oleh

Shahih Muslim : Iman yang Istiqamah

TribunAsia.com

Iman Kepada Allah dan Istiqamah(Konsisten)

Iklan 52 Khutbah Jum'at

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ (وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ). قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam yang tidak akan saya tanyakan kepada seseorang sesudah kamu!” (Disebutkan di dalam hadits Abu Usamah, …yang tidak akan saya tanyakan kepada seseorang selainmu). Beliau menjawab, ‘Katakanlah! Saya beriman kepada Allah lalu konsistenlah (dengan apa yang kamu ucapkan)!’”(Muslim 1/47)

 

Tanda-tanda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Iman Kepadanya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا قَدْ أُعْطِيَ مِنْ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Tidaklah ada seorang nabipun yang tidak diberikan ayat-ayat (tanda-tanda kenabian) yang dengan itu manusia menjadi beriman, dan sesungguhnya apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah, maka aku berharap pengikutku adalah yang paling banyak di antara nabi-nabi yang lain pada hari kiamat nanti. ” {Muslim 1/92-93}

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Dari Abu Hurairah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, tidak seorangpun dari kalangan Yahudi atau Nasrani dari umat ini yang mendengar ajaranku, kemudian ia mati tanpa mengimani risalahku, kecuali ia tergolong penghuni neraka. ” {Muslim 1/93}

عَنْ صَالِحِ بْنِ صَالِحٍ الْهَمْدَانِيِّ عَنْ الشَّعْبِيِّ قَالَ رَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ خُرَاسَانَ سَأَلَ الشَّعْبِيَّ فَقَالَ يَا أَبَا عَمْرٍو إِنَّ مَنْ قِبَلَنَا مِنْ أَهْلِ خُرَاسَانَ يَقُولُونَ فِي الرَّجُلِ إِذَا أَعْتَقَ أَمَتَهُ ثُمَّ تَزَوَّجَهَا فَهُوَ كَالرَّاكِبِ بَدَنَتَهُ فَقَالَ الشَّعْبِيُّ حَدَّثَنِي أَبُو بُرْدَةَ بْنُ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَّاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ ثُمَّ قَالَ الشَّعْبِيُّ لِلْخُرَاسَانِيِّ خُذْ هَذَا الْحَدِيثَ بِغَيْرِ شَيْءٍ فَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يَرْحَلُ فِيمَا دُونَ هَذَا إِلَى الْمَدِينَةِ

Dari Shalih bin Shalih Al Hamdani, dari Asy-Sya’bi, dia berkata, “Saya pernah melihat seorang laki-laki dari Khurasan bertanya kepada Asy-Sya’bi, “Wahai Abu Amru! orang-orang dari penduduk khurasan di daerah kami mengatakan, bahwa orang yang memerdekakan budak perempuannya lalu ia menikahinya, maka seperti orang yang menunggangi untanya sendiri.” Asy-Sya’bi menjawab, “Bahwasanya Abu Burdah bin Abu Musa telah memberitahuku (satu riwayat) dari ayahnya, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada tiga macam orang diberi pahala dua kali.

(1) Ahli kitab yang beriman kepada nabinya, kemudian menemui masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia beriman, mengikuti dan membenarkannya, maka ia mendapat dua pahala.(2) Seorang budak yang menunaikan hak Allah Azza wa Jalla dan hak majikannya, maka ia mendapat dua pahala(3) Seorang laki-laki yang mempunyai budak perempuan lalu memberinya makan dengan baik, memperlakukannya dengan baik, kemudian memerdekakannya danmenikahinya, maka ia mendapat dua pahala. ” As-Sya’bi kemudian mengatakan kepada orang Khurasan itu, “Terimalah hadits ini tanpa ganjalan apapun.” Laki-laki tersebut (orang Khurasan) pergi ke Madinah dan bukan hanya mendapatkan hadits ini saja. {Muslim 1/93}

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *