oleh

LKBH, FH Universitas Suryadarma Keberatan Bukti Tes Urine Tidak Dilampirkan dalam Sidang Narkotika

Jakarta, TribunAsia.com – Penasehat Hukum terdakwa Lusyadi merasa keberatan terhadap keterangan saksi dari penyidik Polres Jaktim yang menerangkan kejadian penangkapan terhadap terdakwa didalam BAP tidak sesuai. Hal itu diungkapkan dimuka persidangan PN Jaktim, karena kliennya tidak terbukti memiliki atau menguasai dua linting ganja yang kini terseret di pengadilan.

“Mengapa BAP Rohadi dan Lusyadi digabungkan padahal yg membeli, menyimpan, menguasai, memiliki  dan memakai ganja adalah Rohadi. Lusyadi hanya memberi patungan uang saja 50 ribu ke Rohadi. Rohadi membeli ganja dengan harga 100 ribu. Lusyadi tidak membeli, menyimpan, memiliki dan menggunakan ganja tersebut,” kata Tim Kuasa Hukum dari LKBH, FH Universitas Suryadarma, Senin (8/10/2018).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Menurut, Indah Sari, SH, M.Si, Okky Syahputra, SH., dan Nevry Berty Tombokan, SH terdakwa Lusyadi (kliennya) ditangkap polisi ketika tengah tidur dan tidak memiliki ganja seperti yang tertuang di BAP.

Mereka menambahkan, selama persidangan tidak pernah dilengkapi bukti-bukti dari keterangan tes urine didalam BAP seperti yang telah disampaikan oleh saksi diruang sidang Soebekti.

“Bahwa selama persidangan tidak pernah dihadirkan hasil tes urine dan tes darah kedua terdakwa.Pada agenda hari ini penyidik menyatakan telah melakukan tes urine kepada Rohadi dan Lusyadi. Tetapi hasil tes urine itu tidak dilampirkan ke dalam BAP. Dan tidak pernah dilihatkan dalam persidangan,” tandas Tim penasehat hukum.

Tim Kuasa Hukum dari LKBH, FH Universitas Suryadarma.

Rohadi dan Lusyadi selaku terdakwa dikenakan Pasal 114 dan 111 Undang-Undang RI tentang narkotika No. 32 tahun 2009.

“Sehingga akhirnya  keduanya di dakwa sama oleh JPU yaitu Pasal 114 ayat 1, jo pasal 111 ayat 1 jo pasal 132 ayat 1 UU RI No.32 tahun 2009 tentang narkotika,” ujar penasehat hukum.

Kemudian, Tim LKBH Fakultas Hukum Universitas Suryadarma turut menyampaikan, barang bukti dua linting ganja dengan berat 1,13 gram serta sisa pemakaian ganja tidak pernah diperlihatkan dari jumlah keseluruhannya dipersidangan.

“Bahwa barang-barang bukti tidak dipaparkan seluruhnya selama fakta persidangan. Yang hanya dipaparkan 2 linting ganja saja dengan berat 1.13 gram. Sedangkan ada sisa pemakaian ganja dan messenger Rohadi ke Davia (seorang laki-laki DPO) tempat Rohadi membeli ganja tersebut di BKT Duren Sawit (Jaktim) tidak dihadirkan di persidangan,” beber pengacara Lusyadi.

Sidang dipimpin oleh Tri Hadi Budi Satrio, SH Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur serta didampingi Hakim anggota Asban Panjaitan, SH.,MH dan Posma P Nainggolan, SH.,MH.

“Inikan dari penuntut umum (JPU). Apakah temennya mau jebloskan sendiri. Bahwa dia tidak di BAP. Ya gini aja kalau saudara yakin dia berbohong dia disumpah Al-Qur’an. Kan nggak mungkinlah dan saya banting-banting supaya ngaku,” kata Tri.

Sementara, Jaksa Penutut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Jakarta Timur dihadiri oleh Handri, SH.

Lebih jauh, LKBH mengatakan, seyogyanya yang menjadi fakta hukum adalah yang disampaikan dalam persidangan bukan bersumber dari BAP sesuai dengan Pasal 52 KUHAP.

“Bahwa seharusnya yang menjadi fakta hukum adalah fakta yang disampaikan di dalam persidangan bukanlah fakta yang disampaikan didalam BAP sesuai dengan Pasal 52 KUHAP,” jelasnya.

Akan tetapi, sambung Tim Penasehat Hukum, yang menjadi keberatan dari kliennya telah dicatat oleh Majelis Hakim.

“Dan keterangan terdakwa adalah apa yang disampakan di dalam persidangan  bukan dalam BAP ini sesuai denga pasal 189 ayat 1 KUHAP,” terangnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *