oleh

Agus Santoso Resmi Jabat Komut Garuda Indonesia Mulai Akselerasikan Kinerja Perusahaan

Jakarta, TribunAsia.com – Agus Santoso bersama manajemen baru terapkan langkah terobosan baru dalam memandu jalannya percepatan kinerja perusahaan. Resmi ditunjuk sebagai Komisaris Utama Garuda Indonesia pada 12 September 2018 lalu, Agus Santoso  yang sebelumnya menjabat Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub RI, memaparkan tren kinerja perusahaan dalam menghadapi tantangan industri penerbangan global ditengah tekanan nilai tukar rupiah.

Ditemui disela sela pembukaan Garuda Indonesia Travel Fair 2018 di Jakarta Convention Center (JCC) pekan lalu, Agus menekankan pentingnya  mencermati dan memaksimalkan tren pasar di era digital dewasa ini. Seperti langkah taktis Garuda Indonesia yang kini melaksanakan GATF sebanyak dua kali per tahunnya.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Kegiatan ini bertujuan untuk lebih memasyarakatkan gaya hidup berwisata maupun untuk kepentingan mobilitas melalui penerbangan dalam maupun luar negeri serta menjalin rasa kebersamaan yang saling menguntungkan dengan para pelanggan, baik dari sisi penumpang maupun pengguna jasa pengiriman logistik, pariwisata, agen perjalanan serta dengan mitra kerja Perbankan”, jelas Agus, Senin (8/20/2018).

Lebih lanjut, menanggapi dampak tren kenaikan harga avtur dan tertekannya nilai tukar rupiah terhadap harga tiket dan tren traveling masyarakat dari perspektif airline, Agus menekankan bahwa  dalam kondisi sekarang perlu penetrasi pasar dengan pendapatan tiket dalam dollar seperti penetrasi pasar regional Asia dan Asia Pacific, serta pasar Australia.

Selain itu, GMF sebagai anak perusahaan dengan pemasukan dollar juga akan diproyeksikan untuk terus dikembangkan mengingat pasar maintenance dikawasan regional sangat menjanjikan dan potensi kemampuan teknisi kita dapat dikatakan sudah bisa bersaing di level internasional, terbukti dengan berbagai pengakuan regulator internasional sekelas Amerika dan Eropa.

“Penetapan harga tiket menjadi langkah menentukan yang perlu dicermati dengan baik, mengingat harga tiket merupakan critical point bagi maskapai untuk tetap sustain ditengah ketatnya persaingan industri penerbangan,” tambahnya.

Adapun acuan pokok terkait penerapan tarif tiket penerbangan sudah diatur dalam kebijakan PM 14 tahun 2016 tentang mekanisme formulasi perhitungan dan penetapan tarif batas atas dan bawah penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri.

“Dimana dalam aturannya memuat antara lain formulasi dan komponen tarif yang terdiri dari pajak, asuransi, biaya PSC pelayanan penumpang di bandara dan biaya tambahan (pilihan penumpang secara opsional). Besaran tarif yang dibayar juga berbeda menurut kategori pelayanan maskapai (full services medium service dan no frill),” sambungnya.

Namun demikian, peraturan tersebut tidak mengikat  batasan tarif kelas bisnis yang lebih tinggi. Hal tersebut yang tentunya dapat dioptimalkan oleh Garuda Indonesia yang juga dikenal atas layanan premium dengan segmentasi pasar menengah keatas untuk melakukan strategi dan penetrasi pasar di segmentasi pasar midle high tersebut.

Agus menegaskan, bahwa menjadi tantangan tersendiri dalam menyesuaikan paradigma berpikir sebagai bagian dari manajemen maskapai untuk  konsisten dan comply terhadap regulasi “Air Operator”, walaupun pembatasan aturan tersebut dibuatnya sendiri  dalam fungsi yang lain yaitu sebagai regulator (Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub RI).

Seperti diketahui, Agus Santoso telah menyelesaikan masa bakti sebagai Dirjen Perhubungan Udara dikarenakan telah memasuki batas usia masa bakti sebagai Pejabat Pimpinan Tinggi ASN di Kementerian Perhubungan yang telah paripurna tugas bulan Agustus yang baru lalu. Agus dianggap sebagai sosok yang tepat dalam mendukung peningkatan kinerja Garuda Indonesia.

“Dibawah kepemimpinannya sebagai Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI, Agus sukses mengantarkan Indonesia melintasi seluruh wilayah penerbangan udara dunia, khususnya Eropa yang selama 11 tahun lamanya dihadapkan pada status larangan terbang,” ujar Dicky Corporate Secretary Garuda Indonesia kepada TribunAsia.com.

Agus juga mencatatkan sejumlah deretan prestasi lain, di antaranya menaikkan peringkat Indonesia di dunia internasional untuk masalah keselamatan penerbangan dengan nilai pemenuhan keselamatan penerbangan Indonesia jauh melampaui rata-rata dunia, yakni 80,34 persen dari standar 60 persen (Global Aviation Safety Plan). Indonesia pun melompati 97 negara, dari urutan 155 menjadi posisi 58.

Selain itu, selama kurun waktu jabatannya sebagai Dirjen Udara telah terealisasi zero passenger fatal accident (tidak ada penumpang meninggal akibatkan kecelakaan pesawat).

 

POTENSI REVENUE DAN OPERASIONAL GARUDA INDONESIA

Menjawab pertanyaan media tentang bagaimana tren kinerja maskapai Garuda Indonesia sejak dipercaya menjadi Komut baru Garuda Indonesia. Ia menjelaskan bahwa terdapat dua langkah utama yang ia arahkan terhadap manajemen. Yakni orientasi peningkatan revenue, dan memaksimalkan prosedural operasional yang tepat guna melalui prinsip prinsip cost leadership.

“Cost leadership tersebut satunya dilakukan dengan cara mensimplifikasikan aturan operasi yang non-mandatory untuk menghasilkan performa operasional yang taktis, adaptif, dan tentunya mengedepankan aspek safety dan layanan,” tandas pihak Garuda Indonesia.

Ada beberapa langkah bersama yang saat ini tengah diinisiasikan Agus bersama dengan manajemen Garuda Indonesia, dalam kaspasitasnya sebagai Komut ia memberikan beberapa guidance dengan bekal pengalamannya di dunia penerbangan selama 33 tahun dan sebagai regulator Direktorat Jenderal Perhubungan Udara diantaranya melalui penggalaman dan wawasan akan road map pengembangan jaringan penerbangan.

Ia menilai capaian pengembangan jaringan yang dilaksanakan Garuda Indonesia saat ini perlu untuk terus dioptimalkan untuk meningkatkan performa revenue perusahaan.

“Khusus untuk jaringan rute penerbangan long haul untuk sektor penerbangan Eropa juga harus diterus dioptimalkan secara konstruktif baik melalui pengkajian ulang efektivitas dan profitabilitas rute dengan menyelaraskan pada tren market di rute rute baru di Eropa,” tambah Garuda Indonesia.

Agus memaparkan, prospek potensi pasar di langit Eropa juga masih menyimpan berbagai potensi komersial yang bisa dikembangkan. Untuk itu, Garuda juga harus memegang kendali atas potensi code sharing terhadap konektivitas penerbangan ke kota maupun negara lain di Eropa melalui hub penerbangannya di Amsterdam.

Selain itu, Agus juga menekankan bahwa pentingnya memperkuat value brand image Garuda Indonesia dari aspek safety. Untuk itu, value brand tersebut harus tetap dipertahankan bahkan harus terus ditingkatkan levelnya, khususnya untuk mempertahankan loyalitas penumpang walaupun harga tiket Garuda Indonesia lebih tinggi dibanding dengan airline yang lainnya.

Agus Santoso menekankan bahwa tingginya kualitas safety penerbangan berdampak besar bagi kepercayaan pelaku industri penerbangan. Terdapat multipyer effect yang berkelanjutan dalam seluruh factor penunjang operasional penerbangan yang berpusat pada aspek safety. Untuk itu upaya peningkatan daya saing usaha penerbangan tetap harus mengedepankan prinsip safety-centris.

Untuk itu, Agus memaparkan bahwa penting bagi Garuda untuk selalu memastikan aspek safety tersebut selalu terjaga dengan mengedepankan 3S + 1C (savety, security, services, dan comply). Dengan komitmen keselamatan penerbangan yang terus terjaga, Agus optimistis, Garuda Indonesia dapat memiliki bargaining point dan value services tersendiri di dalam peta persaingan industry penerbangan dunia.

Lebih lanjut, Agus memaparkan, peningkatan revenue bisa didapatkan juga dari penetrasi rute regional, melalui jalinan network berdasar pengembangan jaringan codeshare dengan pengalihan dari rute yang kurang perform ke rute rute dengan value konektivitas yang menguntungkan.

Selain itu, PT Garuda Indonesia Corporate Secretary menyampaikan, sejalan dengan momentum pasar Asean Open Sky Policy, potensi pasar regional juga memiliki ceruk bisnis tersendiri. Namun demikian, walaupun pasar kita yang terbesar, ternyata penerbangan Indonesia dari dan ke negara-negara Asean itu 52 persen dilayani  maskapai penerbangan asing dan maskapai Indonesia hanya 48 persen.

“Untuk itu, opportunity market ini yang juga akan kami eksplore lebih lanjut dalam memaksimalkan potensi revenue perusahaan. Adapun dari aspek komersial, Agus menekankan pentingnya untuk terus menggencarkan konsep marketing yang lebih adaptif. Seperti yang saat ini dilakukan melalui pelaksaan GATF yang tidak hanya menawarkan harga kompetitif tetapi juga memberikan opsi paket perjalanan yang menarik. Hal tersebut tentunya dapat meningkatkan komponen revenue perusahaan,” papar Dicky.

Sementara itu, komitmen Redefine Cost Structure juga dapat dilakukan melalui opsi pengaturan Cost Index dan Fuel Conservation, kedua langkah ini berhubungan erat dengan  optimization program antara operation speed pesawat,  jarak tempuh penerbangan, flight level, variasi tail wind dan head wind serta parameter operasional performasi terbang  lainnya.

Kemudian melalui keterangannya, Corporate Secretary Garuda Indonesia  maksimalisasi maintenance calendar yang jatuh temponya diatur setepat mungkin agar bisa menghindari penumpukan perawatan pada kurun waktu yang bersamaan sehingga bisa menurunkan utilitas pesawat karena waktu tunggu. Lebih lanjut, opsi pengkajian optimalisasi schedule rotasi crew pesawat juga menjadi langkah yang perlu dicermati. Selain itu, simplifikasi prosedural operasional penerbangan juga dapat ditempuh  dengan opsi penggunaan satu engine yang dihidupkan selama pesawat taxi dari apron menuju runway.

Agus optimistis sejalan dengan komitmen yang dicanangkan manajemen melalui program “Quick Wins Garuda Indonesia” dalam mengedepankan aspek Corporate Culture Transformation, Enhancement Revenue, dan Redefine Cost Structure based on shared service organization. Garuda Indonesia dapat melakukan terobosan akselerasi peningkatan kinerja perusahaan tanpa harus mencederai aspek kesehjahteraan pegawai sebagai core value perusahaan. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *