oleh

It’s Okay

TribunAsia.com 

Oleh : Yudha Pediyanto

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Siapa yang tidak merinding ketika Khabib meneriakkan pekik Alhamdulillah di panggung UFC yang gersang dari nilai-nilai luhur. Lebih merinding lagi ketika ia mengucapkannya berulang-ulang, “I know you don’t like this, Alhamdulillah!” Lantang, tegas, berani, tanpa basi-basi, dipekikkan di atas kilauan panggung yang selama dikenal arogan, congkak dan suka menista Islam.

Dan ghirah itu pun makin membuncah ketika terbukti Khabib tidak hanya besar mulut, lawannya, McGregor yang selama ini dikenal rasis dan suka menghina Islam, nyaris pingsan ditekuknya dan hanya bisa menjulur-julurkan lidahnya kepayahan. Setiap muslimin pun menyambutnya dengan luapan suka cita dan haru biru. Ada yang mengatakan Khabib vs Gregor ibarat pertarungan Haq vs Bathil.

Tapi saya tahu, mereka sebenarnya bukan menanti-nanti lahirnya idola baru seperti Khabib, tapi menanti-nanti lahirnya kekuatan baru yang berani dan tegas di hadapan musuh-musuh Islam. Mereka sudah lelah Islam dimana-mana dinista dan dihina, tanpa ada kemampuan berarti membela marwah kehormatan agama dan saudaranya.

Hadirnya Khabib dengan kombinasi muslim taatnya dan kekuatan gulatnya, seolah memberikan pelepasan sementara atas kerinduan hadirnya representasi kekuatan Islam di pentas dunia yang tak kunjung datang. Seolah memberikan setetes air kesejukan di tengah gersangnya kezhaliman, penjarahan dan penjajahan yang terus menggerus negeri-negeri Islam.

Saya yakin, bukan Khabib yang dielu-elukan oleh pemuda Islam seantero jagad raya. Apalagi UFC tak lain industri entertainment yang sarat umbar maksiyat judi dan aurat. Dan Khabib pun terlihat takzim dengan Putin, sang pembantai muslim Syiria. Bukan, bukan Khabib yang sebenarnya dielu-elukan, tapi energi keberanian melawan kebatilan, tanpa rasa takut dan gentar sedikitpun, karena hanya Allah SWT satu-satunya yang wajib ditakuti.

Para pemuda kita nyaris tenggelam dalam kubangan kegetiran nasib umat Islam yang terus menerus dinista. Mereka tak tahu harus berteriak meminta tolong kepada siapa. Mengadu kepada siapa. Atau mencari perlidungan ke mana. Ketika Khabib yang “muslim tulen” hadir melawan McGregor sang penista, seolah-olah mereka mendapat pelampiasan sementara. Senaif apa pun itu.

Ketika anak-anak dan muslimah-muslimah Palestina jadi sasaran bom sulfur dan sniper bengis Israel, para pemuda kita menanti tindakan heroik seperti yang pernah dilakukan Rasulullah SAW, ketika ada SATU orang muslimah yang hijabnya “hanya” dipermainkan oleh Yahudi Bani Qainuqa. Lalu Rasulullah mengirim pasukan dan mengepung Yahudi Bani Qainuqa, dan mengultimatum mereka: Hadapi kami atau keluar dari Madinah!

Tapi para pemuda kita bisa tertunduk kecewa karena ternyata tak ada satu pun pemimpin Islam yang heroik seperti Rasulullah SAW.

Atau ketika bumi-bumi kaum muslimin yang kaya dijajah dan dijarah, para pemuda kita menanti tindakan berani seperti yang pernah dilakukan khalifah Harun Al-Rasyid, ketika Kaisar Romawi Nicephorus menolak membayar jizyah bahkan balik menantang sang khalifah. Lalu khalifah Harun Al-Rasyid hanya berkata: “Dari Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin, kepada Nakfur, Anjing Romawi. Aku sudah membaca suratmu, jawabannya akan kamu lihat, bukan kamu dengar.” Setelah melihat kolosalnya pasukan Islam long march memasuki ibukota Bizantium, Sang Kaisar Romawi pun akhirnya bertekuk lutut.

Tapi para pemuda kita lagi-lagi hanya bisa tertunduk sedih karena ternyata tak ada satu pun pemimpin Islam yang berani seperti Harun Al-Rasyid.

Atau ketika berkali-kali pers Barat memuat seni karikatur yang menista Islam dan Nabi Muhammad SAW, para pemuda kita menanti tindakan tegas seperti yang pernah dilakukan khalifah Abdul Hamid II, ketika Perancis berencana akan mementaskan teater karya Voltaire yang menista Nabi Muhammad SAW, Zaid dan Zainab radhiyallahu anha. Sang khalifah Abdul Hamid II pun hanya berkata: “Jika tidak dibatalkan, kami akan menggelorakan Jihad al-Akbar.” Akhirnya pementasan teater itu pun dibatalkan Perancis.

Tapi para pemuda kita lagi-lagi hanya bisa tertunduk lesu menyaksikan berkali-kali Nabi SAW dan Islam dinista, tak satupun pemimpin muslim yang berani tegas membelanya.

Para pemuda kita terlalu lama melihat nabinya, agamanya, bahkan Tuhannya dihina dan dinista. Dan mereka tak kuasa melakukan apa-apa. Jika Nabi Muhammad SAW masih hidup, mereka pasti mengadu sambil menangis sesunggukan dihadapannya. Jika khalifah Harun Al-Rasyid masih ada, mereka pasti bisa meminta pertolongannya. Jika Sultan Abdul Hamid masih memimpin, mereka pasti rela berjihad bersama pasukannya. Tapi semuanya tadi tidak ada. Yang ada hanyalah para pemimpin dan ulama kaki tangan penjajah sang durjana.

Mereka tidak tahu mau  berpaling ke mana lagi. Sampai akhirnya ada tayangan adu manusia UFC yang dijadikan industri entertainment, yang kebetulan mementaskan muslim taat vs kafir penista rasis. Ketika Khabib pun menang, para pemuda Islam mengalami euforia. Seolah layak merayakan kemenangan, kekuatan dan kedigdayaan Islam yang selama ini tak berdaya dihadapan musuh-musuhnya. Padahal itu hanya ghirah semu yang dieksploitasi dan dikomersialisasi oleh industri sport dan entertainment kapitalis semata.

Jika ada saudara Anda yang ikut bersorak merayakan kemenangan Khabib, rangkullah, dan sampaikan kepadanya: It’s okay. Mungkin dia lelah. Mungkin dia tak tahu lagi kemana mau mengadu. Atau mungkin dia nyaris kehilangan asa akan kembalinya kewibawaan dan kedigdayaan Islam. Ingatkan dan bisikkan bisyaroh nubuwah Nabi SAW yang mulia kepadanya: Tsumma takunu khilafatan ala minhajin nubuwah. PASTI akan kembali khilafah yang berjalan di atas metode kenabian. PASTI!

Dan ajak dia berjuang kembali.

 

Jogjakarta, 8 Oktober 2018

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *