ini bukan warung kopi loh, ini atas dasar hukum tidak disuruh ngomong jangan ngomong,” tegasnya.

Baca Juga : Selewengkan Uang, Toko Madinah Reload Lapor Polisi

Lebih lanjut, Brand Manager selaku saksi ketika dimintai keterangan oleh Majelis Hakim menuturkan, terdakwa Vinsen bekerja sebagai akunting dan auditor di seluruh cabang Toko Madinah Reload, Jakarta Timur.

“Sebagai akunting auditor dan freelance untuk semua cabang di Jakarta Timur,” kata saksi.

Sementara, Ikbal selaku saksi turut mengutarakan, bahwa terdakwa Vinsen menginstruksikan padanya untuk mentransfer sejumlah uang senilai Rp 40 juta pada tahun 2017 dengan tujuan pembayaran cicilan sewa toko. Cicilan tersebut ditujukan atas nama Muhamad dan Ningsih sejumlah 15 transaksi hingga bulan Mei 2018.

“Untuk pembayaran ruko. Katanya ada perintah terdakwa (Vinsen) untuk pembayaran cicilan ruko atas nama Bapak Muhamad dan Ningsih. Tahun 2017 40 juta pertama sekitar 15 transaksi sampai Mei 2018. Total 233 jutaan,” papar Ikbal yang saat itu bekerja sebagai admin.

“Diradjiman (cabang) seperti biasa tanpa konfirmasi ya,” tanya ketua majelis hakim.

Baca Juga : Pembelaan Pengacara : Dakwaan Pasal 374 Buktikan Karyawan atau Bukan

“Untuk pembayaran 40 juta. Setau saya perintah Pak Abdurahman. Itu bulan Mei saya lupa . Dari manajemen itu nggak ada tindakan saya sebagai kepala toko itulah yang terjadi,” ujar Supriyadi kepala toko selaku saksi.

Selain itu, anggota Majelis Hakim mempertanyakan jumlah omset setiap bulan yang diperoleh Toko Madinah Reload dan dampak pendapatan omset Toko Madinah tersebut.

“Memang satu bulan omset berapa. Apakah itu berkurang,” tanya Mutirolan kepada saksi.

“350 juta jual pulsa dan aksesoris. Dampaknya jadi kena dampak dibarang,” jawab saksi.

Selanjutnya, jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Jakarta Timur mempertanyakan kembali kepada saksi-saksi yang dihadirkan dipersidangan terkait pendapatan terdakwa Vinsen saat bekerja di Toko Madinah Reload.

” Menerima gaji,” tanya Ikhsan selaku JPU.

“Menerima,” jawab saksi. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *